Menjemput Momentum Kebahagiaan

ITB 18.00 – Pesan masuk ke Whatsapp. Seperti biasa, itu pesan darinya. Jam segini dia selalu bertanya, aku pulang jam berapa dan sholat maghrib dimana. Aku pun menjawab kalau aku akan pulang setelah maghrib, sembari menunggu hujan yang kian deras. Selalu, ia berdoa dan berpesan agar aku berhati-hati di jalan. Terlihat rutinitas yang sederhana, tapi menenangkan, dan mudah-mudahan menjadi keberkahan.

Hari ini tampak seperti biasa, tak ada yang istimewa. Namun, saat dia mengabari bahwa bulek[1]  datang ke rumah, aku merasa ada yang beda.  Apalagi setelah tahu bahwa Ibu sedang membuat gudangan[2], semakin menguatkan bahwa malam ini ada acara khusus. Mendengar begitu, aku langsung mengubah pikiran: segera pulang, meski harus menerjang hujan. Karena aku yakin, inilah salah satu ikhtiar menjemput momentum kebahagian. Momentum yang sejatinya sudah aku rencanakan besok harinya, tiba-tiba harus dimajukan satu hari dengan rencana seadanya. Continue reading “Menjemput Momentum Kebahagiaan”

Setahun Yang Lalu

Tak terasa tepat 1 tahun sudah aku menjalani fase hidup berumah tangga. Hidup berkeluarga tidak semudah dan sesusah yang dibayangkan sebelumnya. Senyum, canda, tawa mewarnai hari-hari kami. Begitu juga dengan sedih, tangis, dan air mata. Namun, dibalik suka dukanya merajut cinta dan cita ini, aku selalu bersyukur dan berkata dalam hati bahwa, aku bahagia dan ridha engkau menjadi pendampingku.

Terima kasih telah selalu menerimaku apa adanya, dan mohon maaf bila belum sempurna membahagiakanmu. Mari kita terus berbenah diri dan menyambut sang buah hati. Semoga kita selalu dinaungi cinta dan ridha-Nya, aamiiin…

Image

Hujan Kali Ini

Malam ini, hujan kembali menyapa bumi
Jatuh bersimpuh pada pangkuan pertiwi
Sinaran cahaya temaram, mata coba kupejam
Berharap tenang atas segala penat
larut luruh terhapus oleh mimpi indah
Tapi tak bisa, dalam diam aku masih terjaga
Ada senarai rindu begitu menyesak dada
Memanggil kembali masa saat bersama

Hujan kali ini, mengingatkan aku akan seorang ia
Yang selalu mengusap air mataku saat aku menangis
Yang selalu menyelimuti tubuhku saat aku menggigil
Yang selalu menghibur hatiku saat aku bersedih
Yang selalu memberi tiada pernah menuntut kembali
Yang selalu bermandikan peluh tanpa pernah mengeluh
Yang selalu tersenyum bahagia saat derita melanda
Yang selalu kuat terjaga saat aku sedang lara
Yang selalu berdoa meski tanpa kupinta
Dan yang selalu mencinta sepanjang masa

Hujan kali ini, adalah saksi alami
Meretas janji, untukmu yang tak terganti
Bahwa pasti, atas rido ilahi, aku segera kembali
Sepenuh cinta, ke pelukanmu lagi

—Winter Nite, Tokyo @2011

Ada Cinta Dalam Diam

“Kak, maw buat psen dan kesan nggak buat ortu? Klo iya, smsin skrg kesini, ntar kita kasih ke ortu kakak waktu acara siang?”, sms dari LO itu seakan membangunkanku dari ‘tidur’ yang panjang. Selama ini aku terlelap dalam karakter diamku. Aku sendiri bingung apakah ini karena warisan atau hanya karena pergaulan saja. Tapi yang aneh, kakak dan adikku juga mempunyai sifat yang cenderung sama: pendiam, pemalu, kurang ekspresif. Mungkin karena memang lingkungan keluarga yang membentuk kami menjadi seperti itu. Tidak heran, komunikasi kami cenderung biasa saja, tidak seperti keluarga tetangga yang begitu dekat. Apa karena kami semua laki-laki? Sepertinya tidak juga, soalnya keluarga tetangga juga banyak laki-lakinya, tapi mereka bisa begitu dekat.

Sejauh yang aku ingat, aku belum pernah menyatakan secara langsung pesan/kesanku pada Ibu. Selama ini hanya pesan tidak langsung yang sering aku sampaikan ke teman-temanku, tentang betapa ‘sempurna’nya Ibu bagiku. Padahal ingin sekali rasanya menyampaikan rasa itu secara langsung, tapi entah kenapa serasa ada sesuatu yang aneh jika hendak mengatakannya. Entah kenapa tiba-tiba mulut ini tak bisa berkata sewajarnya, tak mau mengikuti keinginan hati yang menggebu. Tidak hanya kepada Ibu, kepada kakak dan adik juga terdeteksi gejala yang sama. Sangat berat untuk memulai komunikasi yang ‘cair’. Oleh karena itulah, aku lebih suka berkomunikasi dengan tulisan. Lebih suka sms daripada telpon.

Aku masih memandangi pesan pendek di layar HPku. Mungkin inilah saatnya aku menyampaikannya. Meski masih belum bisa secara langsung, tapi aku harap pesanku ini bisa mewakili apa isi hati. Bahwa ada cinta dalam diam, layaknya diamnya Habibie dan Ainun yang selalu memancarkan cinta. Meski terpisah ruang waktu dan terhijab oleh aktivitas masing-masing, energi cintanya selalu menguatkan satu sama lain. Begitu juga doa dan harapku untuk Ibu…

Meski tak mampu mengungkap lewat laku
Ada cinta dalam diamku
Meski tak bisa mengurai lewat kata
Ada cinta dalam air mataku
Kepada Allah kutitipkan cinta ini
Untukmu yang berhati lembut

—hanya seberkas gundah di keheningan malam