Langit Kampus

Langit kampus beberapa hari ini terlihat indah sekali, paling engga itu menurut pandanganku. Awan putih mengkilat menghiasi hamparan biru yang lapang, membentangkan cakrawala yang tenang. Damai rasanya mentapnya penuh lekat. Ia lah anugerah ilahi untuk dinikmati dan disyukuri.

Sebuah ruang kecil terbuka di lantai 4 PAU menjadi salah satu alternatif melepas penat. Dengan sedikit membuka pintu hitam, menarik kedua gagang pintu ke arah yang berlawanan, terbukalah panorama langit barat kampus. Ada tiga kursi tua berjejer di ruang sempit itu. Dua berbahan kayu, dengan busa tempat duduk yang sudah amburadul, yang satu dari besi yang sudah berkarat. Meski begitu tetap saja nyaman menemani wisata langit kampus. Terkadang gerimis, hujan deras, atau panas cerah berawan. Dua yang pertama hanya bisa kunikmati beberapa saat dari sisi dalam kaca jendela dan pintu berbalut kayu hitam tadi. Tidak mungkin aku membukanya: air dan angin di luar sana begitu dingin mengancamku. Berbeda dengan saat terang, panas, penuh awan, aku cukup betah duduk di kursi tua di sisi utara. Meski tidak lama, tidaklah sampai 15 menit. Cukup melempar pandang ke sekeliling langit, ke lorong panjang labtek biru, mendengarkan teriakan dari GSG, atau asyik membaca mushaf mungil hadiah sahabat. Itu semua sudah cukup untuk menghilangkan seberkas penat atau gelisah yang menempel di hati dan pikiran. Sederhana bukan?

Langit Labtek Biru dari PAU

Langit timur kampus juga sama indahnya. Cuma aku jarang menikmatinya karena memang tidak ada ruang yang nyaman untuk menyendiri dan menikmatinya. Mungkin hanya sekilas pandang dari sisi dalam jendela, sekalian saat ingin menuruni tangga. Berjalan mencari jajanan di belakang (gorengan, pisang karamel,  susu murni, dll), mengunjungi teman di labtek 8, melihat-lihat informasi di TU, atau memenuhi panggilan azan Salman.

Langit Perpus Pusat dari PAU

Sayang lukisan alam yang indah itu tidak bisa terbingkai dalam foto yang indah bak aslinya. Ini murni karena kualitas kamera HP yang tidak memadai. Keinginan (bukan kebutuhan) untuk membeli kamera DSLR belum terpenuhi, mungkin suatu saat nanti.

Yang Terbaik Bagimu

Penjiwaan terhadap lagu sangat bergantung dari kondisi hati saat mendengarkannya. Satu lagu yang sama bisa menghasilkan ekpresi yang berbeda. Kadang datar-datar saja, kadang gembira, atau ekstrimnya berurai air mata. Variabel lain yang berpengaruh adalah lingkungan sekitar. Sangat susah bagi kita untuk menangis, di saat teman-teman sekitar kita tersenyum. Begitu juga sebaliknya.

Ada satu lagu yang sudah sangat populer di telinga kita. Lagu bertajuk Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah) ini dinyanyikan oleh Ada Band featuring Gita Gutawa. Pertama kali diluncurkan ke pasar tahun 2005 lalu, lagu ini bersama 11 lagu lain yang tergabung dalam album Heaven of Love berhasil mengantarkan Ada Band memperoleh penghargaan Quadruple Platinum dengan raihan penjualan melebihi 600 ribu kopi. Apa yang istimewa dari lagu ini? Melodi yang indah sudah jaminan. Lirik yang dalam juga sudah jelas. Apalagi merdu dan harmoni suara Donnie dan Gita, sudah tidak diragukan lagi. Terlepas dari apa yang tadi sudah disebutkan, ada satu hal yang sangat spesial dari lagu ini.

Lagu wisuda! Begitulah salah seorang sahabat menyebutnya. Entah sejak kapan lagu ini dinyanyikan saat malam wisuda jurusan kami. Yang jelas, beberapa malam wisuda terakhir yang aku ikuti, terdengar paduan suara lagu ini yang menggetarkan hati. Aku yang biasanya enjoy saja mendengarkan lagu ini, tiba-tiba larut dalam kesyahduan dan kesenduan. Aku yang biasanya sulit untuk menangis, hari itu tidak kuat menahan butiran air mata yang ingin terjatuh. Betapa tidak, meski ada suara fals yang mengiringi, kebersamaan dalam bernyanyi di hadapan orang tua begitu mengharukan. Malam dimana mereka secara resmi dilepas dari kampus impian (ada yang 4 tahun pas, lebih sedikit, atau lebih banyak) merupakan saat-saat yang tak terlupakan. Tidak terbayang olehku. Meski aku hanya sebagai penonton, aku bisa larut dalam keharuan itu. Bagaimana jika aku yang ada di antara mereka, berada di depan orang tua tercinta? Mungkin tidak kuasa diri ini untuk menahan isak tangisnya.

Momen indah itu semakin dekat. Momen yang sangat ditunggu-tunggu mahasiswa tingkat lanjut yang sedang berjuang dengan tugas akhirnya. Momen untuk melepaskan beban untuk sementara. Sejenak beristirahat, untuk mengemban tugas berikutnya dalam melewati episode-episode kehidupan. Itu juga yang sedang kuhadapi. Untuk pertama kalinya aku akan membawa keluargaku keluar dari kampung halamannya. Melihat warna lain dunia. Meski tidak lama, semoga bisa menguatkan ikatan cinta di antara kami. Sebagai tambahan bekal bersua kembali  di surga-Nya kelak. Amiin.

Stanford, Kampus Impian

Awalnya tidak pernah terlintas dalam benakku kata “Stanford“. Aku tidak tahu apakah itu nama orang, nama kota, atau nama stadion. Mungkin opsi terakhir terasa lebih familiar, pasalnya nama tersebut mirip dengan nama stadion kebanggaan klub sepakbola Chelsea, yaitu Stamford (Bridge), yang terletak di Ibu kota Inggris. Ternyata aku tidak sendirian, teman-temanku pun -penggemar bola- juga beranggapan sama. Lalu, kenapa kata itu sekarang terasa begitu dekat dan sering terngiang-ngiang dalam pikiranku??? Berikut ini awal mula perkenalanku dengan kata tersebut.

Sebenarnya aku sendiri tidak begitu ingat kapan pertama kali aku mendengarnya. Yang teringat hanyalah ketika aku mulai mengenalnya, membacanya, dan tertarik padanya. Kejadian itu bermula saat aku mencari bahan di internet untuk membuat essay yang akan saya ikutkan ke dalam lomba menulis essay ITB, mungkin sekitar pertengahan 2007. Waktu itu, topik yang aku bawa adalah tentang kondisi dan peluang industri elektronika khususnya semikonduktor di Indonesia. Saat sedang asyik googling, aku terdampar di salah satu situs wikipedia yang memuat salah satu tokoh legendaris dan panutan ITB, Prof. Samaun Samadikun. Aku sering mendengarnya dari banyak dosen, namun sekalipun aku belum pernah bertatap muka dengannya. Namun, dari cerita yang sering kudapat, beliau merupakan sosok yang fenomenal, tokoh yang sangat dihormati banyak kalangan. Tidak heran jikalau, beliau dinobatkan sebagai Bapak Elektronika Indonesia, karena memang banyak sekali sumbangsihnya terhadap perkembangan teknologi elektronika Indonesia. Dan salah satu yang menarik dari perjalanan hidup beliau adalah beliau mendapatkan gelar master dan doktornya dari Stanford University. Bahkan ketika itu, beliau berhasil membuat paten, US Patent No 3,888,708 yang bertajuk, “Method for forming regions of predetermined in silicon”. Sejak saat itulah -karena kekagumanku akan sosok beliau- aku tertarik untuk melanjutkan studi di sana dan meneruskan cita-cita beliau mengembangkan pendidikan dan teknologi elektronika nasional.

Ketika itu juga aku tahu dan menyadari bahwa langkah ke sana begitu berat. Persaingan untuk bisa kuliah di sana begitu ketat karena memang Stanford merupakan kampus  terkemuka di USA bersama dengan MIT dan UC Berkeley. Melalui Stanford, lahirlah banyak ilmuwan dunia peraih Nobel dan juga lahirlah perusahaan raksasa dunia seperti Google, Intel, Cisco, NVIDIA, HP, Yahoo, Nike, Sun Microsystems, dll.  Untuk itulah, diperlukan persiapan dini yang ekstra keras agar bisa menembusnya.

Aku mulai memfokuskan bidang keahlian ke arah IC Design and Verification, bidang yang sangat di-support oleh Stanford dengan fasilitas laboratorium yang lengkap dan kerja-sama yang kuat dengan perusahaan elektronika yang berbasis di Silicon Valley. Aku juga sudah mulai mencari semua referensi berkaitan dengan admission process di Stanford. Aku sangat terbantu sekali dengan adanya teman virtual yang sedang mengambil kuliah di Computer Science, Stanford. Dia sering memberiku update info terbaru tentang Stanford, bahan-bahan yang perlu dibaca sebelum mendaftar, atau sekedar memberiku saran dan semangat. Aku juga mulai berkonsultasi dengan banyak dosen dan senior berkenaan dengan proses pendaftaran dan pembiayaan kuliah di USA. Dan memang salah satu hambatan terbesar adalah biaya kuliah yang sangat mahal (untuk ukuranku). Untuk bahasa relatif bisa dilatih, kemampuan juga bisa ditingkatkan, tapi untuk masalah uang, cukup berat menghadapinya. Mungkin salah satu solusinya adalah beasiswa, yang sementara ini belum ada yang bisa menanggung biaya keseluruhan (hanya sebagian). Namun, jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Tugas kita hanyalah berencana dan berusaha sekuat tenaga. Hasil, serahkan saja pada-Nya.

Memorial Hall of Stanford University

Jalan menuju Stanford University

Dan kini aku sudah ber-azzam bahwa minimal sekali dalam hidup ini akan menapakkan kaki di sana, baik hanya kunjungan semata atau sebagai mahasiswanya. Insya Allah, amiin.