Menjemput Momentum Kebahagiaan

ITB 18.00 – Pesan masuk ke Whatsapp. Seperti biasa, itu pesan darinya. Jam segini dia selalu bertanya, aku pulang jam berapa dan sholat maghrib dimana. Aku pun menjawab kalau aku akan pulang setelah maghrib, sembari menunggu hujan yang kian deras. Selalu, ia berdoa dan berpesan agar aku berhati-hati di jalan. Terlihat rutinitas yang sederhana, tapi menenangkan, dan mudah-mudahan menjadi keberkahan.

Hari ini tampak seperti biasa, tak ada yang istimewa. Namun, saat dia mengabari bahwa bulek[1]  datang ke rumah, aku merasa ada yang beda.  Apalagi setelah tahu bahwa Ibu sedang membuat gudangan[2], semakin menguatkan bahwa malam ini ada acara khusus. Mendengar begitu, aku langsung mengubah pikiran: segera pulang, meski harus menerjang hujan. Karena aku yakin, inilah salah satu ikhtiar menjemput momentum kebahagian. Momentum yang sejatinya sudah aku rencanakan besok harinya, tiba-tiba harus dimajukan satu hari dengan rencana seadanya.

Sambil bergegas mengemas laptop dan buku ke tas, aku coba ‘googling’ untuk mematangkan rencana. Alhamdulillah, ternyata toko yang akan dituju baru akan tutup jam delapan; masih sempat mengingat saat ini masih jam enam seperempat. Segera setelah scan sidik jari, aku beranjak keluar gedung PAU[3]. Ternyata hujan di luar lebih lebat dari yang kukira. Apa daya, karena lupa membawa payung, aku pun berlari menuju tempat parkir motor.

Tidak hanya hujan deras, banjir di sepanjang jalan dalam kampus pun harus dilalui. “Tak apa lah basah kuyup gini, toh hanya sesekali”, pikirku sederhana. Selepas melewati gerbang depan kampus, baru terlihat kalau kondisi jalan jauh lebih parah dari perkiraan sebelumnya. Rencana awal menuju Dipati Ukur via jalan Juanda dan Simpang Dago pun batal. Apa pasal? Arus banjir dari arah atas Dago begitu kencang. Dari perempatan jalan Ganesha – Boromeus tak memungkinkan untuk belok ke kiri; mesin motor tak kuat melawan arus. Bahkan ada motor di depanku yang harus didorong oleh beberapa orang. Sempat terjebak di tengah laju deras air, kuputuskan mengambil jalur alternatif searah arus menuju Boromeus. Kemudian belok kiri menyisir air di sepanjang jalan Hasanudin. “Wah, ternyata jalur ini lebih dekat ke tujuan semula: Dipati Ukur 44”, dalam hatiku girang, meski masih harus berjibaku dengan banjir.

Rabbani 18.30 – Akhirnya sampai juga di Dipati Ukur 44. Seperti informasi di internet, toko ini masih buka sampai jam delapan. Segera setelah memarkir motor, melepas jas hujan, dan menitipkan tas di loker, aku bergegas meluncur ke lantai 2. Di lantai ini lah koleksi baju untuk perempuan berada. Berkali-kali, bolak-balik model pakaian, sambil melirik harga di ujung kerah. Sebisa mungkin mencari yang terbagus, namun juga termurah. Sementara tetes air dari baju dan sepatu mulai menjalar ke lantai, mengikuti kemana langkah ini bergerak. “Ini gak papa Mba lantainya jadi basah?”, aku sedikit beretorika. “Oh, gak papa Mas”, jawaban yang sudah bisa ditebak. Karena sebelumnya aku sudah menanyakan ini ke satpam di depan pintu masuk.

Tak ingin berlama-lama, baju warna cerah dengan hiasan bunga di tengah menjadi pilihan terindah. Segera bergegas ke kasir untuk pembayaran dan meminta jasa pembungkusan untuk kado. Sembari menunggu kado terbungkus, aku menuju mushola di lantai 4. Mushola yang rapi, bersih, dan indah. Jauh unggul dari mushola yang ada di mall-mall Bandung. Setelah sholat, aku sempatkan menulis dalam selembar kertas beberapa baris kata dan doa. Semoga semua ini bernilai pahala di sisi-Nya.

Yap, bingkisan kadonya sudah selesai. Hujan di luar pun sudah menipis. Saat yang tepat untuk bergegas pulang. Tas, jas hujan, dan kado sudah siap. Sesaat mau menaiki motor, sang satpam berucap, “Mas, itu ban kayanya bocor!”. Waduh, benar saja, ban belakang sudah kempes. Gawat nih, padahal niat hati ingin segera kembali ke rumah. Dimana malam-malam seperti ini ada tukang tambal ban? Keep calm and find a way out!

Kemudahan selalu membersamai kesulitan. Ternyata di seberang jalan, tepatnya di pertigaan Unpad, ada tukang tambal ban. Hanya beberapa puluh meter menuntun motor, sudah sampailah di tempat yang dituju.

Unpad 19.30 – Aku mengira tambal ban di sini bakal mahal, apalagi ini kan malam, hujan dan banjir pula. “Kalau bocornya kecil 8 ribu, kalau agak besar 10 ribu”, jelas tukang penambal. Ternyata terjangkau harganya. Tanpa banyak bicara, sang tukang pun langsung bekerja. Tak lama kemudian ketemu lah sumber bocornya. Sedikit lubang di bagian samping ban. Syukurlah, hatiku tenang.

Baru saja sejenak tenang, sang tukang kembali membuatku tegang. Pasalnya lubang bocor itu tepat di sisi samping atas katup pentil. Yang artinya tidak bisa ditambal, karena tidak bisa di-press dengan alat penambal. Solusi satu-satunya adalah ganti ban baru. Meski harus membayar 5 kali lipat harga tambal, pilihan ini harus diambil. Sepuluh menit kemudian motor sudah siap seperti semula. Saatnya pulang, semoga tak ada lagi aral rintang menghadang.

Jalanan bisa dibilang cukup lancar. Sisa-sisa air banjir masih melipir di pinggir. Titik air yang cukup dalam ada di perempatan Cikutra. Selebihnya sudah surut; hanya saja sampah dari selokan meluber di beberapa ruas tengah jalan menuju kompleks Mandala.

Mandala 20.30 – Akhirnya sampai juga di rumah juga. Di sana keluarga sudah menunggu dan gudangan pun sudah siap disantap. Setelah mandi dan sholat, kita pun berkumpul di ruang tengah. Di sana sudah ada Bapak dan Ibu mertua, bulek dan anaknya, adik ipar dan adik sepupu, dan tentu saja aku dan istriku. Acara ini seperti sudah menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga istriku bilamana ada anggota keluarganya yang ulang tahun. Sederhana saja, hanya sebentuk syukuran dengan membuat gudangan, berkumpul dan makan bersama. Tentu saja diselipkan untaian doa dari seluruh keluarga khususnya untuk yang berulang tahun, dan umumnya untuk semua anggota keluarga. Terkadang ada juga yang memberikan kado sebagai penguat dan pengikat hati.

Hal ini jauh berbeda dengan kondisi di lingkungan keluarga kandungku. Kami sama sekali tak punya kebiasaan seperti ini. Wajar saja jika di antara kami tidak hafal tanggal lahir anggota yang lain. Bagiku itu tidak masalah, dan bukan berarti tidak ada cinta di antara kami. Karena cinta bisa punya banyak cara untuk mengekspresikannya. Terkadang cinta itu ada dalam diam. Cinta ada dalam sunyi. Hanya getar hati dan untai doa sebagai penanda.

Pernikahan telah menyambungkan tidak hanya dua insan, tapi juga dua keluarga. Tidak hanya berbagi cinta dan sayang, tapi juga adat dan kebiasaan. Selama itu tidak bertentangan dengan aturan agama, bagiku itu tidak menjadi persoalan. Kita saling memahami dan menghormati beda ini.

Acara malam ini dibuka oleh Bapak. Beliau selalu menjelaskan bahwa ini hanyalah sebentuk kecil syukur kita atas sebegitu besar nikmat dari-Nya. Pentingnya syukur atas apapun yang kita dapatkan, baik itu nikmat ataupun musibah. Karena dengannya kita akan merasa bahagia. Beliau lalu memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa, karena hanya Ia yang mampu mengabulkannya. Sebagai suami, aku pun melayangkan doa ke langit, semoga segala kebaikan dan keberkahan selalu memayungi keluarga ini.

Terkhusus untuk istriku tercinta, terima kasih telah membersamaiku setahun yang penuh warna dan makna ini. Kesabaranmu begitu menenangkan. Senyumanmu selalu memercikkan rindu. Wajah teduhmu selalu membisikku untuk cepat pulang. Semoga Allah mengaruniakan sakinah, mawaddah, dan rahmah ke dalam rumah tangga kita. Semoga Ia menganugerahkan anak-anak yang shalih sebagai penyejuk mata kedua orang tuanya. Dan semoga kita semua dikumpulkan kembali oleh-Nya di sebaik-baik tempat kembali, yakni surga Firdaus bersama para kekasih-Nya, aamiiin.

Selamat milad istriku terindu, Nurrahmi Handayani, semoga tulisan ini menumbuhkan senyum di wajah cantikmu🙂

19032014

 


[1] Bibi; adik dari Ibu mertua

[2] Tumpeng, makanan khas saat syukuran

[3] Pusat Antar Universitas, saat ini berganti nama menjadi Gedung Riset dan Inovasi

6 thoughts on “Menjemput Momentum Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s