Antara Khawatir dan Sedih

Khawatir dan sedih adalah dua dari sekian banyak gejolak rasa yang ada dalam jiwa-jiwa manusia.  Sering kali ia menghampiri kita, meski kita tak pernah mengharapnya. Ia adalah fitrah, yang selalu timbul dan tenggelam bersamaan dengan gerak riak kehidupan. Dan Al-Quran, sebagai sebaik-baik petunjuk, sudah lah tentu memiliki bahasan tentang dua rasa itu. Mari kita simak bersama…

Syaikh Nouman Ali Khan saat membahas tafsir surat Al-Baqarah ayat 38 mendefinisikan khawatir sebagai sebuah rasa yang muncul karena persepsi kita akan masa depan atau sesuatu yang belum terjadi. Sedangkan sedih adalah sebuah rasa yang timbul tersebab persepsi kita akan masa lalu atau sesuatu yang telah terjadi. Misalnya, saat kita sebagai pelajar, pada umumnya merasa khawatir ketika menjelang ujian, dan sering kali merasa sedih setelah ujian. Tergantung seberapa serius persiapan kita sebelumnya (dan juga faktor keberuntungan kali ya :D)

Di dalam Al-Quran, kata khawatir (خَوْف) muncul sebanyak 124 kali dalam 7 bentuk kata yang berbeda. Sedangkan kata sedih (حَزَن) berulang 43 kali dalam 3 bentuk kata yang berbeda. Dari sejumlah bilangan tersebut, ada 12 kali pengulangan yang menyajikan kata khawatir dan sedih dalam redaksi yang beriringan.

وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Tidak ada kehawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati

Potongan ayat ini, didahului oleh banyak redaksi yang intinya sama, yakni barang siapa benar-benar mengikuti petunjuk Allah, maka tidak ada kehawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan berlaku sebaliknya, barang siapa yang tidak mau menuruti perintah-Nya, maka pasti lah ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka pun akan bersedih hati.

Ada beberapa hal yang sangat menarik dari pilihan katanya. Allah Maha Mengetahui bahwa khawatir adalah fitrah perasaan manusia yang pasti selalu ada meski kadarnya bisa saja kecil. Melanjutkan contoh sebelumnya, walaupun kita sudah belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian, tetap saja sempat terbetik rasa khawatir bagaimana soal yang nanti diujikan, akankah sesuai dengan yang kita pelajari, dan berbagai pertanyaan lain yang bermunculan. Apalagi seandainya kita tidak belajar sama sekali, maka kekhawatiran itu pun semakin menjadi-jadi.

Dalam hal ini, Allah menggunakan redaksi khauf (خَوْفٌ) yang merupakan bentuk kata benda. Kata benda seperti yang kita ketahui, bermakna permanen, tidak bergantung pada waktu. Allah tidak menggunakan pilihan kata kerja yakhafuna (seperti halnya pada kata sedih: yahzanuna). Kemudian, penggunaan harakat tanwin pada akhir kata لا خَوْفٌ menyebabkan frasa tersebut bermakna tidak mutlak, karena pada dasarnya kekhawatiran adalah fitrah manusia. Dengan redaksi tersebut Allah masih menjaga fitrah manusia, bahwa masih ada sedikit kemungkinan timbulnya kekhawatiran. Adalah berbeda jika penggunaan harakat akhirnya fathah, seperti pada ayat ke-2 surat Al-Baqarah لاَ رَيْبَ  yang akan bermakna absolut (bahwa Al-Quran mutlak tidak ada keraguan di dalamnya).

Untuk itu, pemaknaan yang lebih tepat untuk لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ adalah tidak ada bahaya atas mereka. Karena bisa jadi orang tidak merasa khawatir/takut, padahal ada bahaya di dalamnya. Contohnya, anak kecil yang bermain dengan ular. Bisa jadi ia tidak merasakan ketakutan/kekhawatiran, tapi di dalamnya ada bahaya yang mengancam. Karena itu, pemaknaan ayat di atas menjadi jika kita benar-benar mengikuti petunjuk Allah, maka sama sekali tidak ada bahaya terhadap kita (walaupun seandainya kita merasakan sedikit kekhawatiran). Dengan kata lain, hati kita akan merasa aman dan nyaman dalam menikmati segala warna kehidupan.

Lalu, bagaimana dengan penggunaan kata sedih? Allah menggunakan redaksi sedih dengan kata kerja bersedih hati (يَحْزَنُونَ). Kata kerja, seperti yang sudah diketahui umum, tidak bermakna permanen atau bergantung pada waktu. Sebagai umpama: telah bersedih, sedang bersedih, atau akan bersedih. Hal ini menyiratkan pesan bahwa dalam hidup ini, terlepas dari seberat apapun cobaan yang menghadang kita, bersedih hanya bersifat sementara. Ia adalah pilihan, dan bukan sesuatu yang mutlak. Kita bersedih itu karena kita selalu mengingat-ingat kejadian yang membuat kita sedih. Jika saja kita mencoba untuk melupakannya dan segera bangkit menyongsong masa depan, maka kesedihan pun akan menghilang. Jadi, tidak ada alasan untuk larut dalam kesedihan.

“…Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS 2:38)

3 thoughts on “Antara Khawatir dan Sedih

  1. wah artikel ini keren banget nur. Aku copas ya?, nanti saya sertakan link sumbernya.

    hemm sedih dan kuatir… perasaan yang sering banget kita alami. Sebuah pencerahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s