Lewat Puisi

Dulu sempat punya hobi membaca dan menulis puisi, tapi entah sejak kapan hobi itu mulai memudar. Bisa jadi sejak berkutat dengan dunia eksakta yang cenderung berpikir kaku dan pasti. Beda dengan puisi yang bernilai seni, ga pasti, alias multi tafsir (tergantung persepsi pembacannya). Meski sudah memudar, ternyata sisa hobi itu masih ada. Cuma sekarang lebih kepada membaca puisi karya orang lain. Kalaupun harus menulis, harus ada syarat dan ketentuan berlaku (fungsi keadaan hati terpenuhi). Di blog ini pun sebenernya ada beberapa puisi yang sempat kutulis, tapi hanya sekedar tumpukan baris-baris curahan hati (ga pantas disebut pusisi, hehe).

Kebetulan beberapa waktu yang lalu mampir ke blognya firdausza. Di sana banyak puisi yang bagus dan menginspirasi. Ini aku cuplikan salah satu karyanya yang bertajuk “Serpihan Hati Sang Perindu”. Salah satu puisi yang sangat kusukai. Pengen juga rasanya bisa menulis puisi seperti ini ^^. Mudah-mudahan mood itu kembali datang di saat yang tepat🙂

kepada malam
kepada gelap kepada samar
kepada wajah wajah yang timbul dan tenggelam
yang muncul dan yang hilang
melihat dalam sunyi dan menyapa dalam sepi

meski tiada kata terucap dan kalimat yang menyapa
ada kalian adalah inspirasi yang menggugah jiwa
untuk terus menjelma dari tiada kepada ada
untuk terus berlatih bagaimana bertutur yang bijaksana

bagaimana menyentuh berbagi dan bersenergi
dalam satu tubuh bangunan kebenaran bersama
yang lenteranya ayat ayat Tuhan
dan kata kata kudus junjungan

kalian hadir disini dalam hatiku
menumbuhkan jejak membangun prasasti
meski tak begitu benar aku kenal
dengan nama yang bisa saja kalian taruh dengan rekayasa
dalam dunia kita yang fatamorgana

kalian hadir kalian tiba kalian ada
sungguh sungguh ada dan aku bahagia
untuk setiap kedatangan aku ucapkan terimakasih
untuk setiap jejak yang ditinggalkan
ada doa mendoakan
dan doaku untuk kalian adalah setiap huruf yang kalian tulis
setiap doa tulus rahasia yang kalian eja
aku mohonkan surga dan ridho-Nya untuk kalian…

2 thoughts on “Lewat Puisi

  1. wah berbeda dengan saya nur. Saya tidak begitu menyukai puisi baik menulis maupun membacanya. Meski begitu saya juga pernah menulis semacam sajak/pantun/puisi … entahlah namanya apa…
    di sini : http://fifin-nugroho.blogspot.com/2011/01/terima-kasih-dua-tahun.html

    Jadi teringat dulu waktu SMP disuruh baca puisi di depan kelas. Bukan membaca teksnya tetapi dihafal dulu baru kemudian dibacakan di depan kelas. Wih …akibat grogi dan malu alhasil…di depan kelas cuma tersenyum senyum saja karena semua hafalan langsung hilang ketika maju ke depan kelas.

  2. hhahaha….klo sy disuruh baca puisi jg ga bisa mas. Meskipun dulu jaman SD pernah jadi perwakilan bwt lomba baca puisi. Lebih seneng membaca/menikmat, atau terkadang ikut nulis jika kondisi hati mendukung😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s