Tidak Hanya Milik Mereka

Dulu aku beranggapan bahwa ahli agama hanya milik mereka para lulusan pesantren atau perguruan tinggi agama. Gelar yang disandang pun harus Ust, Syeikh, S.Ag, atau Lc. Mereka begitu fasih melafazkan Al-Quran, hadits, tafsir dan bahasa arab. Tapi ternyata pandanganku salah. Ilmu agama tidak hanya milik mereka. Ia milik semua manusia yang memang gigih mencarinya. Hal ini pertama kali kusadari saat bertemu dengan seorang tokoh saat aku masih kelas 2 SMA.

Waktu itu aku diundang oleh kakak mentor (baca: MR) untuk mengikuti sebuah acara. Aku sebenernya ga tahu seperti apa acaranya. Hanya karena diundang saja aku datang. Dan pas sampai di gedung pertemuannya, baru tahu kalau acaranya adalah Musyawarah Wilayah. Acara diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh MR. Dilanjutkan acara inti, taujih dari tokoh yang akhirnya mengubah paradigmaku. Tersebutlah ia Nabiel bin Fuad Al Musawa. Dengar gelar pendidikan umum yang melekat pada namanya, aku terkejut saat beliau begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran, hadits, serta lancar berbahasa arab. “Kok bisa ya, pendidikannya umum tapi agamanya jago banget”, pikirku waktu itu terheran-heran. Waktu itu beliau membahas fikrah-fikrah dalam Islam. Sekilas melihat wajahnya yang teduh, putih bersih, berhias jenggot yang rapi, menyembulkan firasat bahwa beliau keturunan arab. Eh, belakang baru aku tahu bahwa beliau adalah habib (keturunan Rasulullah) yang juga merupakan kakak dari Habib Munzir bin Fuad Al Musawa (pimpinan Majelis Rasulullah). Kakak beradik yang sama-sama gigih bergulat dalam dakwah, meski jalurnya berbeda. Sang kakak melalui jalur politik, sedangkan sang adik murni jalur agama.

Seiring berjalannya waktu, aku kemudian sering menyaksikan sosok serupa dengannya. Terutama ketika masuk dunia kampus. Mereka sama sepertiku yang mendalami pendidikan umum (eksakta), namun mereka sangat kaya ilmu agamanya. Menurut Ust. Abdul Majid Sofie saat mengadakan pelatihan pengajar Al-Quran dulu, dai-dai dari pendidikan umum justru akan cenderung lebih mudah diterima dakwahnya daripada yang jalur agama. Mereka yang terdidik di bidang umum tapi juga ahli di bidang agama akan lebih leluasa mengambil ranah dakwah.

Saat Rakernas Etos di Bogor kemarin, aku dipertemukan kembali dengan orang yang seperti itu. Ia lah Ust. Adi Junjunan Mustafa. Beliau sempat 1 tahun di ITB, sebelum akhirnya pindah ke TU Delft Belanda untuk menyelesaikan studi S1 bidang Geodesi. Tidak disangka beliau begitu ‘alim. Seorang penulis dan seorang Murabbi. Taujihnya waktu itu tentang Islamic Classification of Knowledge begitu menginspirasi. Telisik lebih lanjut melalui blog, ternyata beliau pandai juga membuat cerpen/mini novel. Tidak percaya, silakan kunjungi blog ini. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk bisa menjadi ahli ilmu (dzatiyah, ijtima’iyah, dan takhosusiyah) dan juga ahli amal, seperti beliau. Amiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s