Kemanakah Harus Melangkah…

Ada keraguan yang tiba-tiba saja muncul dalam hati kecilnya. Padahal sudah cukup jauh ia melangkah. Tak terhitung lagi betapa banyak pikiran yang tersita, waktu yang terambil, serta keringat yang tertetes. Dan kini ia sudah sangat dekat dengan apa yang ia cari selama ini. Namun, kenapa pula ia harus merasa bimbang? Berhari-hari ia merenung, berusaha mencari jawaban dari perasaannya itu. Semakin ia merenung, semakin ia mendapati satu pertanyaan besar yang selama ini luput dari perhatiannya. “Untuk apa sebenarnya hidup ini?”, “Jika pun nanti aku sudah meraih semua mimpi-mimpiku, so what?”, Ia bertanya pada diri sendiri. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia belum mempunyai tujuan hidup yang hakiki. Mimpi-mimpi besarnya hanya didasari oleh keinginan untuk dipuji, dikenal, dan disanjung orang lain. Tidak heran, ia akan merasa kecewa jika pencapaiannya tidak mendapat apresiasi dari orang lain. Ia akan merasa iri jika ternyata ada orang lain yang jauh lebih baik darinya. Dan yang paling parah, ia ingin agar kenikmatan orang lain itu dicabut. Dengki sudah begitu menguasai nuraninya.

Ia tersadar akan penyakitnya.  Perlahan, ia mulai banyak berdiskusi jujur dengan hatinya, meminta nasihat sahabat dekatnya, dan lebih mendekatkan diri pada Rabb-nya. Ia ingin kembali menjadi seorang manusia seutuhnya, menjadi seorang hamba sepenuhnya, yang menebar sebanyak-banyak manfaat untuk orang lain, yang selalu bersyukur dengan apapun yang ia dapatkan.

Sahabat, terkadang kita, baik terasa atau tidak, pernah mengalami hal seperti di atas.  Ada banyak keinginan yang hanya bersandar pada sanjungan orang lain. Tidak puas dengan apa yang sudah kita dapatkan, dan selalu menganggap apa yang orang lain dapatkan jauh lebih baik. Kita terdoktrin bahwa kebahagiaan dan kesuksesan hidup diukur semata-mata dengan banyaknya materi yang kita punya. Jika sudah seperti itu, apa pun yang dilakukan selalu diparameterisasi dengan uang. Jika sesuatu tidak menghasilkan uang, maka kita enggan untuk melakukannya. Apalagi jika sesuatu itu justru membuat kita mengeluarkan uang, kita semakin antipati dengannya.

Sudah saatnya kita untuk kembali pada nilai-nilai yang mulia, yang sudah Allah ajarkan melalui Rasul-Nya. Sudah saatnya kita kembali berjamaah dengan orang-orang shalih. Sudah saatnya kita kembali mencari dan menggapai makna kebahagiaan sejati. Semoga Allah memudahkan jalan kita, amiin…

“Hai jiwa yang tenang (suci). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridla lagi diridlai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (Q.S Al fajr:27-30)

8 thoughts on “Kemanakah Harus Melangkah…

  1. begitu mencapai puncak sukses, baru kita merasakan kekosongan tujuan hidup yang tak bisa diisi oleh materi. betul?
    pertamax

  2. Salah satu doa yang pernah diucapkan Rasululloh SAW adalah “Janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai obsesi kami”.
    Semoga, apa yang kita raih di dunia, tidak sekedar cerita sukses di dunia, melainkan cerita sukses yang akan berlanjut di akhirat, Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s