Wasiat Seorang Umar

Siapa yang tidak mengagumi sosok Umar? Pemimpin yang begitu tegas, bertanggung jawab, dikagumi kawan, dan ditakuti lawan. Begitu banyak kisah bertintakan emas yang ia goreskan semasa hidupnya. Hingga kini kisah-kisah itu terus dituliskan dan diceritakan sebagai sumber hikmah. Bagaimana ketegasan beliau dalam kisah gubernur mesir Amru bin Ash dengan seorang yahudi tua, bagaimana rasa tanggung jawab beliau dalam kisah seorang ibu pemasak batu di tengah gurun yang sepi, bagaiama keberanian beliau pada kisah pembebasan negeri-negeri dari cengkraman kekasiaran Romawi di barat dan Persia di timur. Meski sedemikian banyak jasanya, ia masih kerap menangis di tengah malam, teringat akan dosa-dosanya saat belum memeluk Islam. Ia masih merasa bahwa ia belum bisa menjadi pemimpin yang baik. Ia tidak marah bahkan ketika dikritik secara terang-terangan, justru itulah yang ia harapkan sebagaimana pidatonya di awal kepemimpinannnya: “Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin diantara kamu tetapi saya bukanlah orang terbaik diantara kalian. Karena itu jika aku berbuat kebaikan maka bantulah aku dan jika aku salah maka luruskan/ingatkanlah aku.”

Bagaimana dengan sosok pemimpin saat ini? Melihat yang terjadi di negeri ini khususnya dan negeri-negeri lain umumnya, masih sangat jarang pemimpin yang mendekati sosok Umar. Tampuk pimpinan justru digunakan menjadi ladang menimbun kekayaan pribadi, tanpa menghiraukan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan seorang yang sudah terbukti korupsi dan dipenjara, masih bisa melenggang menjadi anggota DPR atau memimpin sebuah federasi tingkat nasional. Sepertinya kita semua harus mengkaji dan mengamalkan kembali hikmah yang diajarkan para pemimpin terbaik generasi pertama umat ini. Berikut ini adalah wasiat seorang Umar yang sangat dalam maknanya:

  1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah SWT. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah SWT.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Jika kita bisa mengamalkan wasiat tersebut, insya Allah kita akan mendapatkan sebaik-baik kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam mengamalkannya. Amiin….

 

Referensi

[1] “Bolehkah Pemimpin Dikritik” oleh Irwan Prayitno (Gubernur Sumbar)

[2] “Kisah Umar dan Ibu Pemasak batu” dari cerminhati.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s