Jalan Penyelesaian Ahmadiyah

*oleh Inayatullah Hasyim, LL.M

Sewaktu masih kuliah di Islamabad, Pakistan, saya sempat beberapa kali ke kota Lahore, ibukota provinsi Punjab. Jarak Islamabad – Lahore sekitar 300 kilometer. Dan, meski Islamabad adalah ibukota negara, sesungguhnya kota budaya Pakistan adalah Lahore. Selain memiliki banyak universitas, Lahore merupakan  saksi dari lanskap peradaban  yang amat panjang. Di kota itu terdapat Masjid Badhsahi, tempat di mana Allama Iqbal, penyair besar Pakistan, acap mementaskan pembacaan puisi-puisinya yang mengagumkan. Di kota ini pula terdapat pusat jamaah Ahmadiyah (selain Qadian di India) sehingga dikenal jamaah Ahmadiyah Lahore.

Ribut-ribut soal Ahmadiyah di tanah air saat ini, mengingatkan saya saat ke Lahore sekian tahun lalu. Waktu itu, mobil bis yang saya tumpangi mogok di tengah jalan. Oleh sopir, kami dipindah ke mobil wagon yang hanya mampu memuat sebagian penumpang. Karena hari sudah mulai gelap, dan – mungkin – karena saya dianggap foreigner, oleh sopir saya didahulukan bersama sejumlah orang tua. Rupanya, di antara penumpang wagon ada seorang pengikut Ahmadiyah. Saya tahu itu, saat kami sudah sampai di kota Lahore, dan saya mencari masjid untuk shalat Maghrib dan Isya yang digabungkan. Continue reading “Jalan Penyelesaian Ahmadiyah”

Bergegaslah…

Wahai diri ini, bergegaslah! Sudah ada yang menunggu di sana. Ibumu. Kakakmu dan adikmu. Juga keluarga dan tetanggamu…

Wahai diri ini, bergeraklah! Sudah ada yang menanti di sana. Mimpimu. Harapanmu. Juga tentang negerimu…

Wahai diri ini, berlarilah! Kejarlah olehmu apa yang kau anggap masih jauh. Sesungguhnya ia semakin dekat…

Wahai diri ini, tersenyumlah! Yakinlah ia akan membalas senyummu. Dan hari itu pun akan menjadi saksinya…

 

—untuk hari-hari yang telah lalu dan yang akan datang

Tentang Biaya Masuk Ke ITB

Berikut ini ada info tentang biaya masuk ke ITB yang belakangan ini begitu santer diperbincangkan. Info ini diambil dari milis, semoga bermanfaat.

Teman-teman,

Beberapa teman menyampaikan concern soal biaya masuk ITB yang di beritakan sama rata sebersar Rp. 55 juta. Kemarin saya menanyakan hal ini kepada Pak Rektor. Berikut ini adalah klarifikasinya.

Sesuai tanggung jawabnya, ITB berupaya menyelenggarakan Pendidikan Tinggi dengan kualitas yang baik, dan membuka peluang kepada semua calon mahasiswa terbaik, dari semua golongan ekonomi untuk bisa kuliah di ITB.

Tahun ini 100 % penerimaan melalui SNMPTN dimana 60 % melalui jalur undangan dan 40 % melalui ujian tertulis. Pada penerimaan melalui jalur undangan, akan dilihat rangking dan konsistensi raport siswa disamping standar sekolahnya. Saat ini ITB punya data dalam 5 tahun terakhir sekolah mana saja yg siswanya pernah diterima/masuk ke ITB dan bagaimana prestasi mahasiswa dari sekolah2 yg bersangkutan. Melalui cara ini diharapkan ITB akan memperoleh calon mahasiswa terbaik.

Bila mahasiswa dinyatakan lulus maka ITB akan melihat penghasilan orang tua untuk menentukan subsidi yang perlu diberikan oleh ITB. Jadi tidak dilihat penghasilannya dulu baru diterima. Prosesnya sederhana, mendaftar seperti biasa nanti ada formulir dengan beberapa pilihan yang perlu diisi. Pilihanya :

  • diatas Rp. 55 juta sebutkan berapa ……..
  • Rp. 55 juta,
  • minta subsidi :  a) 25 %      b) 50 %     c) 75 %     d) 100%
  • beasiswa pendidikan
  • beasiswa pendidikan dan biaya hidup

Pilihan di atas akan diverifikasi dengan penghasilan kedua orang tua. Untuk mendapatkan beasiswa pendidikan / beasiswa pendidikan dan biaya hidup, surat keterangan kurang mampu dari departemen sosial biasanya diminta.

Semoga dengan cara di atas tujuan untuk membuka peluang kepada semua calon mahasiswa terbaik dari semua golongan ekonomi untuk bisa kuliah di ITB dapat terealisasi.

Salam hangat penuh semangat.

Betti Alisjahbana

Prasangka

“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)” (HR Bukhori & Muslim)