Aku Ingin Seperti

Aku ingin seperti siang. Terang dan menerangkan. Bersama matahari, ia memancarkan cahaya kehidupan. Tak pernah lelah. Selama matahari masih membersamainya, sinaran terang itu akan selalu ada. Memenuhi titah Rabb-nya. Untukmu, untuknya, dan kita semua.

Aku ingin seperti malam. Tenang dan menenangkan. Bersama rembulan, ia menyemaikan siluet kedamaian. Oh, indahnya. Terasa lebih indah saat bintang pun ikut menampakkan parasnya. Betapa kita harus bersyukur atas kesempurnaan nikmat-Nya.

Meski keduanya tak mungkin bertemu di tempat yang sama. Meski keduanya terpisahkan oleh jarak yang membentang. Sejatinya mereka dekat.  Mereka tidak pernah saling melupakan. Bahkan mereka selalu setia menanti kehadiran masing-masing. Penantian yang tak akan pernah berakhir dan akan selalu berulang. Perjumpaan yang diharapkan berlalu begitu saja. Meski demikian, di antara silih bergantinya siang dan malam, selalu saja ada keindahan yang terurai. Selalu saja ada hikmah yang terpatri. Dan selalu saja ada sisi lain dunia yang terwarnai. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

—hanya segores tulisan di belianya malam dari salah satu sudut kampus perjuangan