Merindukan Saat-Saat Itu…

Aku hanya merindukan saat-saat itu. Bermain bola di sawah kering beralaskan kemuning jerami tua. Tertawa. Bahagia. Sesekali marah dan kesal saat ada yang bermain kasar. Sekejap juga menghilang. Tidak ada beban yang menggelayut di kepala. Telapak kaki telanjang yang luka lantaran kerikil sawah yang kering kerontang tak jadi apa. Berlari dan terus berlari.

Aku sungguh merindukan saat-saat itu. Mengaji di surau samping masjid di sela maghrib dan isya. Berebut urutan pertama di depan Pak Kyai agar lebih cepat selesai. Punya lebih banyak waktu untuk bermain. Sekali lagi hanya kebahagiaan yang terpancar di sana. Meski sesekali ketakutan merajai diri saat bacaan kami disimak Pak Kyai. Takut salah dan dimarahi. Tapi, bagiku, marahnya Pak Kyai belum ada apa-apanya dari marahnya Ayah. Marah itulah yang sangat berkesan, meski tak mungkin lagi menyaksikannya lagi.

Aku juga merindukan saat-saat itu. Bermain kejar-kejaran dan petak kumpet di sebuah pekarangan kecil yang dikelilingi sungai. Bersembunyi di balik lebatnya ilalang. Atau di antara kerumuhan pohon bambu. Bahkan di atas pohon turi. Menutup sore dengan mandi di sungai yang arusnya tidak terlalu deras. Terjun dari ketinggian pohon loh yang sedikit miring, sambil memetik juga mencicipi buah loh, menantang rasa takut. Siapa yang tidak berani terjun, atau terjun dari cabang yang terendah, maka dia pasti jadi korban cibiran massa. Hampir lupa senja sudah meninggi, di ujung sana Ibu sudah siap dengan ranting bambu di tangan. Jika tidak diancam disabet ranting itu, niscaya kami tetap betah bermain di kali.

Saat malam datang, bermodalkan senter atau petromak, bersiaplah kami menjelajah sawah dan pekarangan. Suara kicauan jangkrik menggiring kami menuju sumber suara. Saat musim jangkrik, sawah ramai terisi para pencari serangga jenis ini. Semakin banyak hasil tangkapannya, semakin bangga pula dia. Semakin kencang kicauannya, semakin jumawalah dia. Beda lagi di pekarangan. Di sana kita berburu burung. Harus teliti mencari tempat tidur si burung itu. Ah…aku sudah lupa nama-nama burung itu.

Saat pagi menjelang, tepatnya saat sinaran mentari mulai muncul di ufuk sana. Ketika angin pagi mulai menghembuskan hawa dinginnya. Api, itulah penawarnya. Di pekarangan samping rumah, dengan sedikit mengumpulkan dedaunan tua yang berserakan, atau ranting-ranting yang gugur dari batangnya, api unggun pun menghangatkan pagi kami. Untuk melengkapinya, kami pun mencabut singkong dari pohonnya. Memasukkannya ke dalam gumpalan api. Sungguh enaknya singkong bakar itu. Kapan lagi aku bisa merasakannya?

Terlalu banyak kerinduan akan hari-hari lalu di kampung kecil di sana. Sekarang sudah banyak yang berubah. Tidak ada lagi itu semua. Bergulirnya waktu memaksa semuanya berubah. Apakah perubahan ini akan jadi lebih baik? Atau sebaliknya? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini. Banyak variabel yang perlu diperhitungkan. Yang jelas, aku hanya merindukannya. Tidak lebih. Karena rindu memang tidak harus berbalas. Cukuplah kata rindu itu sendiri yang menjadi penawarnya.