Alangkah Indahnya Lingkaran Cahaya Itu

Waktu berlari begitu cepat. Terus bergerak meninggalkan episode demi episode kehidupan ini. Dan tidak terasa 3 tahun sudah masa SMA kulalui. Kini periode kampus dengan label mahasiswanya ada di depan mata. Padahal aku masih ingat benar saat menegangkan itu. Ketika aku berlari tergopoh-gopoh mengejar waktu tersisa untuk pendaftaran masuk SMA. Ketika kuambil keputusan penting untuk pindah sekolah dari SMK ke SMA di saat-saat akhir. Aku pun akhirnya menjadi pendaftar terakhir, hanya 5 menit sebelum penutupan! Keputusan inilah yang akhirnya sangat kusyukuri karena setelah itu aku mengenal sebuah lingkaran cahaya, mentoring.

***

Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk untuk bergabung dengan lingkaran cahaya itu. Di saat teman-teman sudah ikut Rohis, saat mereka sudah mengenal apa itu mentoring, saat mereka sudah mendapatkan keluarga baru, aku masih berkutat di asrama Darul Yatama. Asrama yang baru didirikan oleh Kepala SMK -tempat sekolah ku sebelumnya- ini yang akhirnya menjadi tempat tinggalku 3 tahun ke depan. Di asrama inilah aku dibekali banyak ilmu agama, mulai dari fiqih, akhlak, sampai bahasa Arab. Di sini juga aku harus dituntut bisa mandiri, yaitu dengan adanya piket masak dan kebersihan. Semua dilakukan sendiri. Dengan cukup banyaknya kegiatan asrama dan belum terbukanya paradigma berpikir, aku memutuskan untuk tidak bergabung ke Rohis SMA. “Toh, aku sudah mendapatkan ilmu agama di asrama”, pikir sempitku waktu itu.

Hari-hari pun berlalu. Aku sering berdiskusi dengan beberapa teman sekelas yang juga belajar di pesantren. Bedanya pesantren mereka sudah profesional dan terkenal di seluruh penjuru kota. Bandingkan pesantrenku (sebenarnya belum bisa disebut sebagai pesantren, cukuplah asrama) yang baru saja berdiri dan hanya dikenal segelintir orang. Bedanya lagi, mereka selain di pesantren juga aktif di Rohis. Sedangkan aku, hanya di asrama saja. Dari hasil diskusi yang sering dilakukan, menjelang kenaikan ke kelas 2, aku pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan barisan J-Comm (Jundullah Community). Komunitas pengurus dan pemakmur masjid sekolah, Jundullah, yang juga berisi para pengurus Rohis. Butuh hampir satu tahun bagiku sebelum akhirnya bersentuhan dengan mentoring beserta pernak-pernik yang menghiasinya.

Awalnya mentoring berisikan banyak orang, sekitar 20-an. Bahkan jika ada tambahan acara makan-makan (rujakan), bisa mencapai 30 lebih orang. Ruang bawah masjid Jundullah yang biasa dipakai pun tidak bisa lagi menampung masa yang hadir. Sebuah kenangan indah dan juga lucu berdesakan dengan teman-teman dalam ruang yang sebenarnya adalah perpustakaan masjid itu. Di kotaku, ketersediaan sumber daya mentor memang tidak lah banyak. Sehingga tidak heran jika seorang mentor bisa memegang lebih dari 20 orang dalam 1 kelompok. Dan beliau pun harus memegang lebih dari 1 kelompok. Terbayang betapa besar perjuangan beliau. Para mentor tersebut mayoritas berasal dari karyawan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang juga alumni STAN harus membagi tugas membina adik-adik SMP-SMA yang tersebar di kotaku. Jika tiba saatnya beliau-beliau dipindah kerjakan (mutasi), maka kestabilan mentoring pun terganggu. Ini pula yang akhirnya terjadi menjelang aku memasuki dunia kampus.

Sekali lagi, hari-hari berlalu dengan cepatnya. Setahun sudah bagiku dan dua tahun bagi teman-temanku melalui mentoring. Seiring dengan berjalannya waktu, peserta mentoring semakin berkurang. Kian hari kian menyusut. Aku tidak tahu kenapa, namun kalau boleh aku mengkira-kira, alasan utamanya ada dua. Pertama, ingin fokus belajar untuk menghadapi penjurusan. Di SMAku, hanya ada dua jurusan, IPA dan IPS. Naasnya ada standar nilai untuk masuk jurusan IPA, yang hanya ada 4 kelas dari total 7 kelas. Jika tidak memenuhi standar itu, maka secara otomatis anak tersebut akan “terlempar” ke IPS. Tidak mengejutkan jika mendekati kelas 3, banyak siswa yang lebih study oriented untuk mengejar impiannya masuk IPA. Mereka mulai mengurangi aktivitas di luar akademik. Kedua, berpindah haluan ke fikrah yang lain. Memang mulai pertengahan kelas dua, ada fikrah yang berkembang begitu cepat. Fikrah yang lebih mengfokuskan pada perbaikan amal ibadah terutama dari sisi akidah dengan menjauhkan diri dari khurafat dan bid’ah. Beberapa pemikirannya cukup berbeda (kalau tidak boleh dikatakan bertentangan) dengan yang sebelumnya ada, termasuk dengan pemikiran yang dibawa para mentor dan yang ada di Rohis. Yang disayangkan adalah sebenarnya perbedaan itu hanya terletak pada masalah cabang, bukan masalah pokok. Namun karena keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh kita, sempat terjadi sedikit gesekan pendapat. Beberapa pengurus Rohis pun akhirnya keluar dan menyisakan ketidakstabilan sistem di Rohis.

***

Di sebuah rumah sederhana, dipayungi pohon kelapa yang menjulang, tidak terlalu jauh dari bibir pantai selatan, kami berlima berkumpul. Ya, kami tinggal berlima. Lima sahabat yang sampai sekarang masih begitu dekat. Lima pemuda yang akhirnya tersebar di kampus berbeda di negeri ini. Lima sekawan yang setiap mudik Idul Fitri selalu punya agenda berkumpul dan bertemu dengan Murobbinya. Memang saat kita tinggal berlima itulah kami lebih merasakan indahnya ukhuwah, menemukan semangat menuntut ilmu, dan saling memahami-mencintai satu sama lain. Kami menyebut aktivitas kami lebih sebagai Halaqah bukan lagi Mentoring, dan memanggil pembina kami sebagai Murobbi bukan lagi Mentor. Sejak itu pula aktivitas kami tidak lagi dilakukan di perpus masjid sekolah. Terkadang di KPP tempat murobbi kami kerja, tapi lebih sering bergilir di rumah kami dan murobbi. “Biar lebih erat ukhuwahnya”, kata beliau. Dan memang terbukti kita semakin dekat dan mengenal sahabat kami beserta kondisi keluarganya.

Sekarang, di depan kita sudah terhidang berbagai macam makanan. Yang paling menarik perhatian adalah sate, karena memang daerah ini terkenal dengan satenya. Bahkan menurut harian Kompas, keraton Jogja pun sudah turun temurun berlangganan sate ini. Namun sebelum kita mengayuhkan tangan ke depan, Murobbi segera mengambil fokus perhatian.

“Ikhwah fillah, tolong masing-masing keluarkan secarik kertas!”, beliau melanjutkan.

Tanpa pikir panjang kami pun mengeluarkan kertas sambil menunggu titah selanjutnya.

“Silakan kertas tersebut dilipat menjadi 2 bagian. Pada bagian atas, tuliskanlah mimpi-mimpi antum beberapa tahun ke depan. Sedangkan pada bagian bawah, tuliskanlah hambatan-hambatan yang antum rasakan”, pinta beliau.

Sejurus kemudian kami disibukkan dengan pena dan kertas kami. Sambil menunduk dan sedikit menutupi kertas kami (khawatir dilihat kawan sebelah), kami menggoreskan pena ke atasnya. Aku pun hanya terfokus pada mimpi dan hambatan yang kualami. Sempat mencoba bertanya atau melihat ke sebelah sebagai bahan referensi, namun ternyata teman sebelah begitu rapi menutup mulut dan kertasnya. Hmmm, sebenarnya aku pun melakukan hal yang sama. Tidak ingin dilihat teman sebelah. Dan akhirnya selesai sudah tugas kami.

“Akh, siapa di antara antum yang berani membacakannya?”, tanya Murobbi memecah kesunyian

Kita saling memandang wajah sebelah kanan dan kiri. Serentak kita kompak menatap Murobbi sambil menggelengkan kepala.

“Ga mau Mas”, “Malu”, “Dia aja Mas”, kami saling sahut-sahutan berargumen, enggan membacakan apa yang sudah kami tulis. Setelah menunggu cukup lama, Murobbi pun menyerah.

“Oke, kalau tidak ada yang berani, bagaimana kalau antum membacanya bersamaan”, beliau menjelaskan idenya.

Hmm….ide yang cukup bagus. Kita tidak akan bisa mendengar suara orang lain kalau kita membacanya bersamaan. Dengan begitu kita hanya akan mendengar suara sendiri, dan tidak akan malu. Kami pun mengiyakan usualan tersebut.

“Setelah hitungan ketiga, silakan baca sekeras-kerasnya. Satu….Dua…..Tigaaaa!!!”, Beliau memberikan komando. Sepersekian detik kemudian,

“Ingin bla-bla-bla #$%^&!*@#%….#$%^&!*@#%, kata-kata yang keluar dari getaran pita suara kami saling berinterferensi dan terdifraksi menjadi sinyal-sinyal informasi yang tidak tertangkap secara benar oleh telinga. Bunyinya lebih mirip seperti suara televisi yang tiba-tiba antenanya dicopot.

Aku juga tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh yang lain. Bahkan suaraku sendiri pun menjadi tidak terdengar jelas. Saat perkelahian suara sudah mereda, segera Murobbi mengambil alih,

“Ikhwah sekalian, meskipun aku sendiri tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang antum ujarkan, namun aku yakin apa yang antum ucapkan barusan akan menjadi kenyataan, insya Allah. Sekarang, sobeklah kertas itu menjadi 2 bagian sesuai dengan lipatannya. Pada bagian atas, yang berisi mimpi-mimpi antum, silakan simpan dengan baik. Jadikan potongan kertas tersebut menjadi saksi terwujudnya mimpi-mimpi antum. Yakinlah akan kekuatan sebuah mimpi dan tulisan. Sedangkan pada bagian bawah, yang berisikan hambatan-hambatan antum, silakan sobek-sobek dan buang sejauh mungkin. Anggaplah tidak pernah ada hambatan yang akan merintangi antum dalam menggapai mimpi-mimpi antum. Hilangkan hambatan itu. Yakinlah, dengan ridho Allah, suatu saat antum akan tersenyum bahagia mendapat mimpi-mimpi antum tercapai”, kalimat yang mengalir dari mulut beliau bagai pesan dari surga. Begitu menyemangati kami yang sebentar lagi akan berperang di medan SPMB. Kami pun sangat optimis menghadapi masa depan.

***

Hujan deras mengguyur kota Bandung, memaksaku untuk tetap berdiam diri di asrama. Dari jendela lantai 2 terlihat jalan Tubagus Ismail yang digenangi air yang meluber dari selokan. Ah, bagaimana mungkin kota Bandung dengan institut teknik terbaiknya bisa salah urus seperti ini. Sampah dan banjir menjadi pemandangan yang miris. Siapa yang harus bertanggung jawab? Pikirku melayang ke sana ke mari. Tiba-tiba teringat sesuatu saat melihat buku agenda di depan meja belajar. Di dalamnya ada kertas bersejarah itu. Kertas yang selalu mengingatkanku akan Murobbiku, Sahabatku, dan Mimpiku. Senyum langsung terkembang, saat ku baca kembali rangkaian huruf yang menempel di kertas kecil itu, meskipun kondisi kertasnya sudah tidak sebaik dulu.

“Aku ingin masuk Teknik Elektro ITB. Aku ingin bekerja untuk membiayai kuliah. Aku ingin mempelajari bahasa Arab dan memperdalam agama selagi kuliah. Aku ingin menaikkan haji orang tua. Aku ingin menjadi direktur perusahaan elektronik ternama. Aku ingin menikah di umur 25 tahun.”

Benar kata Murobbi, suatu saat aku akan tersenyum mendapati bahwa mimpi-mimpiku akan terwujud. Meskipun belum semua yang tertulis disana menjadi kenyataan, karena memang belum saatnya. Benar kata beliau bahwa hambatan yang selama ini aku takutkan tidak akan berarti selama aku tidak pernah menganggapnya ada. Bahwa kekuatan sebuah mimpi dan tulisan begitu besar. Aku pun dengan semangat baru, menuliskan kembali mimpi-mimpi masa depan. Dan aku yakin insya Allah suatu saat nanti aku akan tersenyum kembali.

“Tulislah impianmu dengan sebuah pena dan berikan penghapusnya pada Allah. Izinkan Dia menghapus bagian yang salah dan menggantinya dengan rencana-Nya ang indah…”

*Titip rindu buat Sang Murobbi beserta dua Mujahid kecilnya…terima kasih tiada terkira telah menjadi perantara aku mengenal jalan indah ini….

*Juga buat sahabat lingkaran cahaya dari kampus STAN, UNS, UNSOED, dan UI. Semoga kita dipertemukan kembali nanti di Surga-Nya…

6 thoughts on “Alangkah Indahnya Lingkaran Cahaya Itu

  1. interaksi2 itu memang melahirkn lingkaran cahaya yg indah luar biasa. Benar apa yg dikatakn Salim A. Fillah, interaksi dlm komunitas ini ibaratnya ‘Getar cahaya di atmosfer cinta’
    *jd kangen dgn teman2 rohis SMA, jg murobbi yg luar biasa.

  2. Iya, bener banget Mba. Insya Allah sabtu ini mau mudik k kampung, rencananya ada agenda ngumpul bareng temen2 liqa dulu🙂
    *buku2 kang salim emang top bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s