Rindu Untuk Aliya

Ada yang berbeda dengan hari ini. Tidak ada lagi laptop toshiba di atas meja. Juga tidak terlihat lampu belajar di sampingnya. Tumpukan buku juga tak nampak. Meja itu tampak bersih. Tidak ada satu pun yang menghiasi layaknya sedia kala. Kulemparkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di dapur, gelas dan peralatan masak sudah tiada. Begitu juga dengan bahan masakan di samping kompor listrik dan bahan makanan di dalam lemari es. Kamar mandi dan kamar tidur pun terlihat sama bersihnya. Kecuali di bagian sudut ruang tamu. Di sana 2 buah koper, besar dan kecil. Di sampingnya masih berserakan buku, kertas, pakaian, dan souvenir yang dibeli dari Charleston. Aku belum sempat merapikannya.

Kamar 308 di lantai 3 Cliff Appartement itu sudah ditinggalkan satu penghuninya. Ya, dia teman sekamarku, Nelson. Kemarin siang dia sudah berpamitan. Dia akan segera terbang menuju Columbus, meninggalkan Columbia yang sudah ditinggalinya selama 6 bulan. Dia sudah siap melanjutkan studi doktoralnya. Rencananya awal fall nanti dia sudah mulai masuk kuliah di Ohio University untuk bidang International History. Keberadaannya di Columbia adalah untuk belajar bahasa Inggris secara intensif di English Programs for Internationals (EPI) University of South Carolina. Meski bahasa inggrisnya sudah lancar, aku masih bisa mengenali logatnya yang sangat kental. Aku hanya bisa menebak  dia berasal dari Amerika Latin, tapi  aku tidak tahu negara pastinya.

Ternyata kita mempunyai banyak kesamaan. Dia berasal dari Chile yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia. Sedangkan aku dari negeri maritim terbesar dengan keliling garis pantai terpanjang di dunia. Kita sama-sama mendapat beasiswa dari Amerika Serikat, kalau aku IELSP, dia Fulbright. Dia tipe orang pendiam. Namun, jika diajak ngobrol dia sangat welcome. Dia juga sangat baik dan murah hati. Meski begitu kita jarang ngobrol, karena aku sendiri justru sering menghabiskan waktu dengan teman-temanku sesama Indonesia.

Kulangkahkan kaki mendekati jendela. Whaley Street terlihat lengang. Memang, Columbia bukanlah destinasi pariwisata di Amerika. Tidak heran jika musim panas datang, banyak mahasiswa yang liburan ke kota lain. Halaman appartement terlihat sepi. Mobil terparkir tidak sebanyak biasanya. Di tempat itu kita biasa bermain frisbee untuk sekedar menghabiskan pagi. Juga tempat melihat fireworks di malam Independence Day. Atau duduk santai di kursi panjang, bercengkerama menikmati dinginnya malam. Wah, saat-saat yang bakal kurindukan.

Tiba-tiba hatiku berkecamuk. Antara bahagia akan bertemu lagi keluarga di tanah air dan sedih berpisah dengan sahabat dan saudara baru di sini. Ternyata 2 bulan sudah cukup membuatku merasa memiliki mereka. Ternyata 2 bulan sudah cukup membuatku merasa menjadi bagian dari Columbia. Sebenarnya ada keinginan juga untuk tinggal di sini lebih lama. Rindangnya pohon yang menaungi kampus. Tupai dan burung yang mengiringi langkah kami menyusuri taman. Indahnya ukhuwah saat sholat berjamaah di Islamic Center of Columbia. Kehangatan Syeikh Adly yang selalu menyambut kami dengan senyuman dan terkadang jamuan cheese cake dan teh hangat. Lezatnya Angus American Beef-Cheese Burger khas Garden Drill. Dosen yang begitu berdedikasi dan profesional. Bahkan terik yang begitu sangat, menjadi suasana yang bakal kurindukan.

Berbicara tentang rindu, ada seseorang yang cukup menyita ruang hatiku. Dia sangat lucu. Senyumnya sangat menggemaskan. Bicaranya yang belum begitu jelas, semakin membuatnya terlihat lucu. Aliya, begitu ia dipanggil. Adalah anak ketiga dari pasangan orang Bandung yang tinggal di sana. Ayahnya sangat dekat dengan kami. Beliau  sering mengantarkan kami ke masjid. Karena jarak appartement ke masjid cukup jauh, maka mobil beliaulah yang mengantarkan kami ke sana. Kita sholat di masjid hanya maghrib, shubuh, dan jumat. Sebelum maghrib sekitar pukul 20.00 atau shubuh sekitar pukul 05.00, beliau menelpon kamar kami dan mengajak kami ke masjid. Biasanya ini terjadi pada hari selasa, kamis, sabtu, dan ahad. Terkadang kurang dari itu. Dari ber-21, paling hanya 5-6 orang yang sering ikut ke masjid, kecuali hari jumat. Sungguh suatu kenikmatan bisa mendengar adzan, iqomat, dan bacaan sholat di negeri yang minoritas Islam seperti ini.

Kembali ke Aliya, gadis kecil nan menggemaskan. Satu momen yang selalu kuingat saat aku dan temanku bermain tebak-tebakan dengannya. Siapa yang pertanyaannya dijawab dan namanya bisa diucapkan dengan benar oleh Aliya, maka ia lah pemenangnya.

“Who is this?”, tanya temanku seraya mengarahkan tangannya ke arah Aliya.

“Alya”, sayup-sayup terdengar Aliya mengucapkan namanya sendiri.

“Who is this?”, kali ini temanku mengarahkan tangannya ke dirinya sendiri.

“Setya”, jawab Aliya mengucapkan nama temanku.

Sebelumnya melakukan permainan ini, kita memang memperkenalkan diri ke Aliya dan memintanya menyebutkan namanya sendiri dan nama kita saat ditanya. Tidak mau kalah, aku pun mencobanya.

“Who is this?”, tanyaku pada Aliya dengan tangan menunjuk padanya.

“Alya”, sama seperti sebelumnya. Pengucapannya yang tidak terlalu jelas. Yes, teriakku dalam hati. “Aku tidak akan kalah”, ku coba meyakinkan diri.

“Who is this?”, dengan cukup deg-degan aku bertanya lagi padanya.

“Setya”, begitu Aliya menjawab. Masih dengan ucapan yang tidak terlalu jelas.

“Arghhhh….tidakkkk”, aku kalah. Sementara temanku tertawa dengan nada puas dan penuh kemenangan. Aku tidak percaya. Aku coba lagi. Sebelumnya aku latih lagi Aliya agar bisa mengucapkan namaku dengan benar. Dan hasilnya: sama saja! Ternyata Aliya cukup susah mengingat, apalagi mengucapkan namaku. Bandingkan dengan nama Setia yang kata dan pengucapannya mirip dengan namanya sendiri, Aliya. Seketika itu pun, aku menyerah dan mengakui kemenangannya.

Sayang, aku harus berpisah dengannya. Masih teringat dengan jelas, saat kita berpamitan dengan keluarganya. Dia menangis sekeras-kerasnya. Aku sendiri heran. Aku kira Aliya belum  mengerti percakapan kita. Bagaimana dia bisa tahu kalau kita akan berpisah dalam waktu yang lama? Padahal biasanya saat kami pamit kembali ke appartement, dia tidak menangis. Kenapa sekarang dia menangis? Sepertinya meskipun dia belum bisa berbicara dengan jelas, bisa jadi dia sudah bisa memahami apa yang kita bicarakan. Atau mungkin dia bisa membaca mimik sedih dari muka kami dan juga orang tuanya. Aku sendiri tidak ingat apakah dulu ketika aku masih sangat kecil, aku bisa memahami percakapan orang dewasa. Aku duga mungkin bisa.

Perpisahan memang sebuah keniscayaan. Ia selalu ada dalam setiap pertemuan. Bisa bersifat sementara atau selamanya. Dan perjumpaan di akhirat lah yang akan kekal selamanya.

Aku dan Aliya

Suatu saat nanti, aku akan menemuimu lagi

Kuingin mendengar kau mengucapkan namaku dengar benar

Di tanah sendiri atau tanah rantau

Sekarang, biarlah angin yang membawa salam rinduku

Untukmu, Aliya

11 thoughts on “Rindu Untuk Aliya

  1. “Perpisahan memang sebuah keniscayaan. Ia selalu ada dalam setiap pertemuan. Bisa bersifat sementara atau selamanya. Dan perjumpaan di akhirat lah yang akan kekal selamanya”

    “di balik perpisahan akan ada pertemuan baru, artinya ketika berpisah artinya akan ada pertemuan yang mengikuti, dan di balik pertemuan juga akan ada perpisahan yang mengikuti. tidak ada yang tidak baik dari pertemuan maupun perpisahan. setiap bagiannya akan membawa arti, seriap bagiannya akan membawa segudang hikmah yang bisa ditelusuri untuk membuat bagian dari pertemuan dan perpisahan itu menjadi peta hidup yang memberikan pertambahan keimanan, pertambahan kecintaan kepada Dzat Pembuat Skenario Perpisahan dan Pertemuan Terbaik”

  2. yup..meski blm baca semua..tapi intinya setuju..
    anak kecil tuh ngangenin..
    se-kumel apapun, se-coklat (kurang putih maksudnya🙂 ) apapun..pastinya..kalo anak kecil itu selalu lucu n ngegemesin..
    selalu ada hal-hal yang ingin saya bagi dengan mereka..
    karena mata mereka..karena senyum mereka..karena ke-pure-an mereka..
    semuanya seolah mengingatkan..
    dan undangan untuk disayangi dan dilindungi..
    that’s why i love to take their pictures..and keep their (a lot) picture on my compu
    huaaa..jd kangen keponakanku..
    nice posting..salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s