Menata Kembali Paradigma Beasiswa

Bertempat di ruang kecil lantai 1 CC Barat, kami berdiskui dengan Pak Jaji yang mewakili Lembaga Kemahasiswaan ITB. Kami terdiri dari 6 orang: 3 dari pengurus pusat (Bogor) dan sisanya dari pengurus daerah (Bandung). Kami adalah pengelola suatu lembaga beasiswa yang bernama Beastudi Etos, yang merupakan salah satu program dari Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa Republika. Kedatangan kami ke kampus ITB selain sebagai bentuk silaturahmi, juga ingin saling berbagi tentang kondisi dan pengelolaan beasiswa. Harapannya adalah adanya masukan atau informasi bahkan bisa jadi terbentuk sinergi antara Etos dan ITB. Diskusi yang berlangsung tidak lebih dari 1,5 jam tersebut cukup memberikan pencerahan tentang paradigma beasiswa.

Beasiswa di ITB secara garis besar dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu berbasis ekonomi dan berbasis prestasi. Saat pengajuan beasiswa ekonomi, kita diwajibkan mengisi form aplikasi yang dilengkapi dengan semua persyaratan yang diminta. Syarat untuk beasiswa jenis ini cukup banyak, dari transkrip akademik, kartu keluarga, gaji orang tua, sampai surat keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat. Kita hanya menyediakan data pribadi dan keluarga kita, pihak kampuslah yang nantinya menentukan beasiswa yang paling tepat untuk kita. Untuk beasiswa jenis kedua, persyaratannya cenderung lebih sedikit, namun tingkat seleksinya juga ketat. Prestasi di sini tidak hanya akademik semata, aspek non-akademik pun ikut dinilai. Yang jelas beasiswa prestasi ini tidak memperhatikan sisi ekonomi pendaftarnya. Selama ia memenuhi persyaratan, meskipun ia berasal dari keluarga yang mampu, ia tetap berhak menerimanya.

Namun, ternyata ada beasiswa jenis lain, yang ingin menggabungkan keduanya. Mereka mencari mahasiswa yang berprestasi namun berasal dari keluarga kurang mampu. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah di kampus ini. Faktanya adalah tiap tahun hanya sekitar 2 sampai 5 persen mahasiswa ITB yang termasuk ke dalam ring 1 (kondisi ekonomi sangat lemah). Penghasilan orang tua mereka di bawah 1 juta rupiah. Jika mahasiswa baru ITB dianggap berjumlah 3000, maka hanya ada sekitar 60-150 orang. Sedangkan kuota untuk beasiswa ini lebih dari 400 orang. Akhirnya slot sisanya di isi oleh golongan ring 2 (kondisi ekonomi lemah atau menengah, dengan pendapatan orang tua rata-rata 2,5 juta). Sangat sulit bagi ITB menemukan mahasiswa yang berprestasi namun dari keluarga kurang mampu. Jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan kuota beasiswa yang ada. Kita tidak bisa memungkiri bahwa prestasi ditunjang dengan adanya fasilitas yang memadai, konsentrasi yang baik, kondisi “perut” yang fit. Bagaimana mereka yang termasuk ring 1 mau berprestasi, jika selagi kuliah, mereka harus bekerja? Bagaimana mereka bersaing dengan yang lain, selagi yang lain fokus belajar, sementara mereka harus memikirkan bagaimana mengisi perut sepekan ke depan? Bagaiman mereka bisa mengalahkan yang lain, jika tidak ada fasilitas yang menunjang? Memang, aku sendiri yakin bahwa masih ada segilintir dari mereka yang mampu berprestasi dengan kondisi yang seperti itu. Namun, itu hanya segelintir, hanya sebagian kecil dari mereka yang dikaruniai kemampuan luar biasa.

Masalah yang muncul selanjutnya adalah bahwa hampir semua beasiswa mempersyaratkan ketidakbolehan menerima beasiswa lain secara bersamaan (double). Hal ini menjadi polemik tersendiri bagi sebagian orang yang memperhatikan. Sekilas memang masuk akal bahwa seseorang tidak boleh menerima beasiswa double. Alasan yang sering diangkat keadilan atau memberikan kesempatan bagi yang lain. Adilkah sistem seperti ini? Coba kita lihat contoh kasus nyatanya. Bagi mahasiswa golongan ring 1, mereka hanya mendapat sedikit support orang tua, atau bisa jadi tidak lagi mendapatkannya, bahkan ekstrimnya justru mereka lah yang mensupport orang tua dan keluarganya. Dengan kondisi seperti ini, mereka mendapatkan beasiswa bantuan hidup, sebut saja perbulannya 500 ribu. Untuk biaya hidup saja, belum tentu cukup, bagaimana mereka menutupi biaya kuliah? Untuk buku dan kebutuhan akademik lain? Mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja, karena memang tidak diperbolehkan lagi menerima beasiswa. Akhirnya slot beasiswa yang ada justru diambil oleh orang yang bisa jadi tidak terlalu membutuhkannya. Hanya karena peluang beasiswa yang masih banyak, akhirnya golongan di luar ring 1, mendapatkan durian runtuh. Beasiswa yang dimaksud di sini adalah beasiswa berbasis ekonomi.

Untuk itulah, ada dua opsi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut di atas:

  1. Hendaknya tujuan beasiswa itu jelas. Jika sasarannya untuk ekonomi lemah, maka janganlah menuntut prestasi yang tinggi. Kalaupun ternyata ada yang dari ekonomi kurang dan berprestasi, itu perlu disyukuri bersama. Dengan memberikan beasiswa kepada mereka yang kurang mampu, harapannya adalah mereka bisa fokus belajar dan akhirnya bisa meningkatkan prestasinya. Bagi mahasiswa yang berprestasi, juga harus disediakan beasiswa sebagai bentuk apresiasi terhadap capaiannya. Dalam hal ini, semua mahasiswa berhak mendaftar dan bersaing untuk mendapatkannya. Beasiswa apresiasi ini bisa jadi stimulus bagi mahasiswa untuk terus berprestasi.
  2. Hendaknya persyaratan tidak boleh menerima beasiswa double tidak dilakukan secara kasar (berlaku mutlak). Hal ini terutama difokuskan untuk yang berbasis ekonomi. Perlu dipertimbangkan lebih lanjut latar belakang calon pendaftar. Bisa jadi beasiswa double jika nilainya dijumlahkan akan sama bahkan lebih kecil dari nilai satu beasiswa lain tertentu. Mungkin akan lebih baik jika batasannya bukan sekedar single atau double, tapi berapa nilai beasiswa yang didapatkan, yang sudah dihitung secara matang sesuai dengan tingkat kebutuhan hidup normal seorang mahasiswa.

Dengan kondisi perekonomian dan kesejahteraan negeri yang tidak merata ini, kebutuhan beasiswa sebagai salah satu penopang pendidikan masih sangat tinggi. Untuk itulah, diperlukan pengelolaan beasiswa yang cerdas dan rapi sehingga dapat menghasilkan outcome yang sesuai harapan.

Teruslah berjuang wahai Laskar Beasiswa!

Teruslah kejar mimpimu, meski aral merintangmu!

Sampaikan pada dunia bahwa kau bukanlah pengecut

Yang takut akan kegagalan, yang takut akan masa depan

Teruslah bergerak!

Karena satu tindakan bisa mengalahkan seribu ucapan

Sampaikan pada dunia bahwa kau adalah Sang Pemimpi

4 thoughts on “Menata Kembali Paradigma Beasiswa

    1. bukan, lebih kepada memahami konstelasi beasiswa yang ada di ITB dan menjajagi kemungkinan diadakannya sinergi atau kerja sama antara kedua belah pihak. Kita berenam, yaitu Mas Purwo, Mas Fachri, Mba Dini, Teh Gantina, Teh Iin, dan sy sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s