The Law of The Few

Malcolm Gladwell dalam bukunya “The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference” memasukkan The Law of The Few sebagai salah satu dari tiga aturan epidemik. Begitu juga Salim A. Fillah dalam beberapa halaman “Jalan Cinta Para Pejuang” membahas tentang fenomena ini. Sebenarnya seperti apa sih isi hukum tersebut?

Disarikan dari Wikipedia, hukum tersebut menyatakan bahwa kesuksesan setiap jenis epidemi sosial sangat bergantung pada keterlibatan orang dengan kemampuan tertentu yang jarang dipunyai orang lain. Dalam konteks ekonomi, ada istilah yang 80/20 yang menyebutkan bahwa 80% pekerjaan secara efektif hanya dikerjakan oleh 20% orang yang terlibat di dalamnya. Pendapat Andrea Galeotti dan Sanjeev Goyal tidak jauh berbeda, bahwa mayoritas orang mendapatkan informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan dari sedikit orang.

Intinya adalah bahwa dalam setiap fenomena yang terjadi di dunia ini, sebagian besar justru ditentukan oleh sedikit orang. Lihat bagaimana seorang George Soros mampu memporak-porandakan perekonomian Asia, terutama lagi ASEAN. Lihat bagaimana Yahudi yang hanya sedikit mampu menguasai pos-pos penting ekonomi dunia dan berperan dalam membuat skenario sejarah. Begitu juga pasukan Islam yang sedikit mampu menjungkalkan kekuatan poros utama saat itu: Romawi dan Persia.

Untuk menjadi orang yang spesial, kita harus bergabung dengan golongan yang sedikit. Banyak ayat Al-Quran yang mengasosiasikan label sedikit (qalil) dengan sesuatu yang mulia. Ada yang merefer kepada orang beriman, bersyukur, mengambil pelajaran, dll. Untuk itulah, kita diharapkan bisa menjadi bagian dari mereka yang sedikit. Bagaimana kita menjadi bagian dari yang sedikit itu? Dalam bidang akademik, seorang dosen pernah berkata, jika teman-teman kalian belajar 5 jam/hari, maka belajarlah 6 jam/hari. Jika mereka belajar 7 jam perhari, maka belajarlah 8 jam/hari. Begitu seterusnya. Jadilah orang yang lebih dari kebiasaan orang pada umumnya. Begitu juga sebagai seorang pekerja profesional, dia dituntut bekerja lebih dari rata-rata yang lain untuk menjadi seorang yang luar biasa. Untuk masalah diniyah, jika rata-rata orang sedang terlelap dalam tidurnya, maka bangunlah untuk mengagungkan nama-Nya. Jika orang-orang cukup puas dengan amalan wajibnya, maka perbanyaklah yang sunahnya. Tentunya kuantitas di sini harus dibarengi dengan kualitas.

Semoga kita bisa menjadi bagian dari golongan mereka yang sedikit, yang nantinya mampu berpartisipasi dalam mengukir peradaban dunia. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s