Untukmu Bunda

Duhai ibunda, dengarkan doa
Putramu yang kini jauh dari sisimu
Tunaikan pesan, genggam harapan
Ukir senyum bahagia di wajah ibunda

Kesabaranmu, asuh imanku
Lembut tuturmu bagai udara jiwaku
Air matamu, biaskan rindu
Sujudmu penuh lautan doa untukku

Atas hari yang lelah
Dan malampun kau terjaga untukku
Oh ibu
Kasih Allah, semoga tercurah untukmu
Tuk pengabdian yang kau persembahkan selalu
Didik diriku tuk fahami nilai keikhlasan

Munsyid: Gradasi

Kisah Yang Sangat Menginspirasi

Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?”

Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan: ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu?” tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan: “Tentu”

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

Kisah tersebut diambil dari sini

Endless Love

Siapa yang tak kenal Jackie Chan, ayo angkat tangan! Aku yakin sebagian besar enggan mengacungkan jarinya. Film-filmnya yang kebanyakan bergenre kungfu berbalut komedi sudah sering kali menghiasi layar kaca kita. Dari sekuel Police Story yang melambungkan namanya di kancah hollywood sampai yang terakhir The Karate Kid. Ternyata Jackie tidak hanya dikenal sebagai aktor papan atas , lebih dari itu ia juga merupakan penyanyi ternama dengan lebih dari 100 judul lagu. Ia juga pembuat film, koreografer, entrepreneur, stuntman, dan label-label lain yang melekat padanya. Sosok yang sangat fenomenal.

Di Indonesia, sepertinya sosoknya sebagai penyanyi kurang terdengar. Jarang sekali lagu-lagunya diputar di radio atau acara musik di TV (atau aku saja yang kurang gaul?). Hmm…sepertinya karena lagunya yang berbahasa China, sulit untuk dihafalkan layaknya lagu-lagu yang berbahasa Inggris, Melayu, dan Indonesia tentunya. Tapi jangan salah, menurut informasi dari internet, lagu-lagu Jackie sangat dikenal di negeri China. Bahkan bisa dikatakan sekitar 90% lebih warga China tahu (minimal pernah mendengar) lagunya. Salah satu lagu yang bagus adalah Endless Love yang merupakan OST The Myth keluaran tahun 2005. Jika dilihat liriknya, ternyata sangat dalam (kalau kata orang romantis). Let’s check it out!

Release me from this mysterious waiting
the stars are falling; the wind is blowing
Finally I can hold you in my arms
Two hearts beating together
Believe me that my heart has never-change
waiting a thousand year, You have my promise
No matter how many cold winter have passed
I will never let you go

Now hold my hands, and close your eyes
Please think about the days when we were in love
We loved each other too much, it caused us such pain
We can’t even say “I love you”

Every night my heart aches
I never stop thinking of you
I am used to being alone for such a long time
And I face it with a smile
Believe me, I choose to wait
Even though it’s painful, I won’t leave
Only your tenderness can save me
From the endless cold

Let the love in our hearts
Become a blossoming flower
We can pass through time, never bowing our heads
And never giving up our dream

We loved each other too much, it caused us such pain
We can’t even say the words “I love you”

Let the love in our hearts
Become a blossoming flower

We never forget our promise

Only true love follows us
as we travel through the endless space and time

We can’t even say the words “I love you”

Love is the only myth that exist in the hearts that never change

Bidadari Surga Dalam Mihrab Cinta

Suatu waktu aku sedang berselancar di dunia maya, menjelajah blog demi blog sahabat, dan mencari informasi baru dari berbagai penjuru bumi. Dan terdamparlah aku di sebuah blog kawan dekat. Darinya aku mendapatkan link blog istrinya. Nah, ada yang menarik di salah satu tulisannya yang bertajuk Bidadari-Bidadari Surga di Bumi Cinta. Hmm…dari judulnya, terasa sudah tidak asing lagi. Benar saja. Dua judul novel best seller oleh beliau dirangkai menjadi satu kesatuan yang indah. Bidadari-Bidadari Surga adalah buah karya Tere Liye keluaran tahun 2008, sedangkan Bumi Cinta ditulis oleh Habiburrahman El-Sirazy awal tahun ini.

Kang Abik memang sudah begitu melekat di hati para pecinta novel. Dengan di-film-kannya Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, namanya juga dikenal oleh hampir semua kalangan, termasuk kelompok Sufi (Suka Film). Bahkan rencananya 23 Desember 21010 ini Dalam Mihrab Cinta akan kembali menggebrak dunia perfilman kita. Tidak sabar untuk segera menontonnya. Terus terang dari segi cerita, DMC ini lebih aku sukai dibanding pendahulunya, AAC atau KCB. Di sana terasa lebih dekat dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama di Indonesia. Bandingkan dengan AAC dengan Fahri-nya, atau KCB dengan Azzam-nya yang hampir sempurna sebagai seorang laki-laki. Mereka menjadi dambaan banyak wanita, sebagai sosok pendamping idaman. Di DMC kali ini, Syamsul sebagai pemeran utama lebih “manusiawi” dengan pernah terjerumusnya ke dalam jurang kemaksiatan, yaitu sebagai pencopet (meskipun awalnya dipaksa). Kalau di dua novel (satu film) sebelumnya, kita dibuat terpesona dengan keindahan alam negeri seribu satu menara, di film ini kita disuguhi pesona khas Indonesia: Pesantren tradisional di wilayah Jawa Timur. Masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri, tinggal dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Cover Film Dalam Mihrab Cinta

Jika Kang Abik sudah begitu tersohor, bagaimana dengan Tere Liye? Jujur, aku sendiri belum begitu mengenalnya. Hanya sering mendengar dan membacanya sekilas. Dari namanya saja, terasa aneh, seperti bukan nama asli. Menurut referensi, arti dari tere liye adalah untukmu (untuk ibu, ayah, kakak, adik, sahabat, tetangga, tapi di atas segalanya, hanya untuk-Mu). Namun dari sisi kemampuannya menulis, tidak perlu diragukan lagi. Novel-novelnya selalu laris di pasaran. Banyak yang berpedapat bahwa novelnya sederhana tapi begitu menyentuh, mampu menghadirkan tokoh dan suasana yang hidup, mengajak kita untuk lebih memaknai hidup dengan bersyukur. Ketulusan, itu lah kuncinya. Ia lah wasilah pembuka hati. Semoga (Insya Allah) novel-novel karya bisa difilmkan, sebagai oase penyejuk iman ditengah padang film horor bin porno yang kian menjamur di negeri kita.

Karya-Karya Tere Liye

Akhirnya, atas rekomendasi teman tersebut, aku pun bergegas mencari novel-novel karya Tere Liye. Tidak butuh waktu lama, alhamdulillah sekarang sebagian novel tersebut sudah ada di tanganku. Minimal sudah ada, meskipun belum sempat di baca J. Sepertinya ini sudah jadi kebiasaanku, mempunyai dulu. Membacanya bisa kapan saja, terutama saat mood itu datang, hehe 😀 Apalagi sekarang juga TA dan proyek menuntut perhatian lebih dari ku. Harus mulai berlatih membagi waktu dan perhatian nih 😛