Selalu Ada Jalan di Setiap Kemauan

Waktu terus berjalan. Bahkan seakan terasa lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Dua bulan sudah aku tinggal di Bandung. Di sebuah bangunan kecil di pinggir jalan Cisitu Baru. Pada dinding putih lantai 2 terlihat barisan huruf yang membentuk suatu kata. Meski sudah lapuk, dengan samar aku bisa membacanya: Asrama Perhimak. Ternyata ini asrama yang dulu sering diceritakan oleh kakak kelas dari Bandung yang selalu datang ke SMA untuk memperkenalkan kampus dan kehidupannya. Asrama yang menjadi kebanggaan mahasiswa dari Kebumen, yang menjadi markas besar segala kegiatan, dan menjadi detak jantung kehidupan mereka. Dari penampakannya, bisa diperkirakan bahwa umurnya sudah sangat tua. Dan benar saja, bangunan tersebut sudah dihuni mahasiswa Kebumen sejak awal 1960an. Seiring bertambahnya mahasiswa dari Kebumen, maka awal 1990an diputuskan untuk ditambah lantai menjadi berlantai 2. Meskipun ada kekhawatiran tentang struktur bangunan –apakah kuat menahan beban lantai tambahan- alhamdulillah sampai sekarang masih tetap kokoh berdiri.

Aku masih tenggelam dalam penat, hanyut dalam pikiran atas masalah yang sedang kuhadapi. Uang yang aku punya tinggal untuk makan 3 hari ini. Setelah itu, bagaimana aku bisa bertahan? Pertanyaan itu terus menghantuiku, bahkan sampai ke alam tidurku. Aku mencoba membuat beberapa opsi solusinya. Minta ke orang tua adalah hal yang mustahil. Beliau sudah mengatakan kepadaku saat sebelum aku berangkat.

Nak, hanya ini dan doa yang bisa Ibu berikan

Uang yang beliau beri sudah habis untuk membayar biaya masuk kuliah dan biaya hidup 2 bulan ini. Uang itu pun di dapat dari hasil menjual sepetak sawah, yang sebenarnya masih milik Nenek, yang nantinya bakal di wariskan untuk Ibuku dan Bibiku. Namun, dengan ijin Nenek, sawah itu dijual dan hasilnya dibagi 2: untukku dan Bibiku. Karena memang luasnya tidak seberapa dan letaknya yang tidak strategis, ditambah lagi kebutuhan yang mendadak, maka bisa diduga kalau harga jualnya tidak seberapa. Sempat terjadi perdebatan di antara keluarga. Yang kuingat waktu itu Ibu meyakinkan yang lain bahwa ini akan jadi investasi masa depan bagi keluarga. Insya Allah aku suatu saat nanti bisa menggantinya, Ibuku berharap.

Aku bisa saja mengabarinya tentang kondisiku dan aku yakin pasti Ibu akan membantuku, meski dengan berhutang pada siapapun. Namun, aku tidak mau melakukannya. Sudah terlalu besar pengorbanannya untukku. Aku tidak mau lagi menyusahkannya, sudah saatnya aku membahagiakannya. Untuk itu, opsi meminta bantuan finansial ke orang tua, aku hilangkan jauh-jauh dari pikiranku, hari ini dan selamanya.

Bekerja. Opsi itu muncul. Namun bekerja apa? Apakah bisa dalam waktu yang cepat? Yang terbayang dalam benakku adalah mengajar les buat SMP atau SMA. Aku cukup menguasai semua Matematika, Fisika, dan Kimia, tidak untuk Biologi. Tapi, mengingat aku yang baru masuk kuliah, sepertinya susah mencari lowongan atau jaringan les di Bandung. “Insya Allah suatu saat nanti aku akan mengajar les”, janjiku dalam hati. Opsi ini juga gagal.

Bagimana kalau minta bantuan ke kepala Asrama Darul Yatama, tempatku menghabiskan 3 tahun selama SMA. Baru saja ide itu muncul, secara reflek ide itu juga kuhapus. Track record beliau selama ini bisa dibilang pelit untuk masalah uang, namun akan sangat royal terhadap makanan dan kerjaan. Dulu kita sering disuruh bantu-bantu memanen sayuran di sawah, membangun ruang sekolah, mencuci piring, dsb. Upah yang kita dapat bukanlah uang, tapi makanan. Jika ada kerjaan dan makanan, beliau tidak akan segan-segan untuk meminta kita melahapnya. Hmm….harus mencari solusi yang lain sepertinya!!!

Sebenarnya, aku sudah mendapat Beasiswa Masuk Universitas (BMU) dari panitia pusat SPMB. Fasilitas yang diberikan adalah uang pendaftaran SPMB, transportasi untuk tes SPMB, SPP selama 1 tahun, dan uang saku selama 1 tahun dengan cicilan Rp. 125.000/bulan. Karena beasiswa ini jugalah, waktu SMA aku tidak mendaftar ke Beasiswa Sampoerna Foundation dan Beastudi Etos. Alasannya cukup sederhana. Aplikasi BMU tidak ribet dan mereka menawarkan pendaftaran uang tes dan transportasi untuk SPMB. Inilah kunci masuk ke universitas. Beastudi Etos yang waktu itu dijelaskan perwakilan Etos Jogja, terkesan ribet dan banyak persyaratan. Selain itu mereka tidak menawarkan uang tes dan transport buat SPMB. Kalau SF, waktu itu pengumuman pendaftarannya sangat lama. Berkali-kali datang ke Kantor BK, tetap saja belum ada pengumuman. Ya sudah, memang sepertinya BMU lah jalanku.

Dengan uang Rp. 125.000/bulan, sangat susah bertahan hidup di Bandung. Belum lagi, aku tidak tahu kapan uang itu cair. Kata panitianya, uang akan cair di pertengahan semester sekaligus untuk 6 bulan. Dan sampai sekarang uang itu belum cair. Aku terus berpikir dan berdoa agar bisa menemukan solusinya.

***

Aku teringat pada pamflet yang tertempel di papan pengumuman di selasar perbatasan Labtek Elektro dan Labtek Farmasi. Saat itu, aku memang sengaja mencari-cari peluang beasiswa ke semua papan pengumuman. Oya, sepertinya aku juga mencatat Contact Person-nya. Ya, benar sekali. Di buku kecilku tertulis pendaftaran Beastudi Etos Bandung gelombang kedua beserta kedua CP-nya, Fathur dan Wiyono. Tanpa pikir panjang, langsung aku sms saja kedua orang tersebut.

Assalamu’alaikum. Maaf, apakah pendaftaran Beastudi Etos Bandung masih dibuka? Kemarin saya lihat pengumumannya di pamflet di dekat farmasi ITB”, aku coba mengirim sms.

Wa’alaikumsalam. Iya, masih dibuka. Paling lambat besok senin”, tidak lama berselang ada balasan.

Alhamdulillah, masih dibuka. Eitsss….tunggu dulu. Kubuka kembali sms balasan itu. Hah… paling lambat senin besok. Hari ini kan minggu. Oh…tidak!!! Aku harus segera bergegas. Kulihat semua persyaratan yang dibutuhkan.

  1. Surat keterangan tidak mampu. Alhamdulillah, aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelum ke Bandung.
  2. Surat keterangan slip gaji/pendapatan. Waduh, belum sempat mengurusnya waktu itu.
  3. Fotokopi Raport SMA dari semester 1-6. Ini juga sudah dipersiapkan.
  4. Fotokopi STTB, KK, KTP/KTM. Semua sudah beres, kecuali KTM dan KTP.
  5. Foto Rumah (dari dalam dan depan). Wah, yang ini belum sama sekali. Bagaimana ya???
  6. Foto 4×6 dua lembar. Yes, dulu sudah nyetak banyak.
  7. Membuat tulisan tentang perjalanan kisah hidup. Yang jelas belum pernah dibuat.

Langsung saja aku siapkan semua dokumen yang diperlukan. Siang itu juga aku pergi ke simpang. Tidak jauh dari Asrama Perhimak. Cukup jalan kurang dari 5 menit. Di sana aku beli kertas folio dan fotokopi KTP dan KTM. Setelah balik ke asrama, langsung kulanjutkan dengan menuliskan kisah perjalanan hidupku dalam dua lembar kertas folio. Sorenya pun semua sudah beres, kecuali 2 hal: surat keterangan pendapatan dan foto rumah (dari dalam dan depan). Alhamdulillah, setelah kutanyakan hal ini ke CP-nya, kekurangan tersebut bisa menyusul. Langsung saja kukabari keluarga untuk mengirimkan kekurangan dokumen tersebut secepatnya.

Ternyata salah seorang kakak kelasku yang juga penghuni asrama, Yosef, mengetahui juga niatku untuk mendaftar Beastudi Etos. Dia mengatakan bahwa ada orang Kebumen juga yang awalnya tinggal di asrama Kebumen dan sekarang tinggal di asrama Etos. Sumintir, Farmasi 2004, dia lah orangnya. Yosef pun menghubunginya untuk menanyakan jalur ke asrama Etos. Tanpa menunggu lama, malamnya, aku ditemani Yosef langsung menjelajah jalan menuju asrama Etos.

Tidak mudah menemukan alamat Jl. Tubagus Ismail XVII/57. Bahkan petunjuk sms dari Sumintir tidak cukup membantu menemukan asrama itu dengan cepat. Dari pertigaan simpang, kita menyusuri jalan Tubagus Ismail Raya setelah Isya, mungkin sekitar pukul 19.30. Sambil ngorbol dan berjalan pelan, kita membagi tugas masing-masing. Aku melihat ke bagian kiri, mengamati papan penunjuk jalan. Sebaliknya, Yosef ke arah kanan. Dari jalan raya, hanya terlihat beberapa penunjuk jalan, seperti Tubagus III, VI, atau VIII. Kita sempat berhenti sebentar untuk menanyakan hal ini ke orang di pinggir jalan. Dengan terlihat ada raut keraguan, orang itu menganjurkan untuk terus berjalan. Dengan bermodal kepercayaan kita terus berjalan menuruni jalan besar itu. Tiba-tiba Yosef berhenti.

Sepertinya kita salah jalan deh”, gumamnya padaku.

Kenapa gitu? Kok bisa tahu”, aku bertanya keheranan.

Lihat aja, ini bukan jalan Tubagus Ismail lagi”, dia menjelaskan.

Ternyata kita sudah berjalan terlalu jauh. Jalan yang kita lalui juga salah. Kita coba bertanya pada orang di samping jalan. Orang tersebut menjelaskan bahwa jalan Tubagus Ismail XVII tidak berada di samping jalan besar. Jalan tersebut ada di ujung sebelah dalam. Kita harus masuk dulu dari Tubagus VI atau VIII. Kita pun berbalik arah dan mengikuti saran Bapak tersebut. Setelah mencari kurang lebi 1,5 jam akhirnya ketemu juga. Bagunan cukup megah bercat putih dan berlantai dua. Tepat berada di pertigaan jalan Tubagus Ismail XVII, XIV, dan Bangbayang Selatan.  Di bagian depan terpampang papan nama yang jelas terbaca: Asrama Mahasiswa Beastudi Etos Wilayah Bandung.

Akhirnya aku pun bisa bertemu secara langsung dengan Fathur dan Sumintir. Dua nama yang selama ini hanya kukenal dari tulisan dalam pamflet dan cerita Yosef. Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami, mereka juga menjelaskan prosedur seleksi Beastudi Etos. Seminggu kemudian, aku diharapkan datang untuk menghadapi seleksi wawancara. Setelah itu, nanti baru ada kepastian apakah aku diterima atau tidak. Setelah semua jelas, kami pun pamit untuk pulang.

***

Aku masih belum menemukan solusi untuk bisa bertahan paling tidak sampai sebulan ke depan sampai ada pengumuan akhir Beastudi Etos. Terlintas kata-kata Murobbi menjelang kepergianku ke Bandung.

Akh, kalau antum butuh bantuan apapun, silakan hubungi ana. Insya Allah nanti kita bantu sebisanya”, kata-katnya begitu meneduhkan hati.

Sebenarnya meminta bantuan adalah sesuatu yang berat bagiku. Aku terbiasa berusaha dengan kemampuanku sendiri. Aku ingin menjadi orang yang benar-benar mandiri. Namun, kali ini aku seakan menyerah. Aku menyadari bahwa aku ini masih lemah. Aku pun berazzam dan berdoa semoga ini terakhir kalinya aku meminta bantuan finansial dari orang. Aku akan bekerja sebisa mungkin untuk bisa mandiri. Dengan mengucap bismillah, aku mengirim sms ke Murobbi perihal maksudku.

Insya Allah akh. Boleh minta no rekeningnya?”, jawabnya begitu cepat.

Kalimat yang pendek itu bagai kata-kata dari malaikat. Kuat dan menggetarkan hatiku. Aku hampir tidak percaya beliau membalasnya begitu cepat dengan sebaik-baik balasan. To the point, tanpa basi-basi. Benar-benar seperti apa yang beliau sampaikan ketika perpisahan dulu. Sekali lagi aku teringat kata-katanya.

Akh, kalau antum butuh bantuan apapun, silakan hubungi ana. Insya Allah nanti kita bantu sebisanya

Tidak seperti beberapa orang yang kukenal, yang hanya banyak berbicara namun tidak ada tindakan. Beliau memang Sang Murobbi bagiku. Orang yang sangat berpengaruh bagi perjalanan hidupku. Mengenal Islam yang sebenarnya, merasakan indahnya kebersamaan, mencintai untuk orang lain apa yang kita cintai untuk diri sendiri. Dua tahun lebih hari-hari yang kita lalui, perlahan masuk ke saraf-saraf memoriku. Meskipun kita sudah terpisah jauh, namun kita masih begitu dekat dan semua itu karena Islam. Meskipun kita bukan saudara kandung, namun persaudaraan atas nama Islam begitu dekat. Terima kasih Allah telah mengirim seorang Murobbi untukku.

Karena waktu itu aku belum punya rekening bank, aku pun meminjam rekening teman satu asrama. Tidak lama berselang, ada sms masuk.

Akh, sudah ana kirim. Semoga yang sedikit itu bisa membantu antum. Semoga antum dapat beasiswa itu”.

Alhamdulillah, bagiku itu sudah banyak. Bisa bertahan hampir sebulan dengan berhemat. Beliau juga mendoakan semoga aku bisa mendapat beasiswa, yang tidak lain adalah Beastudi Etos. Aku sebelumnya memang menjelaskan ke Beliau bahwa aku sedang dalam proses seleksi beasiswa. Dan sekarang dalam masa menunggu hasil akhinya. Aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah melupakan Beliau dan akan terus menjaga kekeluargaan ini sampai kapanpun.

***

Sudah sebulan lebih aku belum juga mendapat kabar tentang Etos. Padahal seharusnya sudah ada pengumuman. Aku yang tadinya optimis, perlahan-lahan mulai terkikis. Apakah aku tidak diterima sehingga tidak dihubungi? Aku coba untuk menepis pertanyaan dan perasaan itu meskipun tetap saja masih ada. Aku harus tetap percaya bahwa selama kita berusaha, Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Jika memang aku bisa sampai kuliah di sini, aku pasti bisa bertahan. Tidak mungkin aku akan memikul beban yang aku sendiri tidak mampu menahannya. Bahwa pada setiap kemauan pasti ada jalan. Aku sangat yakin itu. Aku putuskan untuk terus berdoa dan menunggu. Sempat mau bertanya ke panitia seleksi, tapi merasa tidak enak. Khawatir aku memang tidak diterima, dan panitia merasa tidak enak untuk memberitahukannya. Jadi lebih baik menunggu, lagipula baru sebulan lebih sedikit. Bisa jadi jadwalnya memang mundur. Pikirku coba menghibur diri.

Ramadhan sudah mau meginjak 10 hari yang kedua. Setelah sholat ashar di Salman, aku bersiap-siap untuk pulang ke asrama. Tiba-tiba HP bergetar menunjukkan ada pesan masuk. Tanpa ada rasa penasaran, ku buka saja pesannya. Nomor baru, siapa ya?

Assalamu’alaikum. Selamat, kamu diterima sebagai anggota keluarga Beastudi Etos Bandung. Semoga bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Fathur”.

Alhamdulillah. Janji-Nya memang selalu benar. Dia pasti memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang besungguh-sungguh. Dia pasti meniscayakan doa hamba-hamba-Nya. Bahwa pasti ada jalan di setiap kemauan. Bahwa semua akan indah pada saatnya. Yang perlu kita lakukan adalah bertawakkal pada-Nya. Dialah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita.

Sejak saat itulah, aku untuk pertama kalinya menjadi Etoser Bandung, meskipun belum resmi menjabat gelar itu karena memang belum menandatangani kontrak. Sejak saat itu pulalah aku siap melukis mimpi-mimpi dalam kanvas kehidupanku. Untuk Indonesia yang lebih baik!

*ditulis untuk arsip Etos Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s