Peran Akidah Dalam Menyikapi Masalah Hidup

Pendahuluan

Sebelum masuk ke dalam inti pembahasan, alangkah baiknya jika kita mengetahui lebih dulu apa sebenarnya aqidah itu. Berangkat dari pengertian tersebut, baru kemudian kita bisa memetakan manifestasinya dalam kehidupan dan menjelaskan urgensinya dalam menyikapi setiap permasalahan hidup yang muncul.

Menurut bahasa, aqidah berasal dari kata al-‘aqdu, yang berarti ikatan dan tarikan yang kuat. Ia juga berarti pemantapan, penetetapan, kait-mengait, tempel-menempel, dan penguatan. Sedangkan secara istilah aqidah banyak digunakan untuk menyebut keputusan pikiran yang mantap, benar maupun salah. Aqidah juga digunakan untuk menyebut kepercayaan yang mantap dan keputusan tegas yang tidak bisa dihinggapi kebimbangan. Yaitu apa-apa yang dihinggapi oleh seseorang, diikat kuat oleh sanubarinya, dan dijadikannya sebagai madzhab atau agama yang dianutnya, tanpa melihat benar atau tidaknya[1]. Pengertian lain dikemukakan oleh Imam Hasan Al-Banna dalam bukunya Majmu’atur Rasail, yaitu aqidah merupakan perkara-perkara yang hati kita membenarkannya, jiwa kita menjadi tenteram karenanya, dan ia menjadikan rasa yakin pada diri kita tanpa tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan[2].

Aqidah memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Jika diibaratkan sebuah bangunan, maka ia adalah pondasinya. Bangunan tidak akan berdiri dengan baik jika pondasinya lemah. Begitu juga dengan kehidupan kita, tidak akan berjalan dengan baik, jika aqidah kita bermasalah. Ia merupakan pijakan dan dasar bagi seseorang untuk berbuat sesuatu. Sudah bisa dipastikan jika seseorang mempunyai aqidah yang kuat dan baik, maka amal yang dilakukan setiap waktu selalu mengandung kebaikan.

Layaknya tanaman, aqidah juga perlu dipelihara dan dipupuk agar ia tumbuh semakin kuat. Memperdalam ilmu dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu sarana untuk terus menjaga aqidah tetap lurus. Sayyid Quthub pernah berkata[3], “Bangkit dan berjihadlah untuk menegakkan aqidah dalam hidup ini, karena sesungguhnya kehidupan itu pada dasarnya adalah aqidah dan jihad”. Hidup dan aqidah merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika kedua hal ini bisa saling sinergis dalam kerangka kebaikan, maka kebahagiaan dunia dan akhirat niscaya bisa diraih.

Permasalahan Hidup dan Penyikapannya

Ternyata tidak semua manusia mempunyai aqidah yang cukup kuat dalam menghadapi setiap permasalahan hidup yang ada. Banyak di antara mereka, bahkan yang notabenenya beragama Islam, dengan cepat menyerah pada masalah. Mereka mencari solusi pintas bagaimana menyelesaikannya, tidak peduli cara yang diambil baik atau tidak, benar atau tidak. Coba kita lihat berita-berita yang muncul di TV, koran, atau internet! Banyak kita dapati orang-orang yang sangat mudah putus asa, tanpa mau bekerja keras untuk bisa bertahan dan berhasil. Dari sekian banyak masalah yang memang sudah fitrahnya merintangi jalan kehidupan manusia, pada tulisan ini akan difokuskan pada masalah yang berakar pada kondisi ekonomi.

Belakangan ini fenomena yang cukup menarik diperhatikan adalah meningkatnya ketakutan seseorang untuk membina rumah tangga dan meningkatnya tindakan bodoh dalam keluarga, seperti penelantaran dan kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak (bahkan sampai dibunuh) atau mereka sendiri yang bunuh diri. Dari kedua fenomena tersebut, alasan yang sering dijumpai adalah kemiskinan atau tidak cukup punya uang untuk bertahan. Mereka takut tidak bisa bertahan jika menikah di satu sisi dan mempunyai anak di sisi yang lain. Apakah hubungan fenomena ini dengan aqidah?

Hubungannya begitu erat. Seseorang yang mempunyai aqidah yang kuat dan benar, dia akan selalu percaya bahwa rizki itu sudah ada yang mengatur jauh hari sebelum kita dilahirkan ke bumi. Tugas kita adalah menjemputnya dengan sebaik-baik usaha. Tidak mungkin Allah akan menelantarkan makhluknya jika memang mereka mau berusaha. Bahkan seekor burung pun selalu kenyang sore hari saat kembali pulang ke sarangnya, karena memang burung tersebut mau bergerak dan keluar dari sarangnya di pagi hari. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Huud ayat 6,

﴿ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴾

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS 11:6)

Sudah sangat jelas bahwa tidak ada satu pun makhluk di bumi ini yang tidak di jamin rizkinya oleh Allah, mengapa kita harus merasa khawatir tidak mampu bertahan? Takut menjadi miskin? Yang membuat kita putus asa dan pada akhirnya seakan melegalkan kita dalam berbuat aniaya terhadap diri sendiri dan orang lain.

Karena alasan ekonomi pula lah banyak remaja yang tidak mau melangsungkan pernikahan. Atau justru terkadang orang tua yang justru melemahkan pemuda tersebut untuk berani menggenapkan separuh agamanya. Ketika ada keberanian muncul di hati pemuda tersebut, biasanya akan muncul pertanyaan dari orang tuanya sendiri atau calon mertuanya. Sudah kerja dimana? Berapa gajinya? Nanti tinggal dimana? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebetulnya wajar. Namun bagi pihak yang berpikiran dangkal, maka mereka akan menuntut pertanyaan itu harus sudah terjawab dengan baik pada saat mau menikah. Ini yang kemudian membuat banyak orang mempunyai paradigma, kalau mau menikah harus sudah mapan.

Padahal sebenarnya Allah SWT sudah menjamin rizki orang-orang yang mau menikah. Jika mereka miskin maka Allah akan memampukannya, baik dari arah yang bisa kita duga, atau dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Hal ini seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran berikut ini.

﴿ وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴾

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 24:32)

﴿ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴾

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65:3)

Hadits Rasulullah berikut ini memberikan motivasi bahwa kita tidak akan pernah ditelantarkan oleh Allah dalam membina rumah tangga. “Makanan dua seorang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu juga ungkapan dari Umar bin Khathab RA yang memotivasi kita sekaligus menyindir kita yang menunda-nunda menikah hanya dengan alasan takut miskin dan tidak mampu bertahan, sebagaimana dikutip oleh Al-Qurhubi, “Saya sangat takjub dan heran dengan orang-orang yang tidak menikah karena takut miskin, dan tidak mau mencari kekayaan melalui perkawinan padahal Allah telah menjaminnya”[4].

Fenomena yang kedua adalah meningkatnya penelantaran yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. Sebagian ada yang meninggalkannya di tempat sampah, di tempat umum, atau yang terkejam membunuhnya. Hal ini mendapat peringatan keras dari Allah sebagaimana firman-Nya.

﴿ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءًا كَبِيرًا ﴾

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS 17:31)

Kita terkadang lupa dan mengira bahwa rizki hanya akan datang seperti apa yang ada dihitungan akal kita. Misalnya, seseorang dengan gaji 2 juta per bulan, dengan penghematan yang dilakukan bisa hidup cukup untuk hidup bersama 1 istri dan 1 anak. Menurut perhitungan, jika dia mempunyai anak lagi tanpa diimbangi dengan kenaikan gaji, maka dia tidak akan mampu menghidupi anak yang baru tersebut. Namun, apakah kenyataannya seperti ini? Apakah rizki hanya berasal dari gaji saja? Kita sering lupa bahwa rizki itu sering berasal dari arah yang tidak disangka-sangka. Kita terlalu mempercayai pada apa yang nampak, apa yang ada di hitungan kita. Padahal ada rencana Allah yang Maha Memberi Karunia, yang Maha Kaya, dan yang Maha Pengasih. Pernah mendengar kisah seorang tukang becak dengan banyak anak dan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi? Jika kita hanya menggunakan hitungan akal, apakah mungkin seorang tukan becak yang pendapatannya tidak seberapa bisa melakukan hal itu?

Penutup

Sudah saatnya kita kembali menguatkan dan meluruskan aqidah kita. Allah selalu ada di dekat kita, memberi karunia dan kasih sayang-Nya meskipun kita tidak memintanya. Apalagi jika kita memintanya, maka Ia pun akan dengan senang hati membantu hamba-Nya. Aqidah ini yang bakal menentukan sikap kita dalam menghadapi setiap permasalahan hidup yang muncul. Semakin kuat dan baik aqidah kita, semakin baik pula penyikapan kita terhadap permasalahan itu, yang berimbas pada semakin tentram dan nyaman hidup terasa. Hilangkan semua ketakutan tidak berdasar yang ada dalam diri kita, karena itu hanya akan melemahkan kita dan menjauhkan kita dari Allah. Tugas kita adalah bertakwa dan bertawakkal pada-Nya, dan percayalah bahwa karunia yang besar akan turun untuk kita.


[1] Aqidah Islamiyah dan Keistimewaannya oleh Syeikh M. Ibrahim Al-Hamd

[2] Majmu’atur Rasail karya Syeikh Hasan Al-Banna

[3] Urgensi Aqidah dalam Pembentukan Generasi Rabbani oleh S. Abdul Rahman

[4] Di Jalan Dakwah Aku Menikah karya Ust. Cahyadi Takariawan

2 thoughts on “Peran Akidah Dalam Menyikapi Masalah Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s