Pesan dari Tokyo

Pagi kembali menyapa layaknya sedia kala. Namun tidak sedingin hari sebelumnya. Cukup nyaman. Matahari pun sudah nampak. Sinarnya yang masih belia menerangi kamar, menelusup melalui jendela kaca putih di sisi utara kamar. Perlahan sinar itu semakin terang, memaksa lampu kamar untuk mulai beristirahat. Dan juga memaksa penghuninya untuk melakukan aktivitas pagi.

Aku sudah terjaga di depan laptop. Sudah menjadi kebiasaan belakangan ini setelah sholat, tilawah, dan halaqah shubuh, aku kembali ke kamar dan menyalakan laptop. Kadang mendengarkan murottal Ar-Rasyid atau Al-Kanderi, ada kalanya nasyid, bahkan menonton video Discovery, National Geographic, atau BBC, ataupun sekadar baca-baca ebook. Kali Gradasi membuka lembaran pagi ini melalui Kupinang Engkau Dengan Al-Quran dan Keagungan-Mu. Disusul Tashiru, Shaffix, Edcoustic dengan tembangnya masing-masing. Kalau pas sedang ngantuk, suara merdu mereka bak sihir yang mampu mengantarkanku ke alam lain: alam mimpi. Dengan kata lain, tidur😛

Sekilas teringat akan musibah gempa yang menimpa Mentawai, Sumbar. Aku pun berpikir kalau Indonesia sering sekali terkena gempa, kenapa kita tidak membuat model untuk memprediksi kapan dan dimana terjadinya gempa? Bukankah dengan catatan statistik kita yang lengkap, kita bisa membuatnya? Namun, di sisi lain aku juga berpikir bahwa hal ini pasti akan sangat sulit, terlalu kompleks. Misteri alam dan Ilahi yang sepertinya mustahil dipecahkan. Kita paling banter hanya bisa melihat potensi gempa tersebut, dimana dan kekuatannya, namun kita tidak bisa memperkirakan dengan pasti waktunya. Hmmm…oya, kalau tidak salah aku punya video tentang gempa. Setelah dicari, akhirnya ketemu juga.  Video berukuran 549 MB dengan judul Why Can’t We Predict Earthquakes? ini sepertinya bisa menjawab pertanyaanku sebelumnya. Okelah, langsung saja check it out!

Baru 20-an menit tiba-tiba HP-ku bergetar. Sebenarnya getaran itu tidak terdengar sama sekali, namun karena letak HP yang berdekatan dengan laptop, aku bisa melihat dengan jelas kalau ada panggilan masuk. Hmm….nomor baru, siapa ya? Jarang-jarang ada yang nelpon pagi-pagi gini, kecuali keluarga. Tanpa menunggu lama, aku pun menyentuh opsi answer pada layar HP.

“Assalamu’alaikum”, suaraku pelan mencoba membuka percakapan.

“Wa’alaikumsalam, benar ini dengan saudara Nur, Nur Ahmadi”, suara laki-laki ini cukup jelas terdengar di telingaku. Dari suaranya, kesan pertama yang saya dapat adalah bahwa dia orang yang sopan dan halus.

“Iya benar, ini dengan siapa?”, jawabku pelan karena penasaran dengan siapa aku berbicara. Mungkin karena suaraku yang pelan, dia beberapa kali mengulang pertanyaan apakah memang benar aku orang yang dia maksud.

“Oh, iya, ada apa?”, begitu aku menyahut ketika dia selesai menyebutkan namanya, dengan nada cukup santai. Aku mengira dia adalah temanku dalam satu komunitas di ITB, karena memang namanya sama.

“Kami dari Tokyo….”, begitu dia menyebut kata Tokyo, jantungku langsung berdegup kencang. Ada apa gerangan kok tiba-tiba ada telepon dari Tokyo? Seketika itu juga aku menyadari bahwa dia bukan orang yang sebelumnya aku maksud. Aku pun mengobah nada biacaraku menjadi lebih sopan. Aku juga mencoba menebak-nebak apa hubunganku dengan Tokyo sehingga ada telepon masuk dari sana.

Perlahan aku mulai menyadari seiring dengan penjelasan yang dia sampaikan. Sebulan yang lalu aku memang mengikuti lomba penelitian bertajuk TICA yang diselenggarakan oleh PPI Tokyo Institute of Technology, Jepang. Orang yang menelponku ini adalah perwakilan dari panitia lomba tersebut untuk mengumumkan hasilnya.

“Selamat ya, kamu berhasil menjadi pemenang, mendapatkan Golden Award”, kata-katanya bagai turun dari langit, begitu menyejukkan hati. Inilah kata-kata yang aku tunggu-tunggu, yang aku sampaikan dalam doaku, yang kuyakini bahwa akan terwujud selama aku berusaha keras dan berdoa dengan rajin. Man jadda wajada.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Mas”, aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Sujud syukur saja terasa tidak cukup atas begitu banyaknya nikmat yang telah Allah anugerahkan untukku. Aku semakin malu pada-Nya, begitu banyak waktu yang aku sia-siakan, maksiyat yang kulakukan, padahal tidak terhitung berapa banyak karunia dan nikmat yang Ia turunkan. Ya Allah, ampunilah aku, jadikanlah aku termasuk orang yang pandai bersyukur.

Setelah dia menjelaskan mengenai rencana upacara pemberian hadiah dan informasi lebih lanjut, dia pun menutup teleponnya dengan ucapan salam. Aku masih berada dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Antar percaya dan tidak. Sekali lagi teringat akan banyaknya nikmat-Nya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah atas kiriman pesan dari Tokyo ini.🙂

Kamis, 28 Oktober 2010

Asrama Etos Bandung

8 thoughts on “Pesan dari Tokyo

  1. lagi iseng buka dakwahtuna.com..eh nyantol ke website ini

    Subhanallah…selamat ya Nur…ikut bangga..smg bermanfaat dan bisa jadi tauladan yang real buat adik2!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s