Ulang Tahun-ku

Ulang tahun bagi sebagian besar orang, mungkin merupakan salah satu hari paling spesial dalam hidupnya. Terang saja, itulah untuk kali pertama seseorang bisa menghirup udara dunia secara mandiri, tanpa bantuan Ibunya. Namun ternyata, perlakukan orang terhadap hari tersebut bisa berbeda-beda. Ada yang membuat pesta mewah di hotel, ada yang sedang-sedang saja di rumah/tempat makan, ada juga yang sederhana dengan hanya membuat tumpeng. Terakhir, ada juga yang tidak peduli (biasa-biasa saja) dengan datangnya hari tersebut.

Selama ini, aku lebih banyak memilih opsi yang terakhir, yaitu bersikap biasa-biasa saja. Meskipun sempat juga mengajak beberapa orang teman untuk makan di suatu tempat. Mungkin ini karena memang tidak ada tradisi khusus dalam keluargaku. Orang tuaku tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku, pun juga kakak, dan adikku. Begitu juga sebaliknya. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi rasa cinta dan syukur kami. Ini hanya masalah tradisi. Malah akan jadi “aneh” klo tiba-tiba aku mengucapkan selamat kepada mereka. Jadi gimana gitu. Meskipun aku tak bisa menyangkal sempat mengucapkan selamat dan doa kepada mereka (hanya dalam hati) dan membelikan makanan kecil agar bisa dimakan rame-rame tanpa memberi tahu alasannya. Dari 4 bersaudara, aku sendiri yang berbeda bulan lahirnya, 3 yang lain di bulan Januari dengan selang 2 tahun, sedangkan aku terpelanting ke bulan Juli. Hmmm…..mungkin ada  “error” dalam implementasi jadwal hamil dan punya anak.

Anyway, fenomena berbeda mulai terasa ketika mulai menginjak bangku SMA dan kuliah. Saat ketika melihat sebagian besar teman begitu antusias menyambut hari lahirnya. Banyak yang saling mengucapkan selamat dan doa kepadanya, yang biasanya diakhiri dengan kata “ditunggu makan-makannya ya”. Hal ini semakin jelas terlihat ketika muncul Facebook. Setiap hari lahir itu datang, maka wall kita pasti akan dipenuhi berbagai ucapan selamat, ada yang serius, tapi biasanya lebih banyak kocaknya. Kita pun hanya bisa cengar-cengir sendirian pas membacanya, yang sering diikuti lafaz “Amiin”.

Setelah mencoba mengingat-ingat kembali, ada 3 saat ulang tahun-ku yang sedikit berbeda. Karena ada kado di dalamnya. Kalau karena ucapan mah sepertinya sudah biasa. Dan seperti fitrahnya manusia, ketika diberi kado pasti sangat bahagia. Bukan isi kadonya, tapi bentuk apresiasi perhatian yang sangat bernilai. Inilah saat-saat yang masih teringat itu:

1. Ketika pertama kali masuk SMP, pertama kali pula berkenalan dengan teman sekelas, Jefri dan Doni. Kita ngobrol banyak hal, salah satunya tentang tempat dan tanggal lahir. Aku heran saat mereka mengucapkan selamat ulang tahun dengan sangat antusias di hari itu. Selama ini perasaan tidak ada yang pernah mengucapkan hal itu di tanggal yang sama. Selepas pulang sekolah, mereka langsung mengajakku ke tempat fotokopi yang menjual minuman. “Mau minum apa? Aku yang bayarin deh”, kata Jefri. Di lemari es terlihat ada Sprite, Fanta, Coca-Cola. Karena penasaran dengan rasa Coca-Cola, aku pun menjawab “Coba Coca-Cola deh…”. Saat itulah pertama kalinya aku merasakan minuman yang begitu kesohor itu. Dan menurut hematku, rasanya biasa saja, cenderung tidak suka. Makanya dalam botol itu masih menyisakan setengah isinya. Namun demikian, aku sangat senang sekali bisa bersahabat dengan mereka.

2. Saat masih mengajar di Edulab. Aku mendapat kado berupa sebuah agenda kecil berwarna hitam. Dalam bungkusnya, tertulis ucapan selamat dan doa agar selalu istiqomah dan bisa mencapai cita-cita kuliah di luar negeri. Alhamdulillah, kebetulan saat itu lagi butuh agenda untuk catatan harian. Saat ini agenda tersebut pun masih ada, meski kondisinya tidak sebagus dulu (ya iyalah…). Haturnuhun pisan buat teh wini.

3. Saat summer school di University South Carolina, USA. Di kelas grammar, tiap pekan aku harus menulis dan mengumpulkan 2 jurnal berbahasa inggris tentang apapun. Bisa tentang pengalaman, cita-cita, keluarga, dll. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan minat dan kebiasaan untuk menulis dalam bahasa inggris. Terry Goodfellow, selaku dosen, akan membaca, memeriksa grammar, dan memberikan masukan atau komentar terhadap isi tulisannya. Saat kubuka kembali jurnal tersebut, aku sangat kaget. Ternyata ada permen kopi Werther’s Original yang diplester di bagian bawah halaman buku. Di sana tertulis, “Amen! I’m glad you were born! Happy Birthday!!” berikut hiasan balon yang lucu. Ohhh My God….thanks a lot Terry🙂

*Btw, sampai sampai sekarang permennya masih menempel di buku dengan kondisi yang tetap bagus, bingung apakah harus dimakan atau dibiarkan menjadi kenangan manis. Ada saran???

2 thoughts on “Ulang Tahun-ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s