Dari Arah yang Tidak Disangka-sangka

Tiba-tiba mejaku bergetar. Dari bunyinya yang khas, sudah pasti itu berasal dari settingan vibration HP. Pesan masuk. Sejenak kupalingkan tatapan mata, dari layar besar laptop, ke layar mungil HP. Terlihat pesan dari nomor asing. Siapakah gerangan? Apa isinya? Daripada pusing menebak-nebak, langsung saja kubuka pesan itu.

Mas, aq krmi duit go mbyr les, uang gdung, spp. tasrip.

Tanpa membaca kata terakhir pun aku tahu bahwa itu pesan dari adikku, Tasrip. Ya, aku paham betul dengan sapaannya terhadapku, begitu juga cara penulisan sms-nya. Dia masih duduk di bangku SMA kelas 3. Anak bungsu dari 4 bersaudara, yang saat ini lebih sering menemani ibuku. Kakak pertama bekerja dari pagi, jam 06.30 sudah meluncur dari rumah. Dan baru pulang sekitar jam 16.00, itupun jika dia langsung pulang. Terkadang dia mampir dulu ke rumah teman. Kakak kedua, yaitu aku sendiri, harus tinggal di Bandung demi mengejar cita-cita, mengangkat derajat dan martabat keluarga melalui pendidikan. Kakak ketiga, atau adikku, sekarang tinggal di semarang dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Praktis tinggal si bungsu dan si sulung yang tinggal di rumah menemani Ibu dan Nenek.

Bukan kali ini dia mengirim sms seperti itu. Cukup sering meski aku tidak ingat berapa pastinya. Biasanya untuk menghindari di sms seperti itu, aku dulu yang mengirim sms. Singkat. Cukup, “wis tek transfer xxx ewu, jal dicek”. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, aku lupa. Disamping juga  karena menipisnya lapisan dompetku lantaran belum mulai bekerja lagi sejak pulang dari Amerika. Dan seperti biasa, jawabanku pun akan singkat. “Insya Allah esuk2 tek kirim, engko nek wis dkirim tek sms“. Ini merupakan konsekuensi yang sudah aku pertimbangkan matang-matang sejak 4 tahun lalu, ketika aku memutuskan untuk merantau ke Bandung. Meskipun banyak yang menentang -keluarga maupun tetangga- dengan alasan kondisi ekonomi. Beruntung aku bergaul dengan teman-teman SMA yang mempunyai minat kuliah tinggi, yang secara tidak langsung memacu semangatku.

Namun, kali ini, sms itu mulai membuatku deg-degan. Cadangan sudah hampir habis, sedangkan pemasukan tidak seberapa. Klo seperti ini terus, bisa jadi Desember akan jadi bulan kelabu bagiku. Apakah aku mampu bertahan dengan terus mengiriminya? Begitulah syetan mencoba membisikkan godaannya padaku. Ragu dan was-was mulai menguasai pikiranku. Kemudian aku teringat akan tausyiah dari seorang Ustadz, bahwa memberi pada hakikatnya tidak akan mengurangi apa yang kita punya, justru akan menambahnya dengan yang berlipat-lipat. Aku coba merenungi kalimat itu dalam-dalam. Aku coba mengingat juga bahwa aku pernah mengalaminya, dan Allah kemudian menggantinya dengan yang lebih baik dari arah yang tidak disangka-sangka. Begitu indah rencana-Nya. Mengapa aku tidak melakukannya lagi? Kini aku pun yakin dengan keputusanku dan kupasrahkan semua kepada-Nya. Karena Dialah sebaik-baik pemberi karunia.

Tiba-tiba HP-ku kembali bergetar, dengan getaran khasnya. Mungkin dari adikku, pikirku sekenannya. Oh, ternyata bukan. Dari Fuad, teman satu kelas pas SMA, satu kamar pas SPMB, satu jurusan di ITB, sama-sama penerima BMU, dan kesamaan-kesamaan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Tumben dia sms, ada apa ya? Sedetik kemudian, senyum tersimpul dari bibirku. Alhamdulillah, segala puji memang hanya untuk-Mu. Tidak disangka-sangka, beasiswa datang untukku. Aku pun diminta segera ke LPKM untuk menandatanganinya. Mahasuci Allah yang selalu benar firman-Nya. Dia menjanjikan bahwa jika kita bertakwa kepada Allah, maka Ia akan menunjukkan kita jalan keluar terhadap permasalahan kita, dan memberikan kita rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Thank You Allah…

7 thoughts on “Dari Arah yang Tidak Disangka-sangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s