Awal Perjalanan Panjang

Mataku masih nanar menatap sesosok wanita di depan sebuah rumah kecil berbentuk letter L. Matanya yang berkaca-kaca menumbuhkan benih keraguan dalam hatiku. Apakah aku harus tetap pergi? Inikah jalan terbaik yang untukku? Sebenarnya aku sendiri hanya bermodal nekat, tentunya dengan keyakinan bahwa pasti ada jalan di setiap kemauan. Perlahan aku kembali menghampirinya.

Bu, apakah Ibu baik-baik saja?

Nak, Ibu baik-baik saja. Ibu hanya sedih tidak bisa memberimu apa-apa, kecuali untaian doa dalam setiap sholat Ibu

Aku pun meyakinkan Ibu bahwa aku akan baik-baik saja. Sejatinya aku tidak hanya membawa bekal nekat dan doa saja. Ada lanthing, makanan khas kebumen yang terbuat dari singkong. Bentuknya mirip angka 8, terkadang ada juga yang mirip angka 0. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, setiap ada yang bepergian, lanthing selalu menjadi teman setia di perjalanan. Selain lanthing, ada sayur kering. Terbuat dari tempe yang dipotong kecil sedikit memanjang, digoreng, dan kemudian diberi sambal. Disebut kering karena memang tidak ada kuahnya. Sayur ini bisa bertahan berhari-hari, sehingga bisa menghemat pembelian lauk. Sayur ini akan terasa nikmat jika dicampur dengan sayur bening atau sop. Manis dan pedasnya terasa pas. Enak banget pokoknya. Ada juga beberapa potong roti harga 500 perak yang ikut terbungkus rapi dalam kardus mi instan.

Kardus yang lain berisi beberapa helai pakaian dan celana bahan yang sebagiannya baru dibeli dari toko baju Pak Haji Syukron, tetangga sebelah yang sangat dermawan. Pak Haji, begitu kami memanggilnya, selalu memberikan diskon atau harga miring kepada kami, bahkan terkadang beliau memberi kami secara cuma-cuma. Ternyata masih ada orang seperti ini ya, gumamku dalam hati. Semua anaknya juga dekat dengan keluarga kami, terlebih denganku. Novi, lebih sering disapa Nobutz, lulusan UGM ini yang berperan besar memindahkanku dari SMK swasta ke SMA unggulan. Begitu juga dengan Adiknya yang kuliah di UNY, Asror, begitu banyak membantu sejak pendaftaran SPMB sampai pengumuman kelulusan SPMB. Wah sepertinya tidak terhitung jasa keluarga Pak Haji ini terhadapku. Bahkan sebenarnya, seandainya aku tidak lolos seleksi SPMB, aku lebih malu kepada mereka dibanding kepada keluargaku sendiri. Dukungan mereka -melalui anak-anaknya- agar aku bisa kuliah begitu tinggi, jauh lebih tinggi dibanding keluargaku sendiri. Ya, aku paham benar alasan awalnya kenapa keluargaku kurang mendukung niatku untuk kuliah. Alasan klasik yang banyak dihadapi orang-orang sepertiku di berbagai wilayah nusantara. Sebagian dari mereka layu sebelum berkembang. Pasrah dengan keadaan. Namun, tidak bagiku dan sebagian kecil yang lain yang sudah memancangkan tekad dalam-dalam demi esok yang lebih baik.

Dua kardus sudah tertata rapi. Ransel ukuran sedang juga sudah kugendong. Beberapa pakaian, buku pelajaran SMA termasuk Calculus terbitan jerman, dua kamus Indo-Inggris dan Inggris-Indo karya John Echols dan Hassan Shadily, persiapan TOEFL ada di dalamnya. Tidak lupa Mushaf mini berwarna keemasan yang kubeli dari uang hasil membantu KPUD Kebumen pada pemilu 2004, ketika aku masih tinggal di asrama Darul Yatama, Kawedusan. Aku kira semua sudah siap. Botol air mineral ukuran 600 ml juga sudah ada di tangan. Saatnya untuk pergi. Sekali lagi aku cium tangan Ibuku, Nenekku, dan bersalaman dengan kakak, adik, dan tetangga sebelah. Akupun berpamitan dengan mereka sekaligus naik becak, yang perlahan, membawaku menghilang dari tatapan mereka.

Amad, Ali, Nurma, Dani, dan beberapa teman yang lain ternyata sudah ada di stasiun Kebumen. Kita memang sudah janjian bakal berangkat bareng. Inilah kali pertama aku akan pergi cukup jauh dari kampung halaman. Sebelumnya, kota paling jauh yang pernah kusinggahi adalah Jogja. Waktu itu diajak sama kepala asrama ke Bantul, Sleman, termasuk singgah ke pasar Beringharjo. Tempat yang terakhir begitu berkesan karena aku dibelikan buku-buku pelajaran SMA yang ingin sekali kumiliki. Meskipun buku bekas, tapi isinya tidak jauh berbeda. Alhamdulillah aku berhasil membawa buku Kimia 2000, Fisika 2000, dan matematika. Sebenarnya Kebumen-Jogja tidaklah jauh. Hanya perlu sekitar 2-3 jam naik motor.Kalaupun mau pakai mobil atau kendaraan umum, aku kira tidak jauh berbeda.

Perjalanan ini juga bakal menjadi kali pertama aku akan naik kereta api. Wah, gimana ya rasanya? Tidak sabar rasanya ingin segera menaikinya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kereta impian pun datang. Bagai gula yang terlihat oleh kerumunan semut, tiba-tiba saja kereta itu diserbu ratusan orang yang berebut mencari tempat duduk.

Nur, kene….kene….kosong kiye“, teriak salah seorang teman dengan aksen ngapak, khas kebumen.

Oke…oke….panggoni disit ya“, sahutku padanya, sambil menenteng dua kardus, dengan ransel masih terpasang di punggungku.

Alhamdulillah, akhirnya dapat tempat duduk juga. Tidak kebayang kalau harus berdiri 8-9 jam Kebumen-Bandung. Bisa-bisa sampai Bandung, langsung tepar. Sepanjang perjalanan, yang menyenangkan, adalah ketika melihat pemandangan alam berupa hamparan hijau sawah, pepohonan, gunung, atau sungai. Tenteram dan nyaman rasanya dunia ini. Namun, ternyata itu tidaklah lama. Yang lebih mendominasi perjalanan adalah suasana panas di dalam gerbong. Pedagang bersliweran menjajakan dagangannya, tanpa peduli banyaknya keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Pengamen juga tidak mau kalah mencoba mencari rizkinya. Bahkan bencong (waria) pun ikut memanaskan suasana siang itu. Pengemis, tukang sapu, dan tukang semprot pengharum ruangan (karena terlalu harum terkadang bikin mau muntah), beberapa kali mampir ke gerbong kami. Hmmm….naik kereta tidak seindah dalam bayanganku sebelumnya. Tapi, aku juga sadar diri, dengan label ekonomi dan harga cuma 20 ribu, apa yang bisa kuharapkan. Sudah untung dapat tempat duduk. Alhamdulillah. Memang harga tidak pernah bohong, berbading lurus dengan layanan🙂

Kiara condong…..kiara condong“, terdengar suara sayup-sayup diantara berisik roda kereta beradu dengan rel dan suara percakapan sekian ratus, bahkan ribu orang. Wah, sepertinya kita bakal sampai nih. Dan benar saja. Dari jauh, tulisan yang awalnya buyar kian jelas terlihat. “Stasiun Kiara Condong“, papan berwarna dasar biru dilengkapi logo kereta api dan angka yang menunjukkan ketinggian tempat, terasa gagah menyambut kami. Ya, kami, kawanan para pencari ilmu dari salah satu sudut kota Kebumen, Jawa Tengah. Kemudian, aku pun teriak dalam hati “Bandung, Aku Datang!!!!

2 thoughts on “Awal Perjalanan Panjang

  1. Subhanallah.. Terharu gw baca cerita lo Nur..
    Jd malu ama diri sendiri.. hehe
    Smoga karya2 bs terus menginspirasi yak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s