Rayap, Sebuah Metafora Untuk Segala Sesuatu yang Menggerogoti Keimanan

Insya Allah, saya akan mendiskusikan sebuah isu yang sangat penting bagi setiap muslim. Dengan terminologi pribadi, saya menyebutnya “Rayap”. Apa itu rayap? Jawabaan yang dapat diterima adalah serangga yang memakan kayu sebuah rumah sehingga melemahkan fondasi strukturnya. Kita bisa saja membuat sebuah rumah besar, tetapi mungkin kemudian digerogoti oleh rayap. Mereka terus memakan fondasi dan pilarnya hingga tiba-tiba, kita melihat bahwa rumah tersebut roboh. Peristiwa ini juga bisa terjadi terhadap keislaman kita.

Kita memahami bahwa Allah telah mewajibkan kita untuk menyembahnya semata, dan bahwa Allah telah menciptakan kita untuk tujuan tersebut. Allah tidak tidak menciptakan kita untuk makan, bermain, atau menonton TV. Allah juga tidak menciptakan kita untuk membuat rumah. Semua itu adalah hal sekunder.

Mengapa Allah menciptakan kita? Allah berfirman dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS 51:56)

Inilah tujuan kita diciptakan. Jadi, kita tidak hidup untuk makan, tapi makan untuk hidup. Tujuan kita bukanlah makan. Tujuan kita bukanlah sebuah pekerjaan. Hal ini hanya untuk membantu kita dalam menyembah Allah.

Tujuan utama setiap muslim, laki-laki dan perempuan, dalam hidup ini adalah untuk menyembah Allah, untuk mengenal Allah, dan untuk meng-esa-kan Allah dengan semua jenis ibadah. Mengapa kita mendirikan sholat, berzakat, berpuasa, dan berhaji? Semua itu adalah ibadah dan amal saleh.

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. رواه الترمذي ومسلم

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khathab RA, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan“. (HR Turmuzi dan Muslim)

Seseorang bertanya (kepada Abdullah bin Umar): “Manakah yang lebih dulu, berhaji atau berpuasa Ramadhan?”. Abdullah bin Umar menjawab, “Bukan berhaji yang lebih dulu, tapi berpuasa Ramadhan”.

Bayangkan sejenak bahwa islam bagaikan rumah yang besar. Kita mencoba mendirikan pilar-pilar Islam dengan sholat, zakat, puasa, dan haji, tetapi ternyata ada rayap yang terus memakannya. Kita melaksanakan haji, namun kemudian rusak dan tidak berarti karena dimakan rayap. Kita mencoba menegakkan sholat, namun kemudian rayap juga memakannya dan sholat kita pun tidak bernilai.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut ini adalah contoh sederhana yang berkaitan dengan hal tersebut, yaitu hadits tentang tata cara sholat yang benar:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل المسجد فدخل رجل فصلى ثم جاء فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم فرد النبي صلى الله عليه وسلم عليه السلام فقال ارجع فصل فإنك لم تصل فصلى ثم جاء فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم فقال ارجع فصل فإنك لم تصل ثلاثا فقال والذي بعثك بالحق فما أحسن غيره فعلمني قال إذا قمت إلى الصلاة فكبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ثم اركع حتى تطمئن راكعا ثم ارفع حتى تعتدل قائما ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ثم ارفع حتى تطمئن جالسا ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ثم افعل ذلك في صلاتك كلها

Diriwayatkan dari Abu  Hurairah, Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan seseorang mengikutinya. Orang itu mengerjakan shalat kemudian menemui Nabi SAW dan mengucapkan salam. Nabi SAW membalas salamnya dan  berkata, “Kembalilah dan shalatlah karena kau belum shalat”. Orang mengerjakan shalat dengan cara sebelumnya, kemudian menemui dan mengucapkan salam kepada Nabi SAW. Beliau pun kembali berkata, “Kembalilah dan shalatlah karena kau belum shalat”. Hal itu terjadi tiga kali. Orang itu berkata, “Demi  Dia  yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan shalat dengan cara yang lebih baik selain cara ini. Ajarilah aku bagaimana cara shalat”. Nabi SAW bersabda, “Ketika kau berdiri untuk shalat, ucapkan takbir lalu bacalah (surah) dari Al-Quran kemudian rukuklah hingga kau merasa tenang (thuma’ninah). Kemudian angkatlah kepalamu dan berdiri lurus, lalu sujudlah hingga kau merasa tenang selama sujudmu, kemudian duduklah dengan tenang, dan kerjakanlah hal yang sama dalam setiap shalatmu“.  (Shahih Al Bukhari).

Rasulullah SAW menjawab salam dan memberitahu orang tersebut bahwa sholatnya tidak diterima. Apa yang terjadi? Menurut kaidah Islam sholat tersebut tidak berpahala. Dia mengerjakan sholat, tapi Rasulullah SAW mengatakan “kembalilah dan sholatlah karena kau belum sholat”. Mengapa? Apakah kita bisa melihat hubungan hal ini dengan rayap? Sesuatu telah terjadi dengan sholatnya sehingga sholatnya sia-sia. Jika diibaratkan dalam ujian, jangankan nilai C, nilai D pun dia tidak masuk. Dia tidak lulus.

Ketika dia mendatangi Rasulullah SAW untuk kedua kalinya, Rasulullah memintanya untuk melakukan sholat lagi. Hal ini terjadi sampai tiga kali sampai akhirnya Rasulullah memberitahunya bagaimana tata cara sholat yang benar.

*partly translated from a book entitled “Termites: A Metaphor for Everthing that Eats Away at the Foundation of One’s Deen” authored by Muhammad S. Adly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s