Senyuman Mentari Pagi Columbia

Matahari pagi kembali menyapaku. Sinarnya yang masih belia menelusup masuk lewat celah jendela, sedikit menerangi kamar 308 Cliff Appartement. Sejenak kutersenyum padanya, kubuka korden kuning yang menghijabku dengannya. Dan dia terlihat sangat anggun. Putih sinarnya kembali menenangkan hati-hati yang memandang, memberikan seberkas semangat mengawali hari dengan harapan dan senyuman. Sejenak mata meraba ke luar appartement, melihat satu demi satu keindahan alamnya. Dan benar. Mata ini begitu dimanjakan dengan hijau dedauan, warna-warni bunga, arsitektur tua, dan sebuah bangku kayu klasik yang terdiam dalam sebuah taman. Semua itu terlukis indah dengan pena mentari pagi, menorehkan goresan halus dalam kanvas kehidupan. “Columbia, selamat pagi”, benakku berucap.

Sejurus kemudian, laptop kunyalakan sambil beranjak mendekati lemari es. White Sandwich Bread dan Apple Jelly yang kubeli di Publix Market, bersanding dengan Gunter’s Pure Honey dan Red Apple dari Islamic Centre of Columbia. Cukup kuambil satu pasang roti tawar tersebut, bagian bawah diberi selai apel dan yang atas diberi madu murni. Begitu lezat rasanya. Apel Merah menambah kenikmatan breakfast pagi itu. Dan beginilah potret pagiku. Nasi baru bisa ditemui siang atau sore harinya. Bahkan tidak jarang, sehari cuma makan sekali, itupun dengan Angus American/Swiss Burger saat lunch di Garden Drill di dekat Horseshoe. Lumayan, sekali makan 6 USD.

Matahari mulai beranjak sepenggalah, sudah saatnya ke kampus. Air hangat cukup menyegarkan tubuhku yang merasa dingin. Selepas mandi dan menyiapkan segalanya, langkah kakipun dipercepat. Dari lantai 3, langsung keluar melalui pintu belakang appartement. Jalur pintas. Terlihat sebaigan teman dari Indonesia sudah bersiap menunggu mini bus di shutle. Sebagian yang lain masih bersiap-siap di kamarnya. Mini bus putih pun datang tidak lama berselang setelah aku sampai di shutle. Angkutan ini digunakan oleh sebagian besar mahasiswa University of South Carolina untuk transportasi kampus-rumah, tentuanya bagi mereka yang tidak punya mobil sendiri. Hampir setiap 15 menit dia datang. “Good morning”, “Thank you”,  “You’re welcome”, dan “Have a nice day”. Begitulah kata yang menyambut dan menutup obrolan kami dengan sopir mini bus tersebut. Bagi kami, angkutan ini bak layaknya, sang penyelamat. Tidak terbayangkan kalau setiap hari pergi-pulang kampus jalan kaki. Tidak hanya menghabiskan waktu, namun juga tenaga dan keringat. Jalan menanjak, panas yang begitu terik, dan perut lapar, tak kuasa menghipnotis kami untuk selalu menggunakannya. Mudah dan gratis!

Dan sekarang kelas pun dimulai. Bersiap mendengarkan Terry Goodfellow yang sangat energik, atraktif, dan humoris dalam mengajar. Berharap banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman darinya.

2 thoughts on “Senyuman Mentari Pagi Columbia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s