iPod, iPhone, iPad, atau iMac???

Kelas Speaking/Listening baru saja selesai. Tidak seperti biasanya yang langsung menghadang mini bus, kali ini aku berjalan mendekati gedung Byrnes, atau yang lazimnya disebut gedung EPI (English Programs for Internationals). Di sanalah, aku bertemu dengan dua sahabat satu tanah air, sebut saja Andre dan Ahyadi. Kita memang sudah berjanji bakal pergi bersama sore ini. Tujuanku hanya satu ke Bank Wachovia, mengaktifkan ATM card dan mencairkannya. Ya, hanya itu.

Meskipun Bank tersebut tidak berjarak jauh dari Byrnes, namun perjalanan ini terasa melelahkan. Satu alasan: udara yang sangat panas. Jakarta yang kala itu bagiku sangat panas, ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan suhu udara di Columbia. Tentunya karena sekarang adalah musim panas. Untung saja di sini tidak ada polusi, tidak ada macet, tidak ada bunyi klakson yang bersautan, yang membuat kepala penat dan dada sesak. Sejurus kemudian, sampailah tiga sekawan ini di depan pintu utama Bank.

Dengan senyuman hangat petugas bank menyambut kami. Aku tidak tahu identitas laki-laki itu, yang kutahu di ruang sebelah Christina juga tersenyum pada kami. Aku pernah bertemunya beberapa hari sebelumnya. Dia tinggi, cantik, dan masih muda. Sedikit terkejut juga bahwa dia memakai pakaian yang tidak pernah kulihat di bank-bank Indonesia. Cukup mengganggu konsentrasi yang melihat.

Ternyata prosesnya sangat cepat dan mudah. Tidak seperti di negeri asal kami yang sering belibet dan mengantri lama. Dan sekarang ATM card-ku sudah aktif. Tanpa berpikir panjang kami langsung menyegerakan diri masuk ke ruang ATM dan mengambil semua uang yang ada. 400 USD, dan hanya menyisakan 10 USD di tabungan. Akhirnya, urusanku selesai dan siap-siap kembali ke Cliff Appartement, untuk beristirahat.

Ohh…tidak, ternyata teman berduaku tidak ingin pulang. Mereka ingin membeli netbook dan camera. Bimbang tiba-tiba menyelinap di pikiranku. “Masa pulang sendiri? Udah jauh, panas pula”, pikirku dalam hati. Akhirnya berbekal penasaran dan keterpaksaan, aku pun mengikuti mereka. Kita mau naik apa, pertanyaan yang masih terngiang di kepala, langsung terjawab dari obrolan mereka dengan petugas bank. Mereka meminta bantuan dia untuk menghubungi taksi, satu-satunya jalan yang mungkin. Sejenak aku berpikir, betapa baiknya petugas bank di sini, mau menelponkan taksi untuk kami. Di saat itu juga aku coba menghilangkan pikiran negatifku tentang image negeri tercinta. Sempat ada rasa khawatir karena taksi di sini terkenal mahal, namun perlahan perasaan itu hilang karena kebersamaan kita.

Taksi pun melesat meninggalkan jalan Assembly, menyusuri jalan Taylor, menuju pusat perbelanjaan Best Buy. Rasa khawatir tiba-tiba muncul melihat argo taksi yang bergerak cepat. Jantung semakin deg-degan saat argo menunjuk lebih dari 15 USD. Perbincangan renyah Ahyadi dengan sopir taksipun tidak bisa menenangkanku memandangi angka yang terus bertambah. Sekitar 23 USD, saat di mana mobil berhenti tepat di depan pintu tujuan. Dan mulailah mata ini memandang berbagai produk yang dijajakan. Semakin dilihat semakin meningkatkan hasrat untuk membelinya. Aku terhenti lama di stand iPod, iPhone, iPad, dan iMac, produksi perusahaan ternama Apple, Inc.

Cukup murah dibandingkan harga di Indonesia. Namun, setelah berpikir berulang kali, aku rasa aku tidak membutuhkannya. Ada hal lain yang lebih urgent di hari esok. Akhirnya aku urungkan keinginan membeli satu di antaranya. Cukuplah melihat-lihat, mencoba, dan bertanya-tanya dengan penjaga stand. Setelah lama menunggu, kedua sahabatku datang dengan membawa barangnya masing-masing, Andre dengan netbook Dell-nya dan Ahyadi dengan camera Sony-nya. Aku cukup puas hanya dengan bermain iPad.

Sekali lagi rasa kagum dan respect tiba-tiba muncul saat petugas Best Buy menelponkan taksi untuk kami pulang. Ternyata image Amerika yang digembor-gemborkan di negeri kami tak semuanya benar. Banyak orang di sini yang sangat baik, ramah, sopan terhadap orang lain, terlebih orang asing. Mungkin pemerintah/rezim mereka saja yang mencoreng nama Amerika secara keseluruhan, layaknya Mesir sekarang atau Indonesia dulu. Panas yang begitu terik mengantarkan kami sampai di rumah, Cliff Appartement. Uang kertas 20 dan 5 USD serta senyum terkembang, mengakhiri obrolan kita dengan sopir taksi tersebut.

*Tuesday, June 22 2010: Best Buy, Columbia, South Carolina, US

7 thoughts on “iPod, iPhone, iPad, atau iMac???

  1. wah, asyik banget kang barangnya lebih murah, ya mungkin karena di Indonesia kan dikenakan pajak masuk.
    Tapi cukup tertarik dengan nama jalan di sana ada assembly -seperti bahasa pemrograman- dan taylor.
    Dan paling tidak pernah bermain dengan ipad -saya sendiri belum pernah melihat langsung bahkan menyentuhnya. hihi..

    keren-keren.
    Wah, berbaginya boleh kang, paling tidak saya bisa mendapatkan informasi orang disana, bahwa tidak semua seperti yang kita pikirkan sebelumnya.

    1. mau beli iPhone sayang ga bisa dipake di Indo krn udah kontrak dg AT&T selama 2 tahun, makanya iPhone 3GS 32 GB cuma 199 USD. Klo ada yg bisa ngunlock gratisan/murah, sy langsung beli deh. Klo mau unlock di sini, biayanya mahal. Harganya bisa jadi 600-700 USD. Mending ga usah beli🙂

  2. Teringat pernah baca entah blognya siapa, percakapan sopir taksi(S) di eropa dengan penumpang dari Indonesia(I)

    S : Anda pasti dari Indonesia
    I : Darimana Anda tahu?
    S : Anda lebih sibuk memerhatikan argo taksi daripada menikmati perjalanan Anda

    Saya kira itu cuma guyonan, tapi ternyata ada benarnya juga untuk kasusmu Nur,😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s