Tetapkan Muslimku Selalu

Andai matahari di tangan kananku
Takkan mampu mengubah yakinku
Terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati

Bilakah rembulan di tangan kiriku
Takkan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya

Andaikan seribu siksaan
Terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambut pun, aku takkan bimbang
Jalan ini yang kutempuh

Bilakah ajal kan menjelang
Jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanyalah untuk-Mu
Tetapkan muslimku selalu

Senyuman Mentari Pagi Columbia

Matahari pagi kembali menyapaku. Sinarnya yang masih belia menelusup masuk lewat celah jendela, sedikit menerangi kamar 308 Cliff Appartement. Sejenak kutersenyum padanya, kubuka korden kuning yang menghijabku dengannya. Dan dia terlihat sangat anggun. Putih sinarnya kembali menenangkan hati-hati yang memandang, memberikan seberkas semangat mengawali hari dengan harapan dan senyuman. Sejenak mata meraba ke luar appartement, melihat satu demi satu keindahan alamnya. Dan benar. Mata ini begitu dimanjakan dengan hijau dedauan, warna-warni bunga, arsitektur tua, dan sebuah bangku kayu klasik yang terdiam dalam sebuah taman. Semua itu terlukis indah dengan pena mentari pagi, menorehkan goresan halus dalam kanvas kehidupan. “Columbia, selamat pagi”, benakku berucap.

Sejurus kemudian, laptop kunyalakan sambil beranjak mendekati lemari es. White Sandwich Bread dan Apple Jelly yang kubeli di Publix Market, bersanding dengan Gunter’s Pure Honey dan Red Apple dari Islamic Centre of Columbia. Cukup kuambil satu pasang roti tawar tersebut, bagian bawah diberi selai apel dan yang atas diberi madu murni. Begitu lezat rasanya. Apel Merah menambah kenikmatan breakfast pagi itu. Dan beginilah potret pagiku. Nasi baru bisa ditemui siang atau sore harinya. Bahkan tidak jarang, sehari cuma makan sekali, itupun dengan Angus American/Swiss Burger saat lunch di Garden Drill di dekat Horseshoe. Lumayan, sekali makan 6 USD.

Matahari mulai beranjak sepenggalah, sudah saatnya ke kampus. Air hangat cukup menyegarkan tubuhku yang merasa dingin. Selepas mandi dan menyiapkan segalanya, langkah kakipun dipercepat. Dari lantai 3, langsung keluar melalui pintu belakang appartement. Jalur pintas. Terlihat sebaigan teman dari Indonesia sudah bersiap menunggu mini bus di shutle. Sebagian yang lain masih bersiap-siap di kamarnya. Mini bus putih pun datang tidak lama berselang setelah aku sampai di shutle. Angkutan ini digunakan oleh sebagian besar mahasiswa University of South Carolina untuk transportasi kampus-rumah, tentuanya bagi mereka yang tidak punya mobil sendiri. Hampir setiap 15 menit dia datang. “Good morning”, “Thank you”,  “You’re welcome”, dan “Have a nice day”. Begitulah kata yang menyambut dan menutup obrolan kami dengan sopir mini bus tersebut. Bagi kami, angkutan ini bak layaknya, sang penyelamat. Tidak terbayangkan kalau setiap hari pergi-pulang kampus jalan kaki. Tidak hanya menghabiskan waktu, namun juga tenaga dan keringat. Jalan menanjak, panas yang begitu terik, dan perut lapar, tak kuasa menghipnotis kami untuk selalu menggunakannya. Mudah dan gratis!

Dan sekarang kelas pun dimulai. Bersiap mendengarkan Terry Goodfellow yang sangat energik, atraktif, dan humoris dalam mengajar. Berharap banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman darinya.

Story of My Room Mate, Nelson Llason

*Room 308, Cliff Appartement, Columbia, South Carolina, Untited States

By looking at his face and hearing his name, I couldn’t guess where he was from. But  I thought he was from Latin America, although I didn’t know the exact country. Nelson Llason is his name and he’s from Valparaiso city, Chile. This country has the longest coastline in the world. It has dessert and borders Peru in the north, has mountains and borders Argentina in the east, the Pacific Ocean in the west, and Antartica in the south. The weather is hot in the north, warm in the middle, and cold in the south. It is often shaken by earthquakes, including what just happened in February 2010. In the past, Chile and almost all countries in Latin America were colonized by Spain, except Brazil. That’s why they use Spanish in daily conversation, except Brazil uses Portuguese. Eventhough Chile is located in Latin America, the Chilean people never think that they are in Latin America. They are just Chilean, it’s enough.

Nelson came to the USA alone on January 2010. His family is still in Chile. He chose the University of South Carolina as a place for learning and improving his english skill. It is his second term at the English Programs for Internationals USC. He is going to finish this program and continue his doctoral degree next August. He has a Fulbright Scholarship to pursue a PhD in International History program at Ohio University, in Columbus, US. History for him is very important. By knowing history, we can make a better decision for the future in all areas such as economy, politic, military, culture, etc. It’s because history has a such pattern of events that may happen again in the future. So, it can be considered when someone is going to make a decision.

As in many developing countries, a high school teacher in Chile also has a low salary. If someone wants to get a better salary, he has to move to become university teacher. This is also going to be done by Nelson. He left high school where he had taught for 3 years. He goes to the USA to pursue his PhD. After he graduates with PhD, he wants to go back to Chile to be a university teacher. He also has a plan to do some research in the international history field.

Etika Berpendapat atau Mengkritik

Tulisan ini muncul karena adanya sebagian saudara kita yang suka mengkritik saudaranya yang lain. Memang sudah menjadi sebuah kewajiban kita mengkritik (menasehati–red) saudara kita yang lalai atau salah, namun bagaimana jika yang dilakukan sejatinya bukan menasehati, justru menghakimi? Bukan memperbaiki tapi justru menjatuhkan? Hal ini saya rasakan sudah cukup lama, ketika masih duduk di bangku SMA. Yang saya sedihkan -begitu miris- mereka semua adalah para pengucap syahadat, yang notabene-nya mereka termasuk Islam, meskipun sebagian mungkin hanya dalam KTP.

Perbedaan sudah sunatullah. Justru terasa hambar dunia ini jika semua seragam. Allah pun tidak menginginkan hal ini, begitu gampang bagi-Nya menjadikan semua manusia beriman kepada-Nya. Namun hal itu tidak dilakukan karena Dia ingin menguji, siapa yang terbaik di antara kita.

Saya di sini hanya ingin menghimbau pada diri saya sendiri dan juga saudara sekalian untuk mengetengahkan kritik/nasihat sebagai media memperbaiki seseorang, bukan menghakimi dan menjatuhkannya. Untuk itulah diperlukan beberapa etika dalam berpendapat atau mengkritik. Alhamdulillah saya mendapatkan salah satu referensi dari Ust. Nabiel Ibnu Fuad Al-Musawa dari salah satu blog. Berikut ini adalah etika dalam berpendapat:

1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4:114 dan QS 23:3), dalam hadits Rasulullah SAW juga disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah RA:

“Bahwasanya perkataan Rasulullah SAW itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab Nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu Abdur Rahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab
kuatir membosankan kami
(HR Muttafaq ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan

“Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali” (HR. Al-Bukhari).

6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda Nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi Allah SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49:11, juga dalam hadits Nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits Nabi SAW dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga Allah mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi Allah, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafazh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

Sedangkan yang berikut ini adalah etika dalam mengkritik:

  1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
  2. Menggunakan data yang ilmiah dan tidak mengedepankan emosi
  3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
  4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
  5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
  6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
  7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
  8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
  9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
  10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Marilah kita budayakan diskusi sehat dan ilmiah, saling menasihati bukan menghakimi, berpendapat dan menyanggah, tentunya dalam koridor kebenaran dan kesabaran. Untuk hari esok yang lebih baik….