Ketika Harus Memilih: Penuntut Ilmu

Tidak terasa 4 tahun terasa begitu cepatnya. Detik terus berlalu, menit pun terus berjalan, merangkai jam yang terus berubah menjadi hari, kian lama kian terasa cepat. Aku masih ingat benar ketika pertama kali menjejakkan langkah di bumi parahyangan ini, bersama teman-teman seperjuangan dari Kebumen. Tak kan terlupa ketika kami harus berdesak-desakan dalam 1 kamar kecil, harus dihuni oleh 5-6 orang dengan barang bawaan masisng-masing. Begitu jelas tergambar bagaimana tawa dan canda menghiasi siang dan malam kami di kamar sempit itu sebelum kami resmi menjabat titel “Mahasiswa” ITB. Begitu terang terbaca tulisan pada spanduk yang terpasang di gerbang depan kampus. “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa”, begitu sebagian penggalan kalimatnya. Alangkah cepatnya masa-masa itu terlewat. Dan kini, aku sudah berada pada ujung masa sebagai mahasiswa, titel yang merupakan dambaan sebagain besar siswa SMA. Aku harus terus melihat ke depan, ke arah mana aku akan melangkah selanjutnya, dengan sesekali melihat ke belakang sebagai pijakan arah. Beberapa pilihan telah menyambut: melanjutkan studi, kerja, atau wirausaha.

Dari ketiga pilihan tersebut, sampai sekarang aku masih cenderung memilih opsi yang pertama: melanjutkan studi (ke luar negeri). Hal ini wajar mengingat visi ke depanku adalah mengembangkan pendidikan dan teknologi elektronika nasional. Mengembangkan pendidikan dengan menjadi pendidik itu sendiri secara langsung. Pendidik yang bisa menjadi teladan bagi muridnya, dalam hal science, agama, perilaku, dan pemikiran. Mengembangkan teknologi elektronika dengan menjadi peneliti sekaligus engineer yang dapat menciptakan inovasi baru yang tepat guna dan tepat sasaran. Pengembangan teknologi itu tidak hanya sebatas tataran penelitian, namun juga harus masuk ke level bisnis, yang akhirnya dapat memajukan tingkat perekonomian. Pada fase ini, diperlukan kerja sama yang kuat antara tim Research & Development kampus/institusi, perusahaan/investor, dan pemerintah selaku pembuat kebijakan. Untuk bisa melangkah sampai ke arah sana, diperlukan visi yang jauh dan motivasi yang kuat, yang ditunjang oleh kemampuan menganalisis dan memprediksi perkembangan teknologi dan market masa depan. Oleh karena itulah, melanjutkan studi  S2 (Master) dan S3 (Doctor) sangat diperlukan oleh negara ini. Dan saya berazzam menjadi salah satu bagiannya.

Melihat dari kuantitas, kita masih tertinggal jauh dari India dan Cina. Setiap tahun mereka meluluskan puluhan ribu engineer handal bidang elektronika, sedangkan kita baru ratusan. Mereka mempunyai jumlah doktor yang ratusan kali lipat dibanding Indonesia. Tidak heran jika mereka menjadi salah satu pusat kemajuan dunia dan bahkan diprediksi dapat menggoyahkan dominasi USA dan Rusia. Dilihat secara kualitas, sebenarnya kita tidak kalah dengan mereka -bahkan bisa dibilang unggul-, kita hanya perlu pemerintah yang peduli terhadap SDM dalam negeri melalui kebijakan-kebijakannya. Negara India dan Cina sudah lama menerapkan konsep “Brain Drain” yaitu mengirim orang-orang jeniusnya untuk berkiprah di luar negeri khususnya Amerika dan Eropa, baik sebagai mahasiswa atau pekerja. Jadi jangan kaget kalau banyak orang Cina dan India menduduki posisi penting di universitas ternama dan perusahaan terkemuka di Amerika dan Eropa. Konsep “Brain Drain” ini sekilas merugikan suatu negara karena SDM-SDM handalnya harus pergi dan dimanfaatkan oleh negara lain. Namun, jika kita bisa jeli dan cerdas, kita bisa menerapkan konsep “Reverse Brain Drain” yaitu memanggil kembali orang-orang yang telah lama berkiprah di luar negeri untuk membangun tanah airnya. Inilah yang telah dilakukan bangsa India dan Cina.

Hanya satu jalan bagi kita untuk maju, yaitu dengan Ilmu. Karena ialah kunci untuk membuka tabir alam beserta isinya. Karena Ilmu juga merupakan bekal kita untuk ber amal. Karena orang yang berilmu telah dijanjikan Allah akan diangkat derajatnya. Jadi, teruslah menjadi Penuntut Ilmu dan yakinlah bahwa dengannya dan melalui izin-Nya, kemajuan negeri ini hanya tinggal masalah waktu. Untuk Indonesia yang lebih berilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s