SMS dari Murobbi

Membuka kembali sms yang pernah masuk ke HP, sedikit banyak dapat menghadirkan suasana baru dalam hidup: senyum, tangis, atau bahkan tawa. Itupun yang kadang kulakukan untuk mendapatkan suasana yang lebih segar. Dan ternyata ada beberapa pesan dari Murobbi yang masih tersimpan rapi dalam message box HPku. Pesan-pesannya mengalirkan kasih sayang dan semangat yang tulus dari seorang yang mencintai saudaranya karena Allah semata. Berikut ini cuplikan beberapa sms beliau:

Bersyukurlah atas nikmat Allah niscaya akan Allah tambahkan. Lapangkanlah dada atas segala kesulitan niscaya kemudahan akan datang. Maafkanlah kesalahan ikhwah, Insya Allah surga menanti. Ingat akhirat akhi, niscaya akan melembutkan hati. Selesaikan segala persoalan akhi, semoga Allah mempermudah. La tahzan, innallaha ma’ana. (28-11-2007 | 13:29:00)

“Inilah serpihan taman surga, yang ditawarkan kepada manusia, untuk membentuk warna jiwa, lebih indah dari taman bunga”. Marhaban yaa Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa. (29-08-2008 | 20:58:29)

Menjadi penolong agama Allah adalah satu-satunya profesi yang selalu membuka lowongan bagi pekerja baru. Setiap saat, setiap hari, sepanjang matahari masih terbit dari timur. Namun, menyambung rantai perjuangan para Rasul bukan pekerjaan yang mudah. Bila dakwah ibarat pohon, ada saja daun-daunnya yang gugur berjatuhan. Tapi, pohon dakwah itu tak pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas baru. Sementara daun-daun yang berguguran tak lebih hanya akan menjadi sampah sejarah. Bagaimana dengan kita??? Untuk saudaraku yang tak pernah lelah mencari kesempurnaan, semoga jadi renungan bagi kita semua. (24-09-2008 | 04:25:00)

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Dengan segala kerendahan hati, perkenankan kami menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Taqobbalallahu minna waminkum. Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan dosa. (01-10-2008 | 05:51:30)

Kita doakan saja akhi semoga kita semua tetap berada dalam jalan dakwah ini. (10-10-2008 | 14:30:53)

Alhamdulillah, memang antum sudah lulus S1 akhi? Teruskan sampai doktor di sana akhi, ana dukung. Kira-kira kapan berangkatnya? Baiknya sih memang menikah dulu supaya ada yang menemani antum di sana. Tapi yang penting tarbiyah jangan sampai lepas, itulah yang akan memberi kita amunisi iman, terlebih di medan yang baru. Insya Allah tarbiyah sudah ada di sana. Barakallahu fiek, biidznillah. (13:03:2010 | 18:32:58)

Akhi, jika antum sudah mau dan mampu maka menikahlah, jika belum maka bersabarlah. Menikah bagian dari ibadah, maka luruskan niat kita. Terlalu terburu-buru juga tidak baik. Bekal yang terbaik adalah keimanan kita kepada Allah. Mintalah kepada Allah di waktu malam, Allah akan kabulkan. Pilihlah calon antum dengan pikiran jernih, tenang, dan cerdas. Wallahua’lam. (13-03-2010 | 19:08:34)

Tiada yang bisa kuberikan kepadamu kecuali untaian doa, semoga engkau selalu dinaungi cahaya cinta-Nya dan dikaruniai kebahagiaan dunia akhirat. Segala puji hanyalah milik Allah, penguasa alam semesta, hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan memohon pertolongan.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan. (Doa Rabithah)

Ketika Harus Memilih: Penuntut Ilmu

Tidak terasa 4 tahun terasa begitu cepatnya. Detik terus berlalu, menit pun terus berjalan, merangkai jam yang terus berubah menjadi hari, kian lama kian terasa cepat. Aku masih ingat benar ketika pertama kali menjejakkan langkah di bumi parahyangan ini, bersama teman-teman seperjuangan dari Kebumen. Tak kan terlupa ketika kami harus berdesak-desakan dalam 1 kamar kecil, harus dihuni oleh 5-6 orang dengan barang bawaan masisng-masing. Begitu jelas tergambar bagaimana tawa dan canda menghiasi siang dan malam kami di kamar sempit itu sebelum kami resmi menjabat titel “Mahasiswa” ITB. Begitu terang terbaca tulisan pada spanduk yang terpasang di gerbang depan kampus. “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa”, begitu sebagian penggalan kalimatnya. Alangkah cepatnya masa-masa itu terlewat. Dan kini, aku sudah berada pada ujung masa sebagai mahasiswa, titel yang merupakan dambaan sebagain besar siswa SMA. Aku harus terus melihat ke depan, ke arah mana aku akan melangkah selanjutnya, dengan sesekali melihat ke belakang sebagai pijakan arah. Beberapa pilihan telah menyambut: melanjutkan studi, kerja, atau wirausaha.

Dari ketiga pilihan tersebut, sampai sekarang aku masih cenderung memilih opsi yang pertama: melanjutkan studi (ke luar negeri). Hal ini wajar mengingat visi ke depanku adalah mengembangkan pendidikan dan teknologi elektronika nasional. Mengembangkan pendidikan dengan menjadi pendidik itu sendiri secara langsung. Pendidik yang bisa menjadi teladan bagi muridnya, dalam hal science, agama, perilaku, dan pemikiran. Mengembangkan teknologi elektronika dengan menjadi peneliti sekaligus engineer yang dapat menciptakan inovasi baru yang tepat guna dan tepat sasaran. Pengembangan teknologi itu tidak hanya sebatas tataran penelitian, namun juga harus masuk ke level bisnis, yang akhirnya dapat memajukan tingkat perekonomian. Pada fase ini, diperlukan kerja sama yang kuat antara tim Research & Development kampus/institusi, perusahaan/investor, dan pemerintah selaku pembuat kebijakan. Untuk bisa melangkah sampai ke arah sana, diperlukan visi yang jauh dan motivasi yang kuat, yang ditunjang oleh kemampuan menganalisis dan memprediksi perkembangan teknologi dan market masa depan. Oleh karena itulah, melanjutkan studi  S2 (Master) dan S3 (Doctor) sangat diperlukan oleh negara ini. Dan saya berazzam menjadi salah satu bagiannya.

Melihat dari kuantitas, kita masih tertinggal jauh dari India dan Cina. Setiap tahun mereka meluluskan puluhan ribu engineer handal bidang elektronika, sedangkan kita baru ratusan. Mereka mempunyai jumlah doktor yang ratusan kali lipat dibanding Indonesia. Tidak heran jika mereka menjadi salah satu pusat kemajuan dunia dan bahkan diprediksi dapat menggoyahkan dominasi USA dan Rusia. Dilihat secara kualitas, sebenarnya kita tidak kalah dengan mereka -bahkan bisa dibilang unggul-, kita hanya perlu pemerintah yang peduli terhadap SDM dalam negeri melalui kebijakan-kebijakannya. Negara India dan Cina sudah lama menerapkan konsep “Brain Drain” yaitu mengirim orang-orang jeniusnya untuk berkiprah di luar negeri khususnya Amerika dan Eropa, baik sebagai mahasiswa atau pekerja. Jadi jangan kaget kalau banyak orang Cina dan India menduduki posisi penting di universitas ternama dan perusahaan terkemuka di Amerika dan Eropa. Konsep “Brain Drain” ini sekilas merugikan suatu negara karena SDM-SDM handalnya harus pergi dan dimanfaatkan oleh negara lain. Namun, jika kita bisa jeli dan cerdas, kita bisa menerapkan konsep “Reverse Brain Drain” yaitu memanggil kembali orang-orang yang telah lama berkiprah di luar negeri untuk membangun tanah airnya. Inilah yang telah dilakukan bangsa India dan Cina.

Hanya satu jalan bagi kita untuk maju, yaitu dengan Ilmu. Karena ialah kunci untuk membuka tabir alam beserta isinya. Karena Ilmu juga merupakan bekal kita untuk ber amal. Karena orang yang berilmu telah dijanjikan Allah akan diangkat derajatnya. Jadi, teruslah menjadi Penuntut Ilmu dan yakinlah bahwa dengannya dan melalui izin-Nya, kemajuan negeri ini hanya tinggal masalah waktu. Untuk Indonesia yang lebih berilmu.

Stanford, Kampus Impian

Awalnya tidak pernah terlintas dalam benakku kata “Stanford“. Aku tidak tahu apakah itu nama orang, nama kota, atau nama stadion. Mungkin opsi terakhir terasa lebih familiar, pasalnya nama tersebut mirip dengan nama stadion kebanggaan klub sepakbola Chelsea, yaitu Stamford (Bridge), yang terletak di Ibu kota Inggris. Ternyata aku tidak sendirian, teman-temanku pun -penggemar bola- juga beranggapan sama. Lalu, kenapa kata itu sekarang terasa begitu dekat dan sering terngiang-ngiang dalam pikiranku??? Berikut ini awal mula perkenalanku dengan kata tersebut.

Sebenarnya aku sendiri tidak begitu ingat kapan pertama kali aku mendengarnya. Yang teringat hanyalah ketika aku mulai mengenalnya, membacanya, dan tertarik padanya. Kejadian itu bermula saat aku mencari bahan di internet untuk membuat essay yang akan saya ikutkan ke dalam lomba menulis essay ITB, mungkin sekitar pertengahan 2007. Waktu itu, topik yang aku bawa adalah tentang kondisi dan peluang industri elektronika khususnya semikonduktor di Indonesia. Saat sedang asyik googling, aku terdampar di salah satu situs wikipedia yang memuat salah satu tokoh legendaris dan panutan ITB, Prof. Samaun Samadikun. Aku sering mendengarnya dari banyak dosen, namun sekalipun aku belum pernah bertatap muka dengannya. Namun, dari cerita yang sering kudapat, beliau merupakan sosok yang fenomenal, tokoh yang sangat dihormati banyak kalangan. Tidak heran jikalau, beliau dinobatkan sebagai Bapak Elektronika Indonesia, karena memang banyak sekali sumbangsihnya terhadap perkembangan teknologi elektronika Indonesia. Dan salah satu yang menarik dari perjalanan hidup beliau adalah beliau mendapatkan gelar master dan doktornya dari Stanford University. Bahkan ketika itu, beliau berhasil membuat paten, US Patent No 3,888,708 yang bertajuk, “Method for forming regions of predetermined in silicon”. Sejak saat itulah -karena kekagumanku akan sosok beliau- aku tertarik untuk melanjutkan studi di sana dan meneruskan cita-cita beliau mengembangkan pendidikan dan teknologi elektronika nasional.

Ketika itu juga aku tahu dan menyadari bahwa langkah ke sana begitu berat. Persaingan untuk bisa kuliah di sana begitu ketat karena memang Stanford merupakan kampus  terkemuka di USA bersama dengan MIT dan UC Berkeley. Melalui Stanford, lahirlah banyak ilmuwan dunia peraih Nobel dan juga lahirlah perusahaan raksasa dunia seperti Google, Intel, Cisco, NVIDIA, HP, Yahoo, Nike, Sun Microsystems, dll.  Untuk itulah, diperlukan persiapan dini yang ekstra keras agar bisa menembusnya.

Aku mulai memfokuskan bidang keahlian ke arah IC Design and Verification, bidang yang sangat di-support oleh Stanford dengan fasilitas laboratorium yang lengkap dan kerja-sama yang kuat dengan perusahaan elektronika yang berbasis di Silicon Valley. Aku juga sudah mulai mencari semua referensi berkaitan dengan admission process di Stanford. Aku sangat terbantu sekali dengan adanya teman virtual yang sedang mengambil kuliah di Computer Science, Stanford. Dia sering memberiku update info terbaru tentang Stanford, bahan-bahan yang perlu dibaca sebelum mendaftar, atau sekedar memberiku saran dan semangat. Aku juga mulai berkonsultasi dengan banyak dosen dan senior berkenaan dengan proses pendaftaran dan pembiayaan kuliah di USA. Dan memang salah satu hambatan terbesar adalah biaya kuliah yang sangat mahal (untuk ukuranku). Untuk bahasa relatif bisa dilatih, kemampuan juga bisa ditingkatkan, tapi untuk masalah uang, cukup berat menghadapinya. Mungkin salah satu solusinya adalah beasiswa, yang sementara ini belum ada yang bisa menanggung biaya keseluruhan (hanya sebagian). Namun, jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Tugas kita hanyalah berencana dan berusaha sekuat tenaga. Hasil, serahkan saja pada-Nya.

Memorial Hall of Stanford University

Jalan menuju Stanford University

Dan kini aku sudah ber-azzam bahwa minimal sekali dalam hidup ini akan menapakkan kaki di sana, baik hanya kunjungan semata atau sebagai mahasiswanya. Insya Allah, amiin.