Belajar Dari Anak SMA

Rahmat dan Yowan, begitu mereka biasa disapa teman-temannya. Sekilas tidak ada yang istimewa dalam diri mereka, layaknya siswa SMA sepeti biasa. Dengan senyum yang tulus dan lugu, mereka menyambutku di ruang tamu asramaku sendiri. Ya, mereka memang sudah menungguku kurang lebih setengah jam yang lalu. Ada kesalahpahaman tentang jadwal pertemuan yang sejatinya baru berlangsung seminggu kemudian. Aku sendiri juga merasa kaget ketika diberitahu bahwa mereka sudah tiba di asrama, di saat yang sama aku sedang ada acara temu koordinasi dengan manajemen tempatku bekerja. “Persilakan saja mereka istirahat dulu, saya segera menyusul“, begitulah bunyi pesan singkat yang aku kirimkan ke salah seorang penghuni asrama.

Sekilas melihat mereka, memori dalam otakku langsung membawaku ke dalam kenangan tahun-tahun sebelumnya. Ada sebuah pemandangan yang seakan sama setiap tahun, hanya berbeda subjek orangnya. Memang, hal ini selalu terjadi setiap tahun di asrama ini, saat proses seleksi penerimaan anggota baru asrama dilakukan. Aku juga teringat saat aku pertama kali menginjakkan kaki di asrama ini, yang tidak terasa 4 tahun sudah berlalu, dan mungkin tinggal menyisakan 1 tahun lagi (bahkan bisa kurang).

Aku melihat ada rasa penuh harap dari mereka, yang jauh-jauh datang dari singaparna ke bandung demi mengejar cita-citanya. Aku bisa membayangkan apa yang ada di dalam benak mereka, karena memang aku juga pernah merasakannya 4 tahun yang lalu. Sebuah harapan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah tertata rapi. Sebuah harapan yang dibelakang itu semua ada orang-orang yang dicintai: keluarga, saudara, tetangga, dan teman seperjuangan. Semua itu terekam jelas dari kesabaran mereka menunggu jadwal tes yang sedianya dimulai pukul 11.00 waktu setempat. 45 menit berlalu menandakan waktu tes tertulis sudah habis, kemudian disusul kumandang adzan beberapa menit kemudian mengajak pada hamba menjumpai Rabb-Nya.

Pukul 13.00 dimulailah proses wawancara terhadap dua orang siswa SMA N 1 Singaparna ini. Aku masih belum melihat sesuatu yang berbeda dalam diri mereka. Rahmat, mendapat giliran pertama wawancara. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulutku, sampai akhirnya aku sempat terdiam saat dia berbicara “Meskipun aku secara fisik cacat, tapi aku tetap ingin kuliah“. Aku mengingat kembali beberapa jam sebelumnya saat aku berjabat tangan dengannya. Dan memang terlihat ada yang aneh dengan cara berjabat tangannya, tapi aku tidak sampai terpikir bahwa dia mempunyai kekurangan fisik seperti itu. Sejak saat itu, aku mulai merasa kagum atas motivasinya yang sangat tinggi untuk terus menuntut ilmu dan aku mulai merasa malu atas kemalasanku dalam menuntut ilmu meskipun aku dikaruniai kesehatan fisik. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dan dia menjawab dengan tenang. Dia ingin menjadi seorang penerjemah buku berbahasa inggris dan seorang qari Al-Quran. Dia menunjukkan langkah-langkah apa saja yang sudah dia persiapkan untuk mewujudkannya. Dia sering membaca buku bahasa inggris, ikut lomba debat, speech contest, dan kegiatan lain yang mendukung mimpinya. Sesekali aku mengetesnya dengan pertanyaan berbahasa inggris dan jawabannya sungguh bagus bagi ukuran anak SMA (waktu aku seumuran dia, aku tidak bisa berbicara sebagus dia). Dia juga mondok di pesantren dan melatih qira’ah Al-Quran. Akupun penasaran untuk mendengarkan seperti apa bacaan Al-Quran-nya. Dan hati ini pun bergetar saat lantuan ayat-ayat suci Al-Quran mengalun indah dari mulutnya (kembali aku membayangkan saat SMA, ketika ikut pelatihan qira’ah Al-Quran, yang akhirnya tidak bisa bertahan lama). Subhanallah, Allah memang Maha Adil, dengan keterbatasan fisik (menurut dia adalah terkena polio), dia dikaruniai azzam yang kuat dan suara yang indah. Dengan kesulitan berjalan (terpincang-pincang), dia begitu bersemangat berangkat dari kampungnya ke bandung untuk mengejar mimpinya. Dengan kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan, dia begitu optimis akan kasih sayang Allah yang akan membawanya mewujudkan mimpi-mimpinya. Aku hanya berujar dalam hati “Terima kasih ya Allah, yang telah mengenalkanku padanya, yang darinya aku bisa mengambil banyak hikmah“.

Berlanjut ke Yowan, sebagai siswa kedua. Satu hal yang sangat bisa kuambil pelajaran dari dia adalah ketekunannya dalam membaca dan menulis. Satu hal yang jarang kulakukan karena ada kalanya rasa malas menghinggapi diri yang lemah ini. Dia memang punya cita-cita menjadi seorang sastrawan dan penulis. WS Rendra dan Habiburrahman El-Shirazy menjadi dua tokoh idolanya. Bagi dia, menjadi apapun dia nanti, menulis tetap menjadi aktivitas yang tidak akan dia tinggalkan. Menulis menjadi panggilan nurani untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain, menjadi gerakan jiwa untuk bisa menginspirasi orang lain. Dan aku melihat dan merasakan sendiri bahwa budaya membaca dan menulis di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara lain seperti India, Jepang, dan Cina. Dengan semakin banyak yang menulis (ketika menulis seseorang pasti juga membaca), akan tercipta budaya produktif dalam diri ini. Menulis adalah sebuah proses pengkristalan pikiran/ide menjadi satu langkah nyata yang tersusun begitu rapi. Hal ini membutuhkan pembelajaran yang tidak singkat, perlu motivasi dan keseriusan yang tinggi. Menulis jauh lebih susah dibanding membaca dan berbicara karena pada hakikatnya ketika seseorang menulis sesuatu, dia harus membaca sebanyak mungkin materi tentang apa yang akan ditulisnya, dan berbicara secara tidak langsung kepada orang banyak secara runut dan jelas. Untuk itulah, aku sangat salut pada Yowan yang bisa mengalokasikan waktu setiap hari untuk menulis. Meskipun dengan kondisi keluarga yang kurang kondusif lantaran orang tuanya bercerai, dia bisa menata dirinya untuk terus mengejar apa yang dia yakini dari mimpi-mimpinya. Dan sekali lagi, Allah memberikan hikmah-Nya melalui arah yang tidak disangka-sangka.

Terakhir, hanya doa yang bisa terucap dariku untuk mereka, semoga Allah menunjukkan jalan menuju mimpi-mimpinya. Karena barang siapa bersungguh-sungguh, niscaya Allah benar-benar akan menunjukkan jalan-jalan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s