A Very Nice Google Headquarters

Repost from: www.reasonpad.com

google-moving-around

A slide allows quick access from  different floors ….
There are also poles available … they  are similar to the ones used in fire stations

google-cafeteria

Employees can eat all they want from a vast choice of food and drink.

google-workstation

Each employee has at least two large screens. There are 4-6 ‘Zooglers’ per office.

google-innovation

Large boards are available just about everywhere because ‘ideas don’t always come when seated in the office’ says one of Googles managers.

google-game-room

Pool tables, video games etc. are  available in many areas.

google-tech-stop

Problem with your computer ?  No problem ….Bring it to this area where drinks are available while it is being fixed

google-comunication

On each floor, there are private cabin areas where employees can attend to personal  affairs.

google-tech-support

Professional masseurs (eusses) available.

google-relax

This room provides massage chairs that you control … while you view relaxing aquariums ..

google-library

There are many books in this  library … even some about programming !!

Elegi Anak Jalanan

Judul: Sejuta Arif
Munsyid: Edcoustic

Kata-katamu tak sempat lama kan lampu merah
Cepat kau menepi menghitung kepingan rupiah
Arif tak peduli walau panas hujan menerpa
Untuk sebuah kehidupan

Anak kecil berlarian di belantara kota
Bernyanyi dengan alat musik sangat sederhana
Arif tak peduli masa kecilnya telah terampas
Bahkan cita-citamu hampa

Sepuluh seratus bahkan seribu
Seratus ribu bahkan sejuta Arif menunggumu
Uluran tanganmu
Demi generasi jauh disana

Pernahkah kau pikir andai kau Arif sebenarnya
Berjuang menepis keangkuhan manusia kota
Arif tak peduli hatinya terbentur prahara
Bahkan cita-citamu hampa

Dari hari ke hari, semakin sering dan banyak terlihat anak jalanan yang mengais uang dengan mengamen di jalanan (bahkan tidak jarang yang sekedar meminta-minta). Begitu miris melihatnya. Bayangkan, anak yang masih sangat kecil, harus tumbuh dengan kondisi seperti itu. Bayangkan, tunas-tunas bangsa ini harus tumbuh dengan mental meminta-minta.

Kadang aku sendiri tenggelam dalam keraguan, apakah harus memberi setiap anak yang meminta-minta ataukah membiarkannya. Aku khawatir jika memberi (dan memang ada anjuran untuk tidak memberi yang tertulis pada pelang di pinggir jalan), mereka akan terlalu bergantung pada pemberian orang, kurang berkembang, dan kurang bekerja keras. Namun, jika tidak memberi, ada pergulatan batin yang merasa iba akan keadaan mereka. Akhirnya, aku pun mengambil sikap untuk memberi jikalau memang pas ada uang di saku. Jika tidak (atau uang terlalu besar), aku lebih memilih untuk tidak memberi. Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku bertindak, namun itulah yang paling cocok dengan nuraniku.

Sebenernya apa sih penyebabnya? Apa dampaknya? Bagaimana solusinya? Dan sederet pertanyaan lain terus terngiang-ngiang di kepalaku. Mudah-mudahan di postingan selanjutnya, aku bisa share apa yang kutahu, kuamati, dan kuharapkan dari persoalan ini. Yang jelas, ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, kita juga bertanggung jawab, minimal dengan ikut memikirkan solusinya sejauh yang kita mampu.

Lukisan Malam

Sepi meninggi di sebagian paruh bumi

Sunyi….tak tertutur satu kata

Hening….lirih angin menyapa

Gelap…. semakin gelap

Hanya seberkas kecil cahaya yang tersisa

Semua terlelap dalam diam

Terikat kuat oleh buai mimpi dunia

Di bawah jembatan tua

Di dalam rumah biasa

Atau di gedung pencakar angkasa

Kecuali, sebagian kecil dari sedikit

Terasing dalam kesendirian

Terjaga oleh basuhan air wudlu

Tertunduk dalam sujud yang khusu’

Mengharap adanya setetes cinta Rabbnya

Dan mendamba perjumpaan terindah dengan-Nya