Salahkah Terlalu Mencintaimu?

Pernah mendengar kalimat di atas? Bagi pecinta lagu pop Indonesia terlebih lagi para penggemar duo Ratu, saya yakin jawabannya “Iya” bahkan mungkin “Sering”. Berikut ini adalah potongan lirik lagu tersebut di bagian reff-nya:

Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu

Jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahu

Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku

Masihkah ada hasratmu, tuk mencintaiku lagi

Bagi yang jarang mendengarkan lagu, bisa jadi menjawab “Tidak”. Namun, bila pertanyaannya diganti, pernahkah merasakan kalimat tersebut, bisa jadi jawabannya “Iya”. Kalimat tersebut memang terasa dalam dan romantis yang bisa melambungkan orang yang mendengarnya ke langit ketujuh (*lebayyy). Lalu bagaimana sih Islam memandang hal ini? Jawabannya saya dapatkan ketika membaca buku “Virus-Virus Ukhuwah” karya Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah. Di salah satu bagian di buku tersebut dibahas mengenai bab “Terlalu Cinta”.

Islam sendiri memandang bahwa terlalu cinta adalah salah satu perbuatan yang tidak terpuji dan merupakan salah satu virus yang bisa merusak ukhuwah. Terlalu cinta di sini dimaksudkan untuk cinta yang terlalu berlebihan baik kepada saudara ataupun kekasih, yang dengan cinta itu dia menjadi buta dan tidak bisa berpikir lagi secara rasional. Sebagai contoh sederhana, dengan alasan sangat mencintai seseorang dan ingin membahagiakannya (memberikan perhiasan atau barang berharga), karena keterbatasan ekonomi, kita lantas melakukan hal yang dilarang Allah (mencuri atau meminta dengak paksa kepada orang tua). Contoh lain bisa dilihat pada penggalan novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy, dimana fadhil yang “mengikhlaskan” tiara untuk temannya sendiri zulkifli, dengan alasan itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri) dan juga dengan alasan fadhil mengira tiara akan lebih bahagia dan pantas mendapatkan zulkifli yang seorang ustadz di pondok pesantren. Padahal tiara sendiri sudah menyatakan lebih memilih fadhil daripada zulkifli. Cinta seperti inilah yang tidak diperbolehkan karena tidak ada itsar dalam hal ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, “Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.” (HR Tirmidzi).

Umar bin Khottob berpesan kepada kita sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori “Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur.”

Abul-Aswad berkata:

cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana

kerana kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu

jika harus benci, maka bencilah

tapi jangan menjauhi

kerana kamu tidak tahu

kapan harus kembali

Dalam hal ini ‘Adi bin Zaid berkata:

jangan berpikir kamu tidak akan dimusuhi

oleh orang yang tinggal dekat denganmu

dan jangan berpikir

seorang sahabat tak kan bosan

lalu pergi menjauh darimu

Oleh karena itu, marilah kita memperbaiki rasa cinta kita kepada seseorang, jangan rasa cinta itu berlebihan karena justru nantinya akan melemahkan cinta itu sendiri. Lebih baik cinta yang terus merangkak namun menanjak daripada cinta yang melonjak namun lekas surut.

Namun begitu, mari jadikan cinta kita kepada sahabat lebih besar dari cinta sahabat tersebut kepada kita, agar kita dapat meraih fadhilah (keutamaan) yang dijanjikan Allah melalui sabda Rasul-Nya:

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya adalah yang lebih utama di antara keduanya.” (HR Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s