Ayah by Starfive

Nasyid yang selalu mengingatkanku akan almarhum Ayah tercinta. Nasyid yang bagiku sangat dalam maknanya. Yang kadang secara tidak sadar air mataku mengalir ketika mendengarkannya. Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga engkau termasuk golongan ahli surga dan semoga kita nanti bertemu kembali dengan pertemuan yang indah.

Judul: Ayah
Artis: Starfive

Terbayang lagi kini…
Saat ayah tercinta
Melepas kepergianku
Walau ada gundah terhias di wajahmu
Namun senyummu tetap tabah

Di saat aku jauh…
Ketulusan cintamu terpatri di sanubari
Doa keikhlasan mengalir tuk hidupku
Membuat langkahku pun tertuju

Ayah… Kini ku bersimpuh di pusaramu
Maafkan anakmu tak sempat bahagiakanmu
Ayah… Di saat segalanya tlah ku rengkuh…
Engkau telah pergi tuk selamanya..

Ya Robbi, ku mohon padaMu
Ampunilah segala dosanya
Ya Robbi ku pinta padaMu
JadikanLah ia ahli syurgaMu

Izinkan nanti, kami berkumpul kembali
Bahagia bersamanya di syurgaMu
Izinkan nanti kami berkumpul kembali
Bahagia bersamanya di surgaMu…

Odei Anak by Raihan

Nasyid yang begitu dalam maknanya, yang selalu mengingatkanku akan seorang yang sangat kucintai, semoga Allah memberi beliau kebahagiaan selalu. Mohon maaf, karena belum bisa membahagiakan engkau wahai Ibu.

Judul: Odei Anak
Artis: Raihan

Odei anak nokeilah ko idaah
Nasusah mati yama no megentian dika
Odei anak nokeilah ko idaah
Nasusah tomod yamamu minaganak dika

Wahai anak apakah kau mengerti
Betapa deritanya
Ibu yang mengandung
Aduhai anak apakah engkau tahu
Alangkah deritanya ibu melahirkanmu

Namun kelahiranmu adalah penghibur hati
Dibelai dan dimanja setiap hari
Di malam hari tidur tak berwaktu
Tapi tak mengapa kerana kau disayangi

Hari-hari sudah pun berlalu
Usiamu makin bertambah
Seorang ibu sudah semakin tua
Namun terus berkorban untuk sesuap rezeki
Agar sempurna hari depanmu

Kini kau dewasa, ibumu telah pergi
Waktu yang berlalu seakan memanggil
Sudahkah kau curahkan kasih sayangmu
Apakah terbalas segala jasanya
Syurga itu di bawah tapak kakinya

Hanyalah anak-anak yang soleh
Bisa memberikan kasih sayangnya
Hanyalah anak-anak yang soleh
Bisa mendoakan hari akhiratmu

Salahkah Terlalu Mencintaimu?

Pernah mendengar kalimat di atas? Bagi pecinta lagu pop Indonesia terlebih lagi para penggemar duo Ratu, saya yakin jawabannya “Iya” bahkan mungkin “Sering”. Berikut ini adalah potongan lirik lagu tersebut di bagian reff-nya:

Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu

Jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahu

Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku

Masihkah ada hasratmu, tuk mencintaiku lagi

Bagi yang jarang mendengarkan lagu, bisa jadi menjawab “Tidak”. Namun, bila pertanyaannya diganti, pernahkah merasakan kalimat tersebut, bisa jadi jawabannya “Iya”. Kalimat tersebut memang terasa dalam dan romantis yang bisa melambungkan orang yang mendengarnya ke langit ketujuh (*lebayyy). Lalu bagaimana sih Islam memandang hal ini? Jawabannya saya dapatkan ketika membaca buku “Virus-Virus Ukhuwah” karya Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah. Di salah satu bagian di buku tersebut dibahas mengenai bab “Terlalu Cinta”.

Islam sendiri memandang bahwa terlalu cinta adalah salah satu perbuatan yang tidak terpuji dan merupakan salah satu virus yang bisa merusak ukhuwah. Terlalu cinta di sini dimaksudkan untuk cinta yang terlalu berlebihan baik kepada saudara ataupun kekasih, yang dengan cinta itu dia menjadi buta dan tidak bisa berpikir lagi secara rasional. Sebagai contoh sederhana, dengan alasan sangat mencintai seseorang dan ingin membahagiakannya (memberikan perhiasan atau barang berharga), karena keterbatasan ekonomi, kita lantas melakukan hal yang dilarang Allah (mencuri atau meminta dengak paksa kepada orang tua). Contoh lain bisa dilihat pada penggalan novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy, dimana fadhil yang “mengikhlaskan” tiara untuk temannya sendiri zulkifli, dengan alasan itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri) dan juga dengan alasan fadhil mengira tiara akan lebih bahagia dan pantas mendapatkan zulkifli yang seorang ustadz di pondok pesantren. Padahal tiara sendiri sudah menyatakan lebih memilih fadhil daripada zulkifli. Cinta seperti inilah yang tidak diperbolehkan karena tidak ada itsar dalam hal ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, “Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.” (HR Tirmidzi).

Umar bin Khottob berpesan kepada kita sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori “Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur.”

Abul-Aswad berkata:

cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana

kerana kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu

jika harus benci, maka bencilah

tapi jangan menjauhi

kerana kamu tidak tahu

kapan harus kembali

Dalam hal ini ‘Adi bin Zaid berkata:

jangan berpikir kamu tidak akan dimusuhi

oleh orang yang tinggal dekat denganmu

dan jangan berpikir

seorang sahabat tak kan bosan

lalu pergi menjauh darimu

Oleh karena itu, marilah kita memperbaiki rasa cinta kita kepada seseorang, jangan rasa cinta itu berlebihan karena justru nantinya akan melemahkan cinta itu sendiri. Lebih baik cinta yang terus merangkak namun menanjak daripada cinta yang melonjak namun lekas surut.

Namun begitu, mari jadikan cinta kita kepada sahabat lebih besar dari cinta sahabat tersebut kepada kita, agar kita dapat meraih fadhilah (keutamaan) yang dijanjikan Allah melalui sabda Rasul-Nya:

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya adalah yang lebih utama di antara keduanya.” (HR Muslim)

Janganlah Sesali Masa Lalu

Jadikanlah masa lalu sebagai guru yang terbaik bagi kita. Jangan biarkan kesalahan di masa lalu menenggelamkan kita dalam samudra penyesalan. Yakinlah bahwa setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah SWT dan yakinlah bahwa semua pasti ada hikmahya. Tinggal kita mau mengambil hikmahnya atau tidak. Jadi janganlah kita menjadi orang yang merugi karena hari ini sama denga hari kemarin, apalagi menjadi orang yang terlaknat karena hari ini lebih buruk dari hari kemarin. So, tetap semangat dan jangan putus asa. Masih ada hari esok yang sudah menunggu karya-karya terbaik kita.

Hadits Rasulullah SAW, “Mintalah kepada Allah dan jangan lemah. Jangan katakan, andaikan saja aku melakukan ini dan itu, pasti begini begini. Tapi katakanlah, Allah telah menggariskan takdir dan apa yang Ia kehendaki pasti terjadi. Karena sesungguhnya kata-kata seandainya akan membuka peluang gangguan syaithan.” (HR. Muslim).

Al-Quran melarang kita menyerupai orang kafir yang biasa menggunakan kata-kata seandainya. Kata-kata itu tak pernah bisa merubah apa yang sudah lewat dan tak pernah menghidupkan yang mati. Mari kita mentadabburi firman Allah dalam surat Ali Imran:156 di bawah ini:

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafiq) itu, yang mengatakan pada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang : kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak akan mati dan tidak dibunuh. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran:156)