Obsesi Mengembangkan Industri “Chip” Indonesia

Ketika sy sedang googling, eh tidak sengaja terdampar pada satu berita yang sangat menggugah hati. Ya, berita yg juga merupakan salah satu impian sy: menjadikan Indonesia maju dalam bidang teknologi. Berikut ini sy kutip dari harian Pikiran Rakyat.

BELUM lama ini, dua tim mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB meraih dua gelar dalam Large Scale Integrated Circuit (LSI) 2009 (kompetisi tahunan tingkat universitas dalam bidang perancangan chip) ke-12 yang berlangsung di Okinawa, Jepang. Tim Ganesha ANT yang membuat perancangan prosesor dengan paralel system meraih penghargaan tertinggi yakni SIS Award, sedangkan Tim Zoiros yang membuat rancangan prosesor dengan kecepatan 1 G mendapatkan gelar ketiga yakni Xilinx Award.

Keberhasilan tim Ganesa ANT dan tim Zoiros itu mengikuti jejak tim ITB sebelumnya yang juga pernah berprestasi dalam kompetisi tersebut. Tahun 2006, tim Arjuna mendapat penghargaan The Best Feature Award. Tahun 2007, tim VR4 meraih runner up juara umum dan The Spesial Feature Award. Tahun 2008, tim Garuda Parahyangan meraih juara umum dan penghargaan IECE Smart Informedia System Award, dan tim Crew meraih juara kedua mendapatkan penghargaan Semiconductor Industry Newspaper Award.

Deretan prestasi tersebut tentunya membanggakan sebab muda-mudi Indonesia itu sukses menyisihkan tim-tim unggul dari negara lainnya di Asia. Dalam konteks Indonesia yang sepi kiprahnya dalam industri chip, prestasi itu mencuatkan fakta menarik. “SDM Indonesia dalam perancangan chip sangat potensial,” kata Trio Adiono, staf pengajar STEI ITB, kepada Kampus.

Adalah Trio Adiono, orang yang ada di belakang kesuksesan tim-tim tersebut. Para mahasiswa itu sebelumnya ditempa selama 6 bulan melalui mata kuliah perancangan chip. Trio juga memberikan bimbingan penuh pada mahasiswa dalam Laboratorium IC (Integrated Circuit) Design ITB yang diketuai olehnya.

Trio ialah salah seorang desainer chip andal yang keberadaannya terbilang masih langka di Indonesia. Ketertarikan dan keahliannya sudah muncul sejak di bangku kuliah S1 teknik elektro ITB. Ketika itu, ia sudah aktif di laboratorium dan mulai merancang chip. Lulus S1 tahun 1994, ia mengambil S2 teknik elektro ITB, kemudian tahun 1999 melanjutkan S3 di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Tak puas sampai di situ, ia terus ingin memperdalam ilmu merancang chip, dengan mengambil post-doctoral di JSPS Research Fellow at Tokyo Institute of Technology dan Twentee University, Belanda.

Obsesi Trio tak lain ingin mengembangkan industri chip di Indonesia. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya kini ia niatkan untuk turut menciptakan talenta-talenta ulung di bidang tersebut. Kini, ia bergiat merintis pengembangan teknologi Wimax dan TV digital bersama perusahaan Xirca. Simak obrolan Kampus dengan lelaki kelahiran 24 Agustus 1970 ini tentang perjalanan panjangnya dalam proses tersebut.

Prestasi-prestasi mahasiswa itu mulanya dari mata kuliah perancangan “chip”. Sebenarnya seperti apa metode pendidikan yang diterapkan?

Jadi, ada beberapa hal. Pertama, ekosistem. Di sini saya menyusun lab yang mengarah pendidikan, penelitian, juga industri. Saya menerapkan sistem residen di lab sejak tahun 2005. Jadi, mahasiswa terutama yang tingkat akhir, bisa residen untuk kerja, bikin tugas, atau apapun di sini setiap hari. Dengan begitu, mahasiswa juga jadi mudah ketemu dosennya, bukan hanya konsultasi seminggu sekali. Karena saya percaya, kemampuan perancangan chip desain tidak bisa hanya diajar di kelas, tapi juga meresap dalam lingkungannya.

Kedua, saya juga mengembangkan tutorial-tutorial. Ketiga, fasilitas di sini juga terpenuhi. Terpenuhi dalam artian kita memiliki perangkat seperti di kampus-kampus terkenal seperti Jepang atau Amerika. Misalnya, software-software perancangan chip. Itu bisa ada juga dengan usaha. Kita mendapatkan itu dengan apply ke perusahaan-perusahaan, dengan track record yang kita miliki. Prototipe di lab juga diperoleh melalui usaha, baik itu dari penelitian, dsb. Di kampus-kampus di Indonesia sekarang ini, ilmu perancangan chip kurang berkembang, karena biayanya memang tinggi, tapi itu harus terus dirintis. Saya juga meng-encourage mahasiswa untuk berkarya. Bahkan mereka, saya kasih uang juga. Mereka di sini menjadi research assistant untuk terlibat mengerjakan penelitian-penelitian saya. Mereka mendapat gaji, beasiswa, dapat makan siang, dapat peminjaman laptop, dsb.

Seperti apa industri “chip” yang ada sekarang ini di dunia dan bagaimana posisi Indonesia?

Kalau kita bicara industri negara maju, negara maju itu sebagian besar hidupnya dari industri IT. Industri IT yang paling dominan ialah perangkat elektronika, seperti alat komunikasi, komputer, dsb. Elektronika sendiri industri hulunya ialah chip atau IC (Integrated Circuit). Ia adalah otak dari perangkat elektronika. Jadi, ia merupakan hulu daripada industri IT. Jadi, negara maju bertumpu sekali oleh industri ini.

Chip termasuk teknologi tinggi, karena memang kompleksitasnya tinggi. Bayangkan, satu IC bisa berisi 5 juta transistor yang harus dikoordinasikan untuk bekerja. Ukuran transistor juga semakin kecil hingga 130 nano. Ukuran rambut kita saja sekitar sekian mikro, sedangkan satu nano itu sekitar seperseribu rambut atau mikro. Jadi, untuk membuatnya memang kompleks sekali. Itulah yang menyebabkan teknologi ini kompleks, mahal, dan hanya dikuasai negara maju. Sekarang Amerika, Jepang, Korea, Taiwan, banyak berbicara di sini.

Sedangkan Indonesia sama sekali tidak terdengar kiprahnya. Makanya, ketika di lomba menang, banyak orang surprise.

Tantangan apa saja yang dihadapi dalam pengembangannya?

Saya mengalami sejumlah perjalanan dalam mengembangkan industri chip di Indonesia. Saya sempat hampir setahun bolak-balik Jepang dan Indonesia setiap sebulan sekali. Sebulan mengajar di Indonesia, sebulan bekerja di Jepang. Itu dengan tujuan, ingin tahu proses industri chip seperti apa, dan budaya kerjanya seperti apa. Hampir setahun saya bolak-balik, dan berbisnis selama satu setengah tahun-an di Jepang. Saya bersama tim mengerjakan projek perusahaan besar di sana. Istilahnya, saya berusaha mencuri teknologi itu, mengambilnya untuk dibagikan lagi di sini.

Pada tiga tahun pertama, banyak orang pesimis ketika saya ingin mengembangkan industri chip. Banyak orang bilang, lupakanlah. Tapi Allhamdulillah sekarang sudah mulai ada kepercayaan ke arah sana. Yang penting kita harus optimis. Bayangkan, waktu itu sedang masa krisis, sedangkan kita bicara jualan teknologi tinggi, siapa yang mau percaya? Prinsip saya, kalau bicara melalui mulut, orang bisa meng-counter. Tapi kalau bicara melalui prestasi, itu lebih representatif. Di Indonesia, biaya untuk meyakinkan orang sangat tinggi. Misalnya, biaya untuk meyakinkan projek kadang bisa setahun, berkali-kali presentasi, dsb. Tapi saya tidak melewati proses itu. Saya lebih memilih selama setahun, mengerjakan banyak contoh-contoh chip. Saya sempat diliput juga oleh stasiun TV di Jepang sebagai salah satu orang Indonesia dalam industri chip, dari situ orang mulai memperhatikan. Itu lebih memiliki arti di Indonesia.

Ternyata memang harus seperti itu. Kalau dulu, caranya lain. Kita sempat dapat dana, lalu dana itu untuk beasiswa orang, pembelian alat. Karena orangnya disekolahkan, di lab itu tidak ada yang meng-handle, pas orang-orangnya balik, maintenance-nya juga jadi mahal.

Dalam menjalin kerjasama dengan pihak asing, ada prinsip tertentu?

Prinsip saya, kita jangan hanya dijadikan pasar. Jangan hanya jadi tempat jualan saja. Kita harus diberi peran untuk berkontribusi teknologi. Perusahaan asing di Indonesia ada banyak, tapi kebanyakan jualan. Kalau pun ada engineer, jatuhnya jadi sales engineer, makanya kita tidak mau begitu.

Seberapa banyak lapangan pekerjaan di bidang ini?

Keadaan sekarang ini kasihan sekali, lulusan elektro sangat sedikit yang bisa bekerja di bidangnya. Kalau pun di bidangnya, ilmu yang terpakai sedikit. Karena bidang pekerjaan teknologi seperti di bidang industri komponen atau perangkat elektronika, itu belum ada di Indonesia. Mungkin kita pernah lebih maju waktu dulu tahun 1980-an. Kita sempat punya pembuatan chip di sini. Waktu itu ada yang mau invest, tapi kebijakan Indonesia saat itu tidak memprioritaskan industri hi-tech, tapi lebih pada industri padat karya. Untuk pengembangan industri ini, memang perlu kerjasama antara industri, akademisi, dan entrepreneur yang berani berinvestasi di bidang ini. Karena hi-tech untuk berkembang biasanya butuh 2 tahun, tapi banyak investasi inginnya balik cepat. Entrepreneur jarang yang berpikir untuk investasi teknologi. Padahal, aset terbesar ialah otak para engineer sebagai bagian dari bisnis kreatif.

Dukungan apa saja yang diperlukan?

Pertama, kita perlu funding untuk melakukan projek itu sendiri. Karena butuh biaya besar untuk menjalankan bisnis ini. Karena bisnisnya ialah mass production, sehingga butuh investasi besar. Kedua, kita perlu keberpihakan pemerintah kepada produk lokal, sehingga kita bisa masuk ke situ. Ketiga, kita perlu SDM yang qualified, dan yang mau bekerjakeras di bidang elektronika. Banyak pekerjaan yang tantangannya tidak terlalu besar, tapi jaminan kesejahteraannya jauh lebih tinggi, seperti di industri seluler.

Target yang difokuskan ke depan?

Saya ingin industri chip berkembang di Indonesia. Kampus dalam hal ini Lab IC Design ITB juga bisa berperan banyak. Coba lihat perusahaan seperti HP, Google, Microsoft, itu teknologi asalnya juga berkembang di kampus kan, lalu ada industri yang memasarkannya. Saya pribadi sekarang ini sedang fokus untuk wimax dan digital TV. Tahun 2015, tivi di Indonesia harus digital. Dari tahun sekarang. Wimax, jadi itu teknologi broadband, sehingga kecepatan internet bisa lebih cepat 5-7 kali lipat dari sekarang. Ke depan, ingin juga program PC murah. Contoh sukses bidang saya ialah silicon valley yang termaju di dunia. Kita juga mau bikin seperti itu namanya Bandung High Tech Valley (BHTV). Tapi sekarang wacana itu belum terlalu berkembang. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

3 thoughts on “Obsesi Mengembangkan Industri “Chip” Indonesia

  1. Ini menjadi pemacu semangat kita bahwa Indonesia bisa menjadi negara dg teknologi tinggi. Sy juga menjadi tergugah n termotivasi mnjadi bagian dari perjalanan mewujudkan mimpi tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s