BBM Naik, Derita Rakyat Bertambah

Beberapa minggu yang lalu -bahkan mungkin sampai saat ini- negeri kita marak dengan adanya demonstrasi menentang kenaikan BBM. Tiap hari pasti ada berita tentang unjuk rasa tersebut baik itu lewat koran maupun televisi. Sebagian besar berakhir dengan anarkis, meski beberapa berlangsung dengan damai. Saya sendiri berpendapat bahwa hal itu wajar dan tidak masalah selama unjuk rasa itu bisa berlangsung damai. Namun, sangat disayangkan bila berujung dengan kekerasan dan kerusuhan karena hanya akan menambah masalah baru.

Saya sendiri tidak setuju dengan keputusan pemerintah dalam menaikkan harga BBM. Terlepas dari berbagai alasan yang diungkapkan pihak yang mendukung dan menolak kenaikan tersebut. Karena memang saya kurang mengerti tentang perekonomian nasional. Saya hanya mengerti benar dampak yang terjadi bagi masyarakat. Ketika BBM belum naik saja, banyak orang miskin yang tidak bisa membeli beras untuk makan. Apalagi sekarang, bagaimana nasib mereka? Saya merasakan benar apa yang mereka rasakan karena saya juga berasal dari keluarga miskin. Untuk makan sehari-hari masih sering hutang ke sana-sini. Saya yakin masih sangat banyak keluarga yang jauh lebih miskin. Saya tidak bisa membayangkan nasib mereka. Sekarang, saya hanya bisa berdoa, belajar, dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar bisa mengurangi beban keluarga. Saya juga berharap suatu saat nanti di jajaran pemerintahan adalah orang-orang yang pro-rakyat, tahu kondisi rakyat, dan dekat dengan rakyat.

Pada zaman Rasulullah, ketika terjadi musim kelaparan maka beliaulah yang pertama merasakan sebelum rakyatnya. Ketika sedang berada pada musim kemakmuran, maka rakyatlah yang pertama merasakannya sebelum beliau.

Alangkah indahnya kalau negeri ini bisa seperti pada zaman Rasulullah. Ketika negara miskin (menderita), maka pemimpin dan rakyatnya merasakan bersama. Ketika negara sedang makmur, maka pemimpin dan rakyatnya juga merasakan bersama. Namun, fenomena yang saya lihat di negara ini, ketika rakyat kesusahan mencari sesuap nasi, malah banyak pejabat yang bingung menghabiskan uangnya. Kalau begini, siapa yang harus disalahkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s