Posts Tagged ‘Etos Bandung’

Cerita 3 Asrama

October 28, 2010

Asrama bagiku bukan hanya sekedar deretan enam huruf yang membentuk suatu kata. Bukan juga sebatas tempat beristirahat di saat lelah beraktivitas di luar. Apalagi cuma sebagai tempat menaruh pakaian kotor dan buku-buku pelajaran. Bagiku ia adalah tempat membina diri. Ia adalah simbol kepatuhan diri terhadap peraturan di dalamnya. Ia adalah kebersamaan dan kekeluargaan. Dan ia adalah pilihan hidup dan kehidupan itu sendiri.

Ada 3 asrama yang sedikit banyak telah mewarnai jalan hidupku. Masing-masing asrama tersebut mempunyai keunikan dan memberikan kesan khusus bagiku. Berikut ini ada secuil cerita 3 asrama yang pernah kutinggali.

Asrama Darul Yatama (2003-2006)

Cerita berawal pada suatu malam, ketika tiba-tiba paman mampir ke rumahku dan menceritakan apa yang dia dengar dari kepala SMK tadi siang saat pengambilan raport anaknya. Dia menyampaikan informasi sekolah gratis di SMK tersebut dengan syarat harus mau diasramakan. Ketika mendengar informasi tersebut, ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul di hati ini. Alhamdulillah, ada kesempatan sekolah lagi. Meskipun sebenarnya juga diiringi sedikit rasa kecewa, karena SMA-lah sebenarnya pilihan utamaku. Namun, daripada tidak sekolah sama sekali, aku pun mengiyakan untuk mengambil jalan itu.

Memang, sebelumnya tidak ada gambaran sama sekali untuk bisa meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Yang ada hanyalah keinginan yang kuat terpendam, yang sering kusampaikan di dalam doaku. Ketika teman SMP bertanya kepadaku mau kemana setelah lulus, aku hanya bisa menjawab dengan senyum getir. Setelah lulus SMP, aku mulai membantu meringankan beban Ibu dengan ikut ke sawah, menjadi buruh tani bagi tuan tanah di desaku. Bahkan, untuk bisa mengambil ijazah SMP, aku harus berhutang ke teman, dan baru bisa membayarnya setelah mendapat bayaran bekerja di sawah. Namun, semua itu perlahan berubah. Informasi sekolah gratis tadi menumbuhkan kembali semangatku menuntut ilmu.

Singkat cerita, aku diterima di SMK tersebut dan juga asramanya. Uniknya aku tidak melalui proses seleksi seperti siswa pada umumnya. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Namun, kalau boleh menebak, sepertinya karena aku lulusan SMP negeri unggulan dengan nilai yang cukup memuaskan. Bagi SMK tersebut, mungkin aku bisa dijadikan aset untuk meningkatkan nilai jual di mata orang tua siswa lulusan SMP nantinya. Akhirnya, aku pun masuk ke asrama tersebut pada Juli 2003.

Seminggu kemudian, jalan hidupku berubah. Seorang teman yang pada waktu itu kuliah di UGM, mengajakku pindah ke SMA unggulan di kotaku. Meskipun awalnya sempat ada resistensi dari keluarga, guru SMK, dan tetangga, akhirnya dengan susah payah aku bisa menjadi siswa SMA tersebut. SMA yang menjadi impian banyak orang tua. Aku tidak menyangka jalannya akan seperti ini, bahkan harus menjadi pendaftar terakhir, yakni 5 menit sebelum penutupan, dan terpaksa harus mendepak peringkat terbawah SMA tersebut.

Meskipun akhirnya aku pindah ke SMA, kepala SMK yang sekaligus kepala asrama masih mengijinkan aku untuk tinggal di sana. Bahkan mereka juga membantu pembayaran seragam dan uang pembangunan SMA. Aku pun menjadi satu-satunya penghuni asrama yang berasal dari SMA, sisanya berasal dari SMK. Darul Yatama atau Rumah Yatim ternyata baru berdiri setahun yang lalu. Aku pun termasuk golongan awal yang masuk asrama. Kita semua tinggal ber-10, dengan komposisi 7 orang tahun lalu, dan 3 orang tahun ini. Sesuai dengan namanya, asrama ini dihuni oleh orang yatim, piatu, atau yatim piatu.

Aktivitas asrama dimulai pukul 03.30 pagi. Kita semua harus bangun. Jika mendapat tugas piket memasak, maka kita diharuskan memasak air dan nasi terlebih dahulu. Sambil menunggu matang, kita tinggal sholat shubuh. Selepat sholat shubuh, tilawah Al-Quran sebentar lalu beranjak kembali ke dapur. Karena bahan bakarnya masih memakai kayu, terkadang kita tidak sadar kalau ternyata kayunya mati atau habis. Untuk itu, harus sering-sering melihat kondisi apinya.

Setelah nasi dan air beres, sekarang giliran memasak sayur. Karena kita semua adalah laki-laki yang notabene kurang pandai memasak, maka jangan kaget kalau hasil masakannya biasa-biasa saja. Sayur yang sering kita masak tidak jauh-jauh kangkung, sawi, kulit belinjo, tempe, buncis. Karena perbedaan selera, maka setiap kali ada masakan pedas, ada saja yang protes. Begitu juga jika ada yang kurang pedas, ada saja yang protes. Akhirnya keputusan diserahkan kepada yang memasak. “Kalau mau pedas, sana masak sendiri”, seloroh pendukung masakan non-pedas kepada pengagum masakan pedas. Tiap minggu, kita dijatah sekitar Rp 20.000, 00 untuk beli sayur. Beras selalu tersedia, sumbangan dari perorangan atau institusi.

Jika sudah jam 05.30, kita bakal pergi ke SMK yang jaraknya sekitar 150 m. Bisa naik sepeda atau jalan kaki. Kita kesana untuk mandi. Asrama yang kita tempati merupakan rumah tua yang dipinjamkan sementara oleh seseorang. Ruang tengah ditopang oleh 4 tiang khas rumah jawa kuno. Kamar mandinya sudah tidak berfungsi. Hanya ada kran air di sana. Kamar tidurnya juga sudah tidak berfungsi lagi, malah digunakan sebagai tempat menggantung pakaian. Kita tidur berserakan di atas lantai ruang tamu yang hanya beralaskan karpet tipis berwarna hijau. Tanpa bantal dan kasur. Jika melihat kita tidur, mungkin akan terbayang seperti deretan ikan-ikan yang sedang dijemur atau dijajakan di pasar. Bagian dapur masih berlantaikan tanah. Di bagian samping rumah, ada tumpukan kayu sebagai bahan bakar. Jika habis, biasanya malam hari kita bergerilya mencari kayu di kompleks SMK. Kebetulan ada pembangunan beberapa ruang baru SMK, jadi banyak potongan kayu yang tersisa. Dengan gerobak dorong, kita pun pulang membawa setumpuk kayu, yang sebagian besar berjenis bambu.

Semua masakan baru beres biasanya sekitar jam 06.00 atau 06.30. Hal ini dikarenakan Cuma ada 1 tungku dan harus bergantian untuk masak air, masak nasi, dan sayur. Bahan bakarnya yang berupa kayu, juga terkadang menjadi masalah. Mati di tengah atau apinya yang tidak stabil. Bagi teman-temanku, hal ini tidak menjadi masalah karena mereka biasanya berangkat ke sekolah jam 06.50. Santai, tidak perlu terburu-buru ke sekolah. Disamping karena kultur anak-anak SMK, juga karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Cukup jalan kaki 5-10 menit sampai. Malah akan terlihat aneh kalau mereka datang terlalu pagi. Mereka akan bangga jika datangnya belakangan. Biasanya nongkrong dulu di depan gerbang SMK sambil melihat jalan siapa tahu ada siswi SMA yang lewat. Tidak bagiku. SMA terletak cukup jauh. Harus ditempuh dengan sepeda atau angkot. Oleh karena itu, biasanya aku berangkat jam 06.30. Jika tidak hujan, aku selalu naik sepeda. Jika hujan, terpaksa naik angkot. Terkadang tidak sempat sarapan. Kalau seperti ini, aku pun paksakan memakan segenggam nasi panas sebelum pergi. Lumayan sebagai pengganjal perut.

Pulang dari sekolah rata-rata jam 14.30. Sesampainya di asrama, biasanya istirahat tidur siang, dengerin radio, atau baca-baca buku. Jam 16.00, sholat ashar di masjid dan dilanjutkan dengan tilawah. Bagi yang piket, sekali lagi mereka harus memasak. Alurnya seperti pagi hari. Masak air, nasi, dan sayur. Semua masakan beres biasanya pas maghrib. Kita akan makan bareng setelah sholat maghrib dan tilawah. Di asrama ini ada hukum siapa cepat dia dapat. Jadi biasanya kita berlomba-lomba duluan makan. Jika berlama-lama bisa jadi tidak kebagian atau kebagian sedikit. Memang ada pesan untuk ingat saudara, namun ketika perut sudah menuntut, semua itu seakan menguap begitu saja. Dilarang nambah! Hukumnya haram. Kecuali jika semua sudah kebagian. Itu pun jika masih tersisa, biasanya belum sempat nambah sudah habis duluan.

Setelah makan dan sebelum ‘isya kita bergegas ke rumah kepala asrama. Disana kita tilawah, tahfidz, dan belajar beberapa kitab, di antaranya Sulam Safinah, Sulam Taufik, Jurumiyah, Ta’limul Muta’alim, Duror An-Najah, dan lain-lain. Selain itu, kita juga sempat belajar nahwu dan shorof. Kita diharuskan hafal beberapa bagian dalam kitab itu. Untuk mempermudah hafalan, digunakan metode syi’ir (lagu). Di awal pelajaran, kita harus menyanyikannya. Kita pun sering dites di akhir. Yang gagal, kebagian hukuman harus memijat kepala asrama. Yang berhasil hanya mendapat pujian dan dielu-elukan di depan yang lainnya.

Kegiatan tersebut selesai sekitar pukul 21.00. Setelah itu kita kembali ke asrama dan waktu menjadi milik kita. Mau belajar, dengerin radio, atau tidur itu menjadi hak kita. Sebagian dari kita ada yang mendengarkan radio sambil tiduran, ada yang benar-benar tidur, yang lain terlihat berbincang-bincang, ada yang belajar Qiroatul Quran. Aku sendiri biasanya membaca buku atau mengerjakan PR barang sejam. Teman-teman yang berasal dari SMK sangat jarang terlihat belajar. Mereka akan rajin belajar jika sudah masuk minggu UAS. Maklum, di SMK tersebut teori tidak terlalu diperdalam, lebih banyak ke praktik. Makanya, tidak jarang mereka nyeloteh kepadaku “Belajar terus nih, sekali-kali main kenapa?”. Padahal aku sendiri jarang belajar, kalaupun belajar paling 1 jam. Namun, di mata mereka yang berlatar belakang SMK, itu dianggap sering.

Hiburan satu-satunya adalah radio. Tidak ada televisi, tidak ada komputer. Sempat ada komputer, namun akhirnya diambil oleh pembina asrama. Jika mau bermain komputer, kita harus sekali lagi ke SMK, masuk ke lab komputernya. Oleh karena itu, terkadang kita mencoba menghibur diri dengan ngobrol kesana kemari. Biasanya yang mereka bicarakan adalah soal perempuan. Maklum di SMK, jumlah siswa perempuan bisa dihitung dengan jari, bisa 1:100. Tidak mengherankan kalau mereka sangat senang berpapasan dengan tetangga remaja putri saat dalam perjalanan mengaji selepas maghrib. Dengan baju koko, peci, sarung dan kitab di tangan, rasanya kita pede bertemu dengan  mereka. Sekali lagi, aku berbeda dengan mereka. Aku bersekolah di SMA, yang seimbang antara putra dan putri. Mungkin juga waktu itu aku belum puber, jadi tidak ada perasaan apa-apa ketika berpapasan dengan mereka. Biasa saja.

Teman-teman asramaku sering bercerita kalau mereka juga ingin sekolah di SMA. Katanya siswinya cantik-cantik. Mereka juga minta aku mengenalkannya pada mereka. Aku pun hanya tersenyum kecut, sambil menyahut “Aku saja ga berani ngenalin diri sendiri, masa mau ngenalin kalian”. :D

Bersambung….

Asrama Perhimak (2006-2007)

Asrama Etos (2007-sekarang)

Belajar Dari Anak SMA

May 8, 2010

Rahmat dan Yowan, begitu mereka biasa disapa teman-temannya. Sekilas tidak ada yang istimewa dalam diri mereka, layaknya siswa SMA sepeti biasa. Dengan senyum yang tulus dan lugu, mereka menyambutku di ruang tamu asramaku sendiri. Ya, mereka memang sudah menungguku kurang lebih setengah jam yang lalu. Ada kesalahpahaman tentang jadwal pertemuan yang sejatinya baru berlangsung seminggu kemudian. Aku sendiri juga merasa kaget ketika diberitahu bahwa mereka sudah tiba di asrama, di saat yang sama aku sedang ada acara temu koordinasi dengan manajemen tempatku bekerja. “Persilakan saja mereka istirahat dulu, saya segera menyusul“, begitulah bunyi pesan singkat yang aku kirimkan ke salah seorang penghuni asrama.

Sekilas melihat mereka, memori dalam otakku langsung membawaku ke dalam kenangan tahun-tahun sebelumnya. Ada sebuah pemandangan yang seakan sama setiap tahun, hanya berbeda subjek orangnya. Memang, hal ini selalu terjadi setiap tahun di asrama ini, saat proses seleksi penerimaan anggota baru asrama dilakukan. Aku juga teringat saat aku pertama kali menginjakkan kaki di asrama ini, yang tidak terasa 4 tahun sudah berlalu, dan mungkin tinggal menyisakan 1 tahun lagi (bahkan bisa kurang).

Aku melihat ada rasa penuh harap dari mereka, yang jauh-jauh datang dari singaparna ke bandung demi mengejar cita-citanya. Aku bisa membayangkan apa yang ada di dalam benak mereka, karena memang aku juga pernah merasakannya 4 tahun yang lalu. Sebuah harapan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah tertata rapi. Sebuah harapan yang dibelakang itu semua ada orang-orang yang dicintai: keluarga, saudara, tetangga, dan teman seperjuangan. Semua itu terekam jelas dari kesabaran mereka menunggu jadwal tes yang sedianya dimulai pukul 11.00 waktu setempat. 45 menit berlalu menandakan waktu tes tertulis sudah habis, kemudian disusul kumandang adzan beberapa menit kemudian mengajak pada hamba menjumpai Rabb-Nya.

Pukul 13.00 dimulailah proses wawancara terhadap dua orang siswa SMA N 1 Singaparna ini. Aku masih belum melihat sesuatu yang berbeda dalam diri mereka. Rahmat, mendapat giliran pertama wawancara. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulutku, sampai akhirnya aku sempat terdiam saat dia berbicara “Meskipun aku secara fisik cacat, tapi aku tetap ingin kuliah“. Aku mengingat kembali beberapa jam sebelumnya saat aku berjabat tangan dengannya. Dan memang terlihat ada yang aneh dengan cara berjabat tangannya, tapi aku tidak sampai terpikir bahwa dia mempunyai kekurangan fisik seperti itu. Sejak saat itu, aku mulai merasa kagum atas motivasinya yang sangat tinggi untuk terus menuntut ilmu dan aku mulai merasa malu atas kemalasanku dalam menuntut ilmu meskipun aku dikaruniai kesehatan fisik. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dan dia menjawab dengan tenang. Dia ingin menjadi seorang penerjemah buku berbahasa inggris dan seorang qari Al-Quran. Dia menunjukkan langkah-langkah apa saja yang sudah dia persiapkan untuk mewujudkannya. Dia sering membaca buku bahasa inggris, ikut lomba debat, speech contest, dan kegiatan lain yang mendukung mimpinya. Sesekali aku mengetesnya dengan pertanyaan berbahasa inggris dan jawabannya sungguh bagus bagi ukuran anak SMA (waktu aku seumuran dia, aku tidak bisa berbicara sebagus dia). Dia juga mondok di pesantren dan melatih qira’ah Al-Quran. Akupun penasaran untuk mendengarkan seperti apa bacaan Al-Quran-nya. Dan hati ini pun bergetar saat lantuan ayat-ayat suci Al-Quran mengalun indah dari mulutnya (kembali aku membayangkan saat SMA, ketika ikut pelatihan qira’ah Al-Quran, yang akhirnya tidak bisa bertahan lama). Subhanallah, Allah memang Maha Adil, dengan keterbatasan fisik (menurut dia adalah terkena polio), dia dikaruniai azzam yang kuat dan suara yang indah. Dengan kesulitan berjalan (terpincang-pincang), dia begitu bersemangat berangkat dari kampungnya ke bandung untuk mengejar mimpinya. Dengan kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan, dia begitu optimis akan kasih sayang Allah yang akan membawanya mewujudkan mimpi-mimpinya. Aku hanya berujar dalam hati “Terima kasih ya Allah, yang telah mengenalkanku padanya, yang darinya aku bisa mengambil banyak hikmah“.

Berlanjut ke Yowan, sebagai siswa kedua. Satu hal yang sangat bisa kuambil pelajaran dari dia adalah ketekunannya dalam membaca dan menulis. Satu hal yang jarang kulakukan karena ada kalanya rasa malas menghinggapi diri yang lemah ini. Dia memang punya cita-cita menjadi seorang sastrawan dan penulis. WS Rendra dan Habiburrahman El-Shirazy menjadi dua tokoh idolanya. Bagi dia, menjadi apapun dia nanti, menulis tetap menjadi aktivitas yang tidak akan dia tinggalkan. Menulis menjadi panggilan nurani untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain, menjadi gerakan jiwa untuk bisa menginspirasi orang lain. Dan aku melihat dan merasakan sendiri bahwa budaya membaca dan menulis di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara lain seperti India, Jepang, dan Cina. Dengan semakin banyak yang menulis (ketika menulis seseorang pasti juga membaca), akan tercipta budaya produktif dalam diri ini. Menulis adalah sebuah proses pengkristalan pikiran/ide menjadi satu langkah nyata yang tersusun begitu rapi. Hal ini membutuhkan pembelajaran yang tidak singkat, perlu motivasi dan keseriusan yang tinggi. Menulis jauh lebih susah dibanding membaca dan berbicara karena pada hakikatnya ketika seseorang menulis sesuatu, dia harus membaca sebanyak mungkin materi tentang apa yang akan ditulisnya, dan berbicara secara tidak langsung kepada orang banyak secara runut dan jelas. Untuk itulah, aku sangat salut pada Yowan yang bisa mengalokasikan waktu setiap hari untuk menulis. Meskipun dengan kondisi keluarga yang kurang kondusif lantaran orang tuanya bercerai, dia bisa menata dirinya untuk terus mengejar apa yang dia yakini dari mimpi-mimpinya. Dan sekali lagi, Allah memberikan hikmah-Nya melalui arah yang tidak disangka-sangka.

Terakhir, hanya doa yang bisa terucap dariku untuk mereka, semoga Allah menunjukkan jalan menuju mimpi-mimpinya. Karena barang siapa bersungguh-sungguh, niscaya Allah benar-benar akan menunjukkan jalan-jalan-Nya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,057 other followers