Archive for the ‘Sosial’ Category

Pilwalkot Bandung Sudah Dekat

August 4, 2008

10 Agustus 2008 besok akan menjadi ajang pertarungan politik antara 3 calon walikota Bandung. Trendi, Dada-Ayi, dan Nahadi siap berjuang membawa Bandung ke arah yang lebih baik. Siapakah dari ketiganya yang dipercayai masyarakat? Kita lihat saja nanti hasilnya.

Ada beberapa hal yang menarik parhatian saya pada perhelatan pilwalkot Bandung ini. Pertama, saya ingin melihat kiprah calon independen. Apakah Nahadi mampu menarik simpati masyarakat dengan mendulang suara yang besar. Ataukah sebaliknya. Mengingat baru kali ini saya mengamati perkembangan politik di Indonesia. Kedua, saya ingin mengetahui tanggapan masyarakat Bandung terhadap kinerja kang Dada. Kalau memang masyarakat menganggap kang Dada sukses membawa kesejahteraan, pastilah mereka akan memilih kang Dada lagi. Namun, apabila nanti kang Dada gagal menang, saya berasumsi bahwa kinerja kang Dada tidak memuaskan masyarakat Bandung. Rakyat ingin sesuatu yang baru, ingin sebuah perubahan, yang dimulai dari pemimpinnya.

Terakhir, melihat kemenangan Hade (diusung PKS-PAN) pada pilgub kemarin, rasanya peluang Trendi memenangi pilwalkot kali ini cukup besar. Apalagi Bandung merupakan salah satu basis massa PKS. Ditambah lagi calon yang diusung masih muda dan memiliki semangat untuk sebuah perubahan. Beberepa hari ke depan, semua pertanyaan saya pasti akan terjawab. Siapakah sosok yang diharapkan oleh masyarakat untuk memimpin Bandung.

Meski bukan warga bandung asli, saya sangat dekat dengan Bandung dan warganya. Secara saya kuliah di sini dan insya Allah akan tetap tinggal di sini untuk waktu yang lama (ingin jadi dosen/peneliti di kampus saya, syukur2 dapat jodoh orang sini :P ). Pokoknya saya berharap bahwa Bandung nanti dipimpin oleh orang yang benar-benar tepat. Orang yang mampu memberi teladan kepada warganya. Orang yang dekat dengan rakyat kecil, bukan hanya dekat dengan orang2 kaya. Orang yang dekat dengan Sang Pencipta. Amiiin.

BBM Naik, Derita Rakyat Bertambah

June 14, 2008

Beberapa minggu yang lalu -bahkan mungkin sampai saat ini- negeri kita marak dengan adanya demonstrasi menentang kenaikan BBM. Tiap hari pasti ada berita tentang unjuk rasa tersebut baik itu lewat koran maupun televisi. Sebagian besar berakhir dengan anarkis, meski beberapa berlangsung dengan damai. Saya sendiri berpendapat bahwa hal itu wajar dan tidak masalah selama unjuk rasa itu bisa berlangsung damai. Namun, sangat disayangkan bila berujung dengan kekerasan dan kerusuhan karena hanya akan menambah masalah baru.

Saya sendiri tidak setuju dengan keputusan pemerintah dalam menaikkan harga BBM. Terlepas dari berbagai alasan yang diungkapkan pihak yang mendukung dan menolak kenaikan tersebut. Karena memang saya kurang mengerti tentang perekonomian nasional. Saya hanya mengerti benar dampak yang terjadi bagi masyarakat. Ketika BBM belum naik saja, banyak orang miskin yang tidak bisa membeli beras untuk makan. Apalagi sekarang, bagaimana nasib mereka? Saya merasakan benar apa yang mereka rasakan karena saya juga berasal dari keluarga miskin. Untuk makan sehari-hari masih sering hutang ke sana-sini. Saya yakin masih sangat banyak keluarga yang jauh lebih miskin. Saya tidak bisa membayangkan nasib mereka. Sekarang, saya hanya bisa berdoa, belajar, dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar bisa mengurangi beban keluarga. Saya juga berharap suatu saat nanti di jajaran pemerintahan adalah orang-orang yang pro-rakyat, tahu kondisi rakyat, dan dekat dengan rakyat.

Pada zaman Rasulullah, ketika terjadi musim kelaparan maka beliaulah yang pertama merasakan sebelum rakyatnya. Ketika sedang berada pada musim kemakmuran, maka rakyatlah yang pertama merasakannya sebelum beliau.

Alangkah indahnya kalau negeri ini bisa seperti pada zaman Rasulullah. Ketika negara miskin (menderita), maka pemimpin dan rakyatnya merasakan bersama. Ketika negara sedang makmur, maka pemimpin dan rakyatnya juga merasakan bersama. Namun, fenomena yang saya lihat di negara ini, ketika rakyat kesusahan mencari sesuap nasi, malah banyak pejabat yang bingung menghabiskan uangnya. Kalau begini, siapa yang harus disalahkan?