Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Abstract of My Practical Work Report

October 10, 2009

The main challenge in the semiconductor industry today is how to design a System on Chip (SOC) with the increasingly complex functionality, smaller size, higher speed, more affordable price, and shorter time to market. One of the most important aspects in the design flow to achieve the above challenges is the verification. Verification is a process of checking a chip design to determine if the design is in conformity with the desired specifications or not. Verification is a very crucial because it takes 70% – 80% consumption of time and cost of a chip production.

In the early part of this practical work report, presented the introduction of WiMAX technology and its comparison with the technology Broadband Wireless Access (BWA) others such as 3G systems and Wi-Fi. WiMAX technology which consists of fixed and mobile WiMAX offers higher peak data rates, greater flexibility, and  higher average throughput dan system capacity. Furthermore, mobile WiMAX technology offers the additional functionality of portability, nomadicity, and mobility.

The main focus of this practical work report is methodology and tools used for verification of mobile WiMAX chips in PT. Versatile Silicon Technologies. Fields discussed only in the areas surrounding the work done during the last practical work, such as, the testbench, simulation, code coverage, assertion, Lint checking, RTL synthesis, and formal verification. The purpose of all this is to ensure that the designs are made in accordance with the desired specifications. Tool that is used to verify the ModelSim from Mentor Graphics Corp. and Synopsys (VCS, Design Compiler, Formality, Leda Checker).

Secure Shell (ssh) Configuration Setting

September 1, 2009

Secure Shell (ssh) adalah protokol jaringan yang memungkinkan pertukaran data antara dua devais yang terkoneksi oleh jaringan. ssh ini umumnya digunakan pada sistem yang berbasis linux atau unix. Pertama kali sy berkenalan dengan ssh adalah ketika melakukan kerja praktek, kurang lebih 2 bulan yang lalu. Waktu itu sy sama sekali tidak mengerti apa itu ssh, yang sy tahu ssh digunakan untuk me-remote komputer lain dari komputer kita atau sebaliknya. Sintaks penggunaannya melalui console-pun sy hanya mengikuti apa yang diberikan supervisor. Belakangan sy mendapat masalah ketika baru melakukan instalasi opensuse 10.3 dan hendak me-remote server, ternyata muncul pesan “port 22: No route to host”. Terpaksa akhirnya mencari-cari solusi dengan segala cara. Dan diantara segala cara itu, ada 2 yang sering sy pakai:

  1. Tanya ke temen atau senior yg ahli di bidang linux dan jaringan. Opsi ini dipilih karena hemat pikiran, cepat, murah, meriah, pokoke mantep. Namun, ada kelemahannya juga. Opsi ini tidak menjamin karena blum tentu temen atau senior kita juga tahu.
  2. Tanya ke Prof. Google. Klo yang ini dijamin pasti ketemu. Kelemahannya adalah waktunya yang kadang bisa lama, tergantung seberapa ulet dan rajin kita mencari dan pemilihan kata yang tepat pada proses pencarian. Karena di google terlalu lengkap, kadang kita merasa bingung mana sumber yang dapat dipercaya dan secara cepat mengatasi masalah. Klo sudah sampai ke masalah ini, cobalah (pake insting) solusi yang menurut kita terbaik.

Setelah memakai cara pertama mentok, akhirnya dipakai juga cara kedua. Harus berkali-kali buka page baru untuk mendapatkan solusinya. Dan Alhamdullillah akhirnya ketemu juga solusinya. Berikut ini adalah solusi dari permasalahan yang sy hadapi:

  1. Edit konfigurasi file sshd_config, jika memang konfigurasinya belum mengijinkan sistem untuk melakukan proses remote. File tersebut ada di /etc/ssh/sshd_config. Konfigurasi yang sy pake ada di bagian paling bawah.
  2. Setelah konfigurasinya diganti (kadang hanya perlu di-uncomment), komputer di-restart agar settingannya dapat berefek pada sistem.
  3. Jika ssh-nya masih belum jalan (sama seperti yang sy alami), cobalah untuk mengecek koneksinya jaringan internetnya dengan command “ifconfig” (masuk ke root dulu). Jika terlihat ada 2 atau lebih koneksi jaringan misalnya wireless dan wired, maka matikanlah salah satunya dengan command “ifconfig eth0 down”.
          Port 22
          ListenAddress 0.0.0.0
          HostKey /etc/ssh/ssh_host_key
          LoginGraceTime 2m
          MaxAuthTries 3
          KeyRegenerationInterval 3600
          PermitRootLogin no
          IgnoreRhosts yes
          IgnoreUserKnownHosts yes
          StrictModes yes
          X11Forwarding no
          PrintMotd yes
          SyslogFacility AUTH
          LogLevel INFO
          RhostsAuthentication no
          RhostsRSAAuthentication no
          RSAAuthentication yes
          PasswordAuthentication yes
          PermitEmptyPasswords no
          AllowUsers admin

Obsesi Mengembangkan Industri “Chip” Indonesia

July 30, 2009

Ketika sy sedang googling, eh tidak sengaja terdampar pada satu berita yang sangat menggugah hati. Ya, berita yg juga merupakan salah satu impian sy: menjadikan Indonesia maju dalam bidang teknologi. Berikut ini sy kutip dari harian Pikiran Rakyat.

BELUM lama ini, dua tim mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB meraih dua gelar dalam Large Scale Integrated Circuit (LSI) 2009 (kompetisi tahunan tingkat universitas dalam bidang perancangan chip) ke-12 yang berlangsung di Okinawa, Jepang. Tim Ganesha ANT yang membuat perancangan prosesor dengan paralel system meraih penghargaan tertinggi yakni SIS Award, sedangkan Tim Zoiros yang membuat rancangan prosesor dengan kecepatan 1 G mendapatkan gelar ketiga yakni Xilinx Award.

Keberhasilan tim Ganesa ANT dan tim Zoiros itu mengikuti jejak tim ITB sebelumnya yang juga pernah berprestasi dalam kompetisi tersebut. Tahun 2006, tim Arjuna mendapat penghargaan The Best Feature Award. Tahun 2007, tim VR4 meraih runner up juara umum dan The Spesial Feature Award. Tahun 2008, tim Garuda Parahyangan meraih juara umum dan penghargaan IECE Smart Informedia System Award, dan tim Crew meraih juara kedua mendapatkan penghargaan Semiconductor Industry Newspaper Award.

Deretan prestasi tersebut tentunya membanggakan sebab muda-mudi Indonesia itu sukses menyisihkan tim-tim unggul dari negara lainnya di Asia. Dalam konteks Indonesia yang sepi kiprahnya dalam industri chip, prestasi itu mencuatkan fakta menarik. “SDM Indonesia dalam perancangan chip sangat potensial,” kata Trio Adiono, staf pengajar STEI ITB, kepada Kampus.

Adalah Trio Adiono, orang yang ada di belakang kesuksesan tim-tim tersebut. Para mahasiswa itu sebelumnya ditempa selama 6 bulan melalui mata kuliah perancangan chip. Trio juga memberikan bimbingan penuh pada mahasiswa dalam Laboratorium IC (Integrated Circuit) Design ITB yang diketuai olehnya.

Trio ialah salah seorang desainer chip andal yang keberadaannya terbilang masih langka di Indonesia. Ketertarikan dan keahliannya sudah muncul sejak di bangku kuliah S1 teknik elektro ITB. Ketika itu, ia sudah aktif di laboratorium dan mulai merancang chip. Lulus S1 tahun 1994, ia mengambil S2 teknik elektro ITB, kemudian tahun 1999 melanjutkan S3 di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Tak puas sampai di situ, ia terus ingin memperdalam ilmu merancang chip, dengan mengambil post-doctoral di JSPS Research Fellow at Tokyo Institute of Technology dan Twentee University, Belanda.

Obsesi Trio tak lain ingin mengembangkan industri chip di Indonesia. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya kini ia niatkan untuk turut menciptakan talenta-talenta ulung di bidang tersebut. Kini, ia bergiat merintis pengembangan teknologi Wimax dan TV digital bersama perusahaan Xirca. Simak obrolan Kampus dengan lelaki kelahiran 24 Agustus 1970 ini tentang perjalanan panjangnya dalam proses tersebut.

Prestasi-prestasi mahasiswa itu mulanya dari mata kuliah perancangan “chip”. Sebenarnya seperti apa metode pendidikan yang diterapkan?

Jadi, ada beberapa hal. Pertama, ekosistem. Di sini saya menyusun lab yang mengarah pendidikan, penelitian, juga industri. Saya menerapkan sistem residen di lab sejak tahun 2005. Jadi, mahasiswa terutama yang tingkat akhir, bisa residen untuk kerja, bikin tugas, atau apapun di sini setiap hari. Dengan begitu, mahasiswa juga jadi mudah ketemu dosennya, bukan hanya konsultasi seminggu sekali. Karena saya percaya, kemampuan perancangan chip desain tidak bisa hanya diajar di kelas, tapi juga meresap dalam lingkungannya.

Kedua, saya juga mengembangkan tutorial-tutorial. Ketiga, fasilitas di sini juga terpenuhi. Terpenuhi dalam artian kita memiliki perangkat seperti di kampus-kampus terkenal seperti Jepang atau Amerika. Misalnya, software-software perancangan chip. Itu bisa ada juga dengan usaha. Kita mendapatkan itu dengan apply ke perusahaan-perusahaan, dengan track record yang kita miliki. Prototipe di lab juga diperoleh melalui usaha, baik itu dari penelitian, dsb. Di kampus-kampus di Indonesia sekarang ini, ilmu perancangan chip kurang berkembang, karena biayanya memang tinggi, tapi itu harus terus dirintis. Saya juga meng-encourage mahasiswa untuk berkarya. Bahkan mereka, saya kasih uang juga. Mereka di sini menjadi research assistant untuk terlibat mengerjakan penelitian-penelitian saya. Mereka mendapat gaji, beasiswa, dapat makan siang, dapat peminjaman laptop, dsb.

Seperti apa industri “chip” yang ada sekarang ini di dunia dan bagaimana posisi Indonesia?

Kalau kita bicara industri negara maju, negara maju itu sebagian besar hidupnya dari industri IT. Industri IT yang paling dominan ialah perangkat elektronika, seperti alat komunikasi, komputer, dsb. Elektronika sendiri industri hulunya ialah chip atau IC (Integrated Circuit). Ia adalah otak dari perangkat elektronika. Jadi, ia merupakan hulu daripada industri IT. Jadi, negara maju bertumpu sekali oleh industri ini.

Chip termasuk teknologi tinggi, karena memang kompleksitasnya tinggi. Bayangkan, satu IC bisa berisi 5 juta transistor yang harus dikoordinasikan untuk bekerja. Ukuran transistor juga semakin kecil hingga 130 nano. Ukuran rambut kita saja sekitar sekian mikro, sedangkan satu nano itu sekitar seperseribu rambut atau mikro. Jadi, untuk membuatnya memang kompleks sekali. Itulah yang menyebabkan teknologi ini kompleks, mahal, dan hanya dikuasai negara maju. Sekarang Amerika, Jepang, Korea, Taiwan, banyak berbicara di sini.

Sedangkan Indonesia sama sekali tidak terdengar kiprahnya. Makanya, ketika di lomba menang, banyak orang surprise.

Tantangan apa saja yang dihadapi dalam pengembangannya?

Saya mengalami sejumlah perjalanan dalam mengembangkan industri chip di Indonesia. Saya sempat hampir setahun bolak-balik Jepang dan Indonesia setiap sebulan sekali. Sebulan mengajar di Indonesia, sebulan bekerja di Jepang. Itu dengan tujuan, ingin tahu proses industri chip seperti apa, dan budaya kerjanya seperti apa. Hampir setahun saya bolak-balik, dan berbisnis selama satu setengah tahun-an di Jepang. Saya bersama tim mengerjakan projek perusahaan besar di sana. Istilahnya, saya berusaha mencuri teknologi itu, mengambilnya untuk dibagikan lagi di sini.

Pada tiga tahun pertama, banyak orang pesimis ketika saya ingin mengembangkan industri chip. Banyak orang bilang, lupakanlah. Tapi Allhamdulillah sekarang sudah mulai ada kepercayaan ke arah sana. Yang penting kita harus optimis. Bayangkan, waktu itu sedang masa krisis, sedangkan kita bicara jualan teknologi tinggi, siapa yang mau percaya? Prinsip saya, kalau bicara melalui mulut, orang bisa meng-counter. Tapi kalau bicara melalui prestasi, itu lebih representatif. Di Indonesia, biaya untuk meyakinkan orang sangat tinggi. Misalnya, biaya untuk meyakinkan projek kadang bisa setahun, berkali-kali presentasi, dsb. Tapi saya tidak melewati proses itu. Saya lebih memilih selama setahun, mengerjakan banyak contoh-contoh chip. Saya sempat diliput juga oleh stasiun TV di Jepang sebagai salah satu orang Indonesia dalam industri chip, dari situ orang mulai memperhatikan. Itu lebih memiliki arti di Indonesia.

Ternyata memang harus seperti itu. Kalau dulu, caranya lain. Kita sempat dapat dana, lalu dana itu untuk beasiswa orang, pembelian alat. Karena orangnya disekolahkan, di lab itu tidak ada yang meng-handle, pas orang-orangnya balik, maintenance-nya juga jadi mahal.

Dalam menjalin kerjasama dengan pihak asing, ada prinsip tertentu?

Prinsip saya, kita jangan hanya dijadikan pasar. Jangan hanya jadi tempat jualan saja. Kita harus diberi peran untuk berkontribusi teknologi. Perusahaan asing di Indonesia ada banyak, tapi kebanyakan jualan. Kalau pun ada engineer, jatuhnya jadi sales engineer, makanya kita tidak mau begitu.

Seberapa banyak lapangan pekerjaan di bidang ini?

Keadaan sekarang ini kasihan sekali, lulusan elektro sangat sedikit yang bisa bekerja di bidangnya. Kalau pun di bidangnya, ilmu yang terpakai sedikit. Karena bidang pekerjaan teknologi seperti di bidang industri komponen atau perangkat elektronika, itu belum ada di Indonesia. Mungkin kita pernah lebih maju waktu dulu tahun 1980-an. Kita sempat punya pembuatan chip di sini. Waktu itu ada yang mau invest, tapi kebijakan Indonesia saat itu tidak memprioritaskan industri hi-tech, tapi lebih pada industri padat karya. Untuk pengembangan industri ini, memang perlu kerjasama antara industri, akademisi, dan entrepreneur yang berani berinvestasi di bidang ini. Karena hi-tech untuk berkembang biasanya butuh 2 tahun, tapi banyak investasi inginnya balik cepat. Entrepreneur jarang yang berpikir untuk investasi teknologi. Padahal, aset terbesar ialah otak para engineer sebagai bagian dari bisnis kreatif.

Dukungan apa saja yang diperlukan?

Pertama, kita perlu funding untuk melakukan projek itu sendiri. Karena butuh biaya besar untuk menjalankan bisnis ini. Karena bisnisnya ialah mass production, sehingga butuh investasi besar. Kedua, kita perlu keberpihakan pemerintah kepada produk lokal, sehingga kita bisa masuk ke situ. Ketiga, kita perlu SDM yang qualified, dan yang mau bekerjakeras di bidang elektronika. Banyak pekerjaan yang tantangannya tidak terlalu besar, tapi jaminan kesejahteraannya jauh lebih tinggi, seperti di industri seluler.

Target yang difokuskan ke depan?

Saya ingin industri chip berkembang di Indonesia. Kampus dalam hal ini Lab IC Design ITB juga bisa berperan banyak. Coba lihat perusahaan seperti HP, Google, Microsoft, itu teknologi asalnya juga berkembang di kampus kan, lalu ada industri yang memasarkannya. Saya pribadi sekarang ini sedang fokus untuk wimax dan digital TV. Tahun 2015, tivi di Indonesia harus digital. Dari tahun sekarang. Wimax, jadi itu teknologi broadband, sehingga kecepatan internet bisa lebih cepat 5-7 kali lipat dari sekarang. Ke depan, ingin juga program PC murah. Contoh sukses bidang saya ialah silicon valley yang termaju di dunia. Kita juga mau bikin seperti itu namanya Bandung High Tech Valley (BHTV). Tapi sekarang wacana itu belum terlalu berkembang. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Synthesis and Formality Verification

July 29, 2009

Synthesis

Sintesis adalah sebuah bagian dalam proses verifikasi yang berfungsi menerjemahkan deskripsi RTL ke dalam implementasi gate level. Salah satu software yang bisa digunakan untuk sintesis adalah Design Compiler yang merupakan bagian dari produk Synopsys. Design Compiler menyediakan optimasi constraint-driven dan mendukung berbagai design style. Software tersebut dapat mensintesis deskripsi HDL menjadi technology-dependent, desain gate-level. Design Compiler dapat mengoptimalkan desain kombinasional dan sekuensial untuk speed, area, dan power, serta mendukung desain flat dan hierarkis.

Sintesis

Gambar 1. Overview Design Compiler

Formality Verification

Formality adalah sebuah tool dari synopsys yang digunakan untuk formal verification. Sedangkan formal verification itu sendiri adalah metode untuk mengecek apakah dua desain mempunyai fungsi yang ekivalen tanpa melakukan proses simulasi. Desain yang pertama berperan sebagai desain referensi (desain ideal), desain yang kedua sebagai desain implementasi yang akan dicek.

Formal verification digunakan untuk mengecek bahwa sintesis sudah benar/menghasilkan fungsi yang sama dengan RTL. Jika tidak menggunakan formal verification dan memilih melakukan simulasi netlist untuk memastikan bahwa netlist itu benar, akan dibutuhkan waktu yang lama dan tidak efisien, apalagi jika ditemukan bug. Oleh karena itu, metode formal verification dapat menyelesaikan masalah ini. Untuk menjalankan formality, kita harus membaca desain referensi dan implementasi dan beberapa library. Kemudian kita harus menge-set top-level design sebagai desain referensi sebelum melanjutkan ke desain implementasi.

Formal1

Gambar 2. Alur pembacaan desain pada formality

Formal2

Gambar 3. Ringkasan proses verifikasi desain

Leda Checking

June 26, 2009

Pada kesempatan Kerja Praktek (KP) di Versatile Silicon, salah satu tugas saya adalah melakukan leda checking terhadap desain Verilog. Apa itu leda? Itulah pertanyaan pertama yang muncul dalam otak saya ketika mendapat tugas itu. Untunglah, ada pembimbing yang selalu membantu jika saya membutuhkan dan tentunya ada Prof. Google yang selalu standby 24 jam. Langsung saja, saya bergegas ke laptop dan berselancar di dunia maya mencari bantuan. Setelah membaca beberapa bahan dan melakukan praktek langsung, akhirnya sekarang sudah sedikit tahu apa itu leda.

Leda adalah sebuah alat pengecek sistem-ke-netlist yang mempunyai prepackaged rule untuk mengecek desain Verilog atau VHDL dengan berbagai aturan desain dan coding standar. Leda mengandung optional specifier tool yang dapat kita gunakan untuk mendefinisikan aturan coding kita sendiri menggunakan VeRSL (Verilog Rule Specification Language) dan VRSL (VHDL Rule Specification Language) macro-based rule programming language untuk Verilog dan VHDL. Leda juga mempunyai fitur komplit API yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan netlist rule pada Tcl atau C untuk dijalankan dengan database desain yang terperinci.

Dengan bantuan leda, kita dapat mengetahui bagian pada coding Verilog yang menimbulkan adanya warning/error. Setelah kita tahu adanya bug tersebut, tugas kita selanjutnya adalah melakukan debugging. Tentunya, ketika kita melakukan debugging, kita juga harus mengerti terlebih dahulu masalahnya (dalam hal ini masalah pada coding Verilog). Debugging sangat penting dilakukan, agar dihasilkan code RTL yang handal sebelum diimplementasikan ke dalam ASIC. Berikut ini salah satu contoh error message dan solusinya:

Error message: VER_2_1_4_2 Use bit-wise operators (&, |, ~) instead of logic operators (&&, ||, !), even in single bit operation expressions.

Solution: Replace logical operator (&&, ||, !) with bit-wise operator (&, |, ~).

Creating Verification Environment Using Shell Scripting

June 18, 2009

Hari ini aku mendapat tugas untuk membuat verification environment menggunakan shell scripting linux. Apaan tuh shell scripting??? Kata itu merupakan kata baru bagiku (meskipun pernah dengar sebelumnya). Karena ini merupakan kewajiban, aku harus mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Langkah pertama, adalah mencari referensi. Kalau sudah ada kata “mencari”, tiada kata lagi selain “google”. Sekarang ini internet (yang biasanya diawali lewat searching di google) merupakan guru yang sangat luar biasa. Segala hal yang kita cari ada di sana terlepas dari benar atau salah.

Dan akhirnya aku dapatkan beberapa referensi diantaranya buku Linux Shell Scripting Tutorial-A Beginner’s Handbook. Dari buku ini aku mulai sedikit memahami apa itu kernel, shell, bagaimana menulis shell script, struktur bahasa shell, fungsi, dll. Walaupun begitu aku masih belum bisa membuat dynamic verification environment including coverage metric. Untuk yang static, sudah berhasil dibuat dengan memanfaatkan contoh yang sudah ada sebelumnya. Karena dalam verifikasi ini digunakan tool modelsim, aku juga harus mengerti bagaimana mengaksesnya via console dan mengerti DO file.

Yang jelas, shell scripting layaknya bahasa pemrograman yang lain. Hanya sintaksnya yang berbeda dan karena console based, jadi harus terbiasa dengan command-command yang ada di linux. Berhubung aku termasuk pemula di dunia linux, jadi untuk command-command tersebut belum terbiasa. Mudah-mudahan hari ini tugas tersebut bisa terselesaikan.

RTL Verification

June 16, 2009

Perancangan Sistem digital tidak bisa terlepas dari beberapa alur proses yang harus dilaluinya. Berikut ini adalah flowchart perancangan sistem digital.

Dari flowchart tersebut bisa dilihat, bahwa memang proses verifikasi merupakan bagian yang menghabiskan waktu yang paling banyak (the most consuming time) dalam proses perancangan. Verifikasi itu sendiri terdiri dari beberapa jenis metode, diantaranya functional, assertion, coverage, formal dll.  Ada beberapa tool yang bisa digunakan, tapi yang kita pakai adalah ModelSim.

Coverage metric digunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan pada total usaha verifikasi kita dan untuk membantu tim desain dalam memprediksi waktu optimal peluncuran desain. Ada beberapa jenis coverage metric, yaitu:

  1. Statement/Line Coverage, digunakan untuk mengukur berapa banyak line/statement yang telah dieksekusi selama simulasi.
  2. Branch/Decision Coverage, digunakan untuk mengukur coverage of if and case statement (percabanngan) yang mempengaruhi alur kontrol dari eksekusi HDL.
  3. Path Coverage, digunakan untuk mengukur berapa banyak tiap jalur (kombinasi unik antara statement dan branch) dieksekusi ketika ada stimulus.
  4. Condition and Expression Coverage, digunakan untuk memperluas branch coverage dengan cara mem-break down kondisi ke dalam elemen yang membuat hasilnya benar atau salah
  5. Toggle Coverage, digunakan untuk menghitung dan mengumpulkan perubahan di dalam state pada titik/tempat tertentu.

Sumber:

Principles of Verifiable RTL Design (Book) by Lionel Bening and Harry Foster, Hewlett Packard Company.

RTL Verification (Lecture) by Subhasish Mitra and Ofer Shacham, Stanford University.

ModelSim SE Tutorial and ModelSim Code Coverage (Manual) by Mentor Graphics Corp.

Verilog HDL : A Guide to Digital Design and Synthesis (book) by Samir Palnitkar, SunSoft Press.

Prof. Google and etc.

Menempuh Studi di Luar Negeri

May 30, 2009

Setelah lulus S1 akan kemanakah kita? Sebagian dari kita ada yang memilih langsung bekerja (profesional), sebagian lagi memilih jalur wirausaha (entrepreneur), dan yang lainnya memilih melanjutkan studinya. Walaupun masih banyak kemungkinan yang lain seperti langsung menikah, membantu bisnis orang tua, dan lain-lain, tapi sebagian besar orang yang saya tanyai menjawab satu di antara 3 pilihan yang saya sebutkan di atas.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang salah satu opsi setelah lulus S1: melanjutkan studi ke luar negeri. Kenapa ada imbuhan luar negeri? Pertama, secara umum melanjutkan studi di luar negeri lebih susah dibanding di dalam negeri. Kedua, banyak orang yang tidak mempunyai gambaran kuliah di luar negeri. Ketiga, banyak orang yang berminat kuliah di luar negeri. Dan beberapa alasan lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. So, apa sih yang harus kita persiapkan jika ingin melanjutkan studi di luar negeri?

Menurut beberapa sumber yang saya dapat (dosen, teman, website, dll), kurang lebih ada 5 poin penting yang harus kita persiapkan, yaitu:

1. Surat Rekomendasi

Sebaiknya kita meminta surat rekomendasi kepada dosen yang sudah dikenal di luar negeri (untuk lebih memudahkan), namun hal itu bukan menjadi suatu kewajiban. Bisa saja transkrip kita biasa atau bahkan jelek, tapi jika kita direkomendasikan oleh dosen yang terkenal, hal itu tidak menjadi masalah.

2. Sertifikat TOEFL/IELTS

Biasanya skor TOEFL yang diminta adalah minimal 550 untuk Paper-Based Test (PBT), 79 untuk Internet-Based Test (IBT), atau 6.0 untuk IELTS. Untuk jurusan/universitas tertentu mensyaratkan skor yang lebih besar dari itu (terutama di USA). Ini juga merupakan hal yang penting karena berhubungan dengan syarat awal masuk suatu universitas.

3. Letter of Motivation atau Statement of Purpose

Ini merupakan salah satu hal terpenting dalam proses seleksi penerimaan program S2 atau S3 karena inilah yang menggambarkan apa yang akan kita lakukan di universitas tersebut. Sebaiknya ditulis dengan singkat, jelas, dan padat (tidak terlalu bertele-tele).

4. Transkrip Nilai

Jangan khawatir kalau nilai kita pas-pasan karena transkrip bukan merupakan hal yang terpenting. Bisa saja nilai kita minim, tapi kalau persyaratan yang lain kita bagus, maka peluang lulus seleksi akan sangat besar. Namun, akan lebih baik lagi jikalau nilai dalam transkrip kita memuaskan.

5. Test Masuk

Sebagian universitas mengharuskan mengambil tes masuk (GRE, GMAT, dll). Soal yang diberikan disesuaikan dengan jurusan yang akan kita ambil nantinya, tidak peduli S1 kita dari jurusan apa. Sebagian yang lain, tidak mengharuskannya.

Berikut ini saya berikan contoh cuplikan singkat persiapan yang harus dilakukan agar bisa diterima di Stanford University, USA:

Guide to Graduate Admission, Stanford University, 2009-10

Application Preparation

  1. Request that your transcripts be sent directly to the department to which you are applying.
  2. Prepare a list of three recommendres; ask them to submit a letter of recommendation on your behalf before your program deadline.
  3. Prepare a statement of purpose.
  4. If you have not yet taken the GRE General Test and, if applicable, GRE Subject Test, TOEFL, and/or TSE, arrange to take them in time for the Educational Testing Services (ETS) to report your scores by your program’s deadline. If you have taken your test(s), request ETS to send official scores to Stanford University. The Stanford University score recipient number is 4704. Individual department code numbers are not used.
  5. Stanford will communicate with you primarily via email; it is therefore essential that you have reliable email account that you check on a regular basis.
  6. Application materials, once submitted as part of your application, become the property of Stanford University. Materials will not be returned, and copies will not be provided for applicants nor released to other institutions. Please keep a copy for your records.

Untuk masalah beasiswa dan masalah keuangan, Insya Allah akan saya tulis di kesempatan lain. Tunggu saja postingan selanjutnya.

Masih berkutat dengan UAS

May 26, 2009

Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak mosting, akhirnya sekarang mosting lagi. Kebetulan ada akses internet gratis di kosan temen (sebut saja namanya dipta, hehe…).  Mau nulis apa ya? Bingung, dan mungkin hal inilah yang kadang-kadang membuatku enggan untuk mosting. Padahal sering terbesit atau terlintas ide-ide yang kayaknya bagus untuk ditulis di blog tapi pas sudah di depan komputer, seakan-akan ide itu begitu sulit untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Kayaknya aku harus sering latihan menulis sehingga terbiasa dan terasa idenya langsung dalam bentuk tulisan.

Sekarang baiknya mending belajar/fokus ke UAS dulu, cuma tinggal dua mata kuliah yang belum UAS. Sistem Embedded dan Devais Semikonduktor! Hanya itu, setelah itu aku bisa “sedikit bernafas” lega dan bisa menikmati hal-hal lain di luar akademik. Yah, mungkin itu saja awal kembalinya aku menulis di blog, insya Allah ke depannya pengin menulis banyak hal terutama di bidang pendidikan: baik itu sharing ilmu tentang elektro yang sudah kudapatkan maupun kondisi pendidikan di negeri ini. Hal ini karena memang aku sangat tertarik dengan dunia pendidikan dan sedikit (atau mungkin banyak) prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

Jujur Ajur, Curang Menang

June 18, 2008

Sedih sekali rasanya mendengar berita-berita tentang kondisi pendidikan di negeri ini. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, fasilitas yang tidak merata, sampai pada kebocoran soal/jawaban UAN. Kapan Indonesia akan maju kalau pendidikannya saja masih seperti itu. Padahal kita tahu bahwa ilmu (pendidikan) merupakan syarat utama untuk memajukan bangsa.

Jujur Ajur, Curang Menang

Kalimat seperti itu pernah terdengar sewaktu saya masih di SMA. Kalimat itu dijadikan semboyan bahwa kalau ingin menang (nilai bagus), kita harus curang. Kalau kita jujur akan sangat susah mendapat nilai yang memuaskan. Namun, waktu itu masih sangat jarang atau hanya digunakan oleh beberapa oknum saja.

Semakin hari pernyataan itu sepertinya semakin cocok menggambarkan kondisi pendidikan di sebagian besar institusi pendidikan (baik itu SD, SMP, SMA, bahkan PT). Namun, saya tekankan bahwa tidak semuanya seperti itu, masih ada yang masih idealis memegang nilai-nilai moral.

Contoh yang paling nyata menggambarkan kondisi itu adalah bocornya soal/jawaban UAN. Masih mending kalau yang bocor adalah soalnya, paling tidak siswa mengerjakan dengan kemampuannya sendiri. Yang parah adalah bocor jawabannya, siswa tidak perlu susah-susah mengerjakan soal, tinggal nyalin jawaban saja. Cuma butuh beberapa menit, masalah selesai. Saya bisa berbicara seperti ini karena saya sudah menanyakan langsung pada siswa beberapa sekolah di beberapa daerah. Bahkan ada yang ekstrim, sang guru malah turut membantu.

Saya paham bahwa ada kekhawatiran yang besar baik dari siswa itu sendiri, orang tua siswa dan juga pengurus sekolah. Siswa khawatir tidak lulus ujian, tidak bisa melanjutkan studinya, akibatnya tidak bisa mendapat pekerjaan. Orang tua khawatir anaknya tidak lulus dan mereka akan merasa sangat malu dan merasa gagal mendidik anaknya. Begitu juga pengurus sekolah yang khawatir kalau-kalau banyak yang tidak lulus, yang akhirnya akan mencoreng nama sekolah tersebut. Untuk menghindari semua itu, segala cara ditempuh termasuk membocorkan soal+jawaban.

Kalau tiap tahun kondisinya seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Apakah siswa yang tidak serius belajar, orang tua yang kurang memberikan perhatian, sekolah yang kurang mampu mendidik siswanya? Atau justru sistem pendidikan di Indonesia yang memaksa mereka melakukan hal-hal tersebut? Marilah kita semua introspeksi diri, mencoba merenungi dimanakah letak kesalahan itu sebenarnya.