Archive for the ‘Kampus’ Category

Wajah Baru Perpustakaan Pusat ITB

November 20, 2009

Perpustakaan ITB dalam perjalanan waktu telah mengalami beberapa kali perbaikan. Yang saya tahu, awalnya berwarna putih, kemudian biru, dan sekarang menjadi putih kembali.

Pertama kali saya masuk ITB, sama sekali tidak mengira kalau gedung yang satu itu adalah perpustakaan pusat. Melihat secara sekilas, lebih mirip seperti toilet berukuran raksasa. Ya, mungkin kesan itu ada karena penggunaan keramik pada dinding perpus yang mirip dengan keramik pada sebagian besar toilet yang saya jumpai. Apalagi ditambah dengan banyaknya keramik yang sudah mengelupas/retak dan berlumut, menambah kemiripan di antara keduanya.

Sudah sejak lama saya bertanya-tanya kapan perpus akan diperbaiki. Padahal banyak orang yang sudah mengharapkan adanya perbaikan, baik itu gedungnya maupun fasilitas di dalamnya. Saya mengira mungkin karena belum ada alokasi dana yang cukup untuk ke arah sana. Ya, wajarlah melihat kondisi perpus tersebut, tidak terlalu banyak mahasiswa yang betah berlama-lama di perpus. Jangankan berlama-lama, banyak yg datang pun sudah suatu prestasi tersendiri.

Alhamdulillah, dalam beberapa minggu ke depan kita akan melihat wajah baru perpus ITB yang mudah-mudahan bisa menarik lebih banyak mahasiswa. Sayang sekali jika perpus yang bisa dibilang lengkap (skala indonesia), tidak dimanfaatkan dengan baik. Banyak sekali sumber-sumber ilmu di sana, mulai dari jurnal, skripsi (TA), tesis, buku teks, buku bacaan umum, dll. Walaupun sekarang sudah ada internet dan google, saya rasa perpus tetap menawarkan manfaat lain yang tidak bisa didapatkan dari internet.

Perpustakaan Pusat ITB jaman dulu

Perpustakaan Pusat ITB sebelum diperbaiki

Perpustakan Pusat ITB dalam perbaikan

Gempa Guncang ITB

September 2, 2009

Suasana HME sama seperti biasanya. Ada yang bermain ping-pong, ada yang ngobrol-ngobrol, ada juga yang bermain komputer. Tidak ada yang beda. Namun, semua itu dengan sekejap berubah menjadi keramaian yang tidak seperti biasanya. Ya, tepatnya jam 3 sore tadi. Gempa yang tidak pernah terjadi sebelumnya (sejak sy mulai kuliah di sini), tiba-tiba datang menyapa. Gempa itu terasa kuat sampai-sampai tiang penyangga gedung labtek 8 yang besar terlihat bergoyang. Sebagian gedungpun retak. Tidak heran jika semua orang keluar mengamankan diri, entah itu yg lagi main pingpong, ngobrol, main komputer, ato yang kuliah. Sempat ngerasa deg-gegan soalnya sy dan sebagian besar orang berlindung di ruang terbuka antara HME dan HMIF yang bisa dibilang kecil banget. Setelah bertahan dalam kecemasan, alhamdulillah akhirnya gempa itu reda.

Ketika berjalan ke luar gedung labtek 8, terlihat banyak orang yg berkumpul di ruang terbuka. Ternyata hampir di semua halaman/ruang terbuka gedung ITB dipenuhi orang-orang yang berlindung diri. Banyak dari mereka yang keluar dari ruang kuliah. Mereka terlihat masih ragu untuk kembali masuk ke gedung kuliah, takut masih ada gempa susulan. Sy menduga ada beberapa kuliah yang dibatalkan di jam jam itu. Sy terus berjalan ke utara, ke arah PAU. Ternyata di depan PAU pun terlihat cukup banyak orang yang keluar gedung. Walaupun beberapa lama kemudian sebagian orang tersebut kembali ke gedung PAU. Sy sendiri melanjutkan langkah ke lantai 4 gedung PAU untuk melanjutkan pekerjaan. Yah, inilah pengalaman pertama sy menghadapi gempa yang bisa dibilang besar di ITB. Semoga tidak banyak kerusakan yang terjadi.

Sebuah Cerita : Stanford University

January 1, 2009

Leland Stanford Junior University, lebih dikenal dengan Stanford University atau Stanford adalah salah satu universitas swasta yang terbaik di dunia. Stanford terletak kurang lebih 37 mil (60 km) sebelah tenggara San Francisco dan kurang lebih 20 mil (32 km) sebelah barat laut San Jose di Stanford, California. Stanford berdekatan dengan kota Palo Alto di Silicon Valley.

Selain tertarik melanjutkan studi ke sana, saya juga tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Stanford University. Salah satu yang menarik adalah cerita sejarah dibangunnya universitas tersebut meskipun saya sendiri tidak bisa memastikan kebenarannya (saya hanya pernah membaca dari salah satu artikel). Mau tau ceritanya, silakan baca artikel di bawah ini.

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar dan suaminya yang berpakaian sederhana dan terlihat usang, turun dari kereta api di Boston. Mereka berjalan dengan malu-malu menuju kantor pimpinan Harvard University dan meminta untuk bertemu. Sang sekretaris langsung mendapat kesan bahwa orang kampung dan udik seperti ini tidak ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu dengan pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.

“Beliau hari ini sibuk”, sahut sang sekretaris.

“Kami akan menunggu”, jawab sang wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Namun ternyata tidak, sang sekretaris itu pun mulai frustasi dan akhirnya memutuskan untuk melaporkannya kepada sang pimpinan.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi” katanya pada sang pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka, tetapi dia tidak menyukai ada orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya. Sang pimpinan Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini.”

Sang pemimpin Harvard tidak tersentuh, dia bahkan terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Sang pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.” Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk. Wajah sang pemimpin Harvard tampak kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalan ke Palo Alto, California. Kemudian mereka mendirikan sebauh universitas yang menyandang nama anak mereka, sebauh peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.