Archive for June 26th, 2009

Leda Checking

June 26, 2009

Pada kesempatan Kerja Praktek (KP) di Versatile Silicon, salah satu tugas saya adalah melakukan leda checking terhadap desain Verilog. Apa itu leda? Itulah pertanyaan pertama yang muncul dalam otak saya ketika mendapat tugas itu. Untunglah, ada pembimbing yang selalu membantu jika saya membutuhkan dan tentunya ada Prof. Google yang selalu standby 24 jam. Langsung saja, saya bergegas ke laptop dan berselancar di dunia maya mencari bantuan. Setelah membaca beberapa bahan dan melakukan praktek langsung, akhirnya sekarang sudah sedikit tahu apa itu leda.

Leda adalah sebuah alat pengecek sistem-ke-netlist yang mempunyai prepackaged rule untuk mengecek desain Verilog atau VHDL dengan berbagai aturan desain dan coding standar. Leda mengandung optional specifier tool yang dapat kita gunakan untuk mendefinisikan aturan coding kita sendiri menggunakan VeRSL (Verilog Rule Specification Language) dan VRSL (VHDL Rule Specification Language) macro-based rule programming language untuk Verilog dan VHDL. Leda juga mempunyai fitur komplit API yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan netlist rule pada Tcl atau C untuk dijalankan dengan database desain yang terperinci.

Dengan bantuan leda, kita dapat mengetahui bagian pada coding Verilog yang menimbulkan adanya warning/error. Setelah kita tahu adanya bug tersebut, tugas kita selanjutnya adalah melakukan debugging. Tentunya, ketika kita melakukan debugging, kita juga harus mengerti terlebih dahulu masalahnya (dalam hal ini masalah pada coding Verilog). Debugging sangat penting dilakukan, agar dihasilkan code RTL yang handal sebelum diimplementasikan ke dalam ASIC. Berikut ini salah satu contoh error message dan solusinya:

Error message: VER_2_1_4_2 Use bit-wise operators (&, |, ~) instead of logic operators (&&, ||, !), even in single bit operation expressions.

Solution: Replace logical operator (&&, ||, !) with bit-wise operator (&, |, ~).

Cinta Tanpa Definisi

June 26, 2009

Seperti angin memabadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap, ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu, ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua menjadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm dalam -The Art of Loving- tidak tertarik -atau juga tidak sanggup- mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya. (Serial Cinta, Anis Matta).